Archive for March, 2016


Surat Pucuk Jati Wa Ode Nuka Kepada Paman Yones Koanfora Pellokila; Catatan Kedua Perjalanan Ke Kontu

Paman, hari ini temanmu sipejalan itu singgah lagi. Kukira ada dua mata seperti sihir meluruhkan hati, hingga pada perjalanan panjangnya, ia tersandung disini. Matahari telah meredup sore ini dan dada-dada penuh kerinduan membekabnya dalam. Lambaian dan peluit kapal yang merapat di pelabuhan menggamit kesadaran. Apakah kegelisahan yang datang, ataukah perantau yang sepi membawa cerita indah surau-surau persinggahannya. Pada punggungnya bergantungan beberapa buku, komik dan baju-baju untuk ibu. Sepanjang malam kuurai ketakjupan pada lembar demi lembar, lembaran donal bebek, miki dan banyak lagi. Sejenak rasa hangat mendekat dan aku lupa lengkingan lonceng perang, penjaga tanah kontu. Tapi semuanya tentulah tak merubahku, tetap saja, aku Wa Ode, Nuka sigadis kecil dari Kontu.

Paman, sepanjang malam banyak hal yang kami bahas. Sementara lampu petromax, satu-satunya di kawasan ini mulai meredup kehabisan minyak. Mata kami tajam membaca koran pagi yang memberitakan permintaan pengusiran dari kehutanan terhadap kami, karena hakim telah memutuskan tanah ini tanah negara katanya. Karena itu, polisi harus menggusur kami. Aku tak mengerti.

Paman, ketika tanah ini menjadi tanah negara, apakah kami serta merta kehilangan hak hidup ?. Kalau begitu, hiduplah negara ini tanpa kami !. Karena sesungguhnya kami diantara ada dan tiada.

Sebagai orang-orang tak bernama di negeri ini, kami semakin paham bahwa hukum tidak bekerja diruang hampa. Sebagai sebuah produk politik, hukum telah bekerja untuk mengusir kami, karena kami bukanlah pemegang kekuasaan politik. Sebagai ruang sosial, jati ini hanyalah sebagai penanda pertarungan hukum kami dan hukum negara dan pada titik itulah ia menjadi raksasa yang menelan hukum kami, hingga kami telanjang tak berbenteng.

Apakah kepastian hukum itu ?. Apakah kepastian hukum itu adalah pemenjaraan sebagai akibat mencangkuli tanah hutan. Karena seperti itulah yang tergores dalam naskah Undang-Undang Kehutanan. Apakah kepastian itu telah berubah menjadi hantu-hantu yang menjaga kawasan tak berkayu. Apakah kepastian itu boleh juga berasal dari kami sebagai pewaris syah tanah rebutan ini. Sebagai alat rekayasa sosial, hukummu akan menjadikan kami komunitas yang terusir.

Malam telah meninggi paman. Tetapi adreanalinku untuk mendebatkan hukum kalian, membendung kantukku. Desau angin dingin yang menggaruk dinding bambu rumahku seperti mengantarkan DR. Sulistyo Irianto ada disini. Aku saksikan senyum tipisnya bergumam pada piring-piring bekas ikan bakar, ikan asin dan sayur kelor, Nuka…, mitos-mitos State Law telah terhampar di halaman. State Law sebagai hukum yang terintegrasi dan sistematis, dengan Law inforcementnya berlangsung baik, berlaku adil (tidak memihak), Up to date, dapat menyelesaikan berbagai permasalahan hukum masyarakat dan dapat mengakomodasi the other laws ternyata hanya dongeng semata dan dongeng itu paman, lebih menakutkan dari dongeng tentang penyerangan para lanun lautan ke negeri kami yang setiap malam di ceritakan oleh ibuku.

Paman, La Kundofani si Kino Watoputhi, si penolong itu telah kehilangan silatnya. Pertarungan telah berakhir pada pemaknaan keadilan dan makna itu menjadi mekanis dan milik para pemenang. Pisau kecil penuh bisa, tak lagi mempan membunuh musuh. Sebagai monster yang lahir dari rahim positifisme, secara nalar deduktif silogisme atau deduktif mekanik, hidup kami diukur sepanjang Undang-Undang.

Seperti kata paman Rikardo, Hukum adalah ius yang dituliskan, dipositifkan, diconstitutumkan. Hanya ius yang dipostifkan dianggap sebagai hukum karena bisa ditangkap dengan panca indera dan karena ia dituliskan. Ius yang tidak dituliskan (lege), bukanlah hukum melainkan norma positif atau bukan hukum (unlaw) . Karenanya hukum kami, hukum adat kami telah menjelma menjadi semak dipinggir jalan. Tentu harus dirambah agar jalan mainstreem itu terang benderang dan menyilaukan kami.

Paman, sebagai penjajah, Belanda ternyata lebih baik. Sebagai perampok kedaulatan, ia cukup baik mengakui hukum kami. Meskipun itu hanyalah penyembunyian dari ketidakmampuan administratif meraka. Tahukah paman, terdapat banyak catatan di negeri ini, ketika penjajah meminjam tanah secara santun pada kami, barulah setelah itu mereka mendapat perlindungan hukum negeri kolonial untuk melindungi mereka berkebun atau menambang.

Tahukah paman seorang JA Papers harus membayar sewa tanah pada Datuk Basa Mangun untuk NV Boekit Gompong dan setiap bulannya dengan menunggang kuda putih, sang datuk dengan gagahnya sebagai penguasa ulayat meminta sewa tanah. Tahukah paman pada surat peminjaman tanah itu, JA Paper tidaklah bertanda tangan, karena ia dianggab tidak setara dengan penguasa tanah. Tetapi kenapa kemudian tanah erfpach itu di konfersi menjadi tanah negara.

Paman, kemerdekaan telah berniat menjadi mesin yang menjuice kami menjadi masyarakat Indonesia seutuhnya. Mungkin seperti juice diwarungmu yang mencampur adukakan mangga dengan manggis ditambah jerus dan entah essen apa lagi. Demikian juga hukum kami telah di juice, disentralisasikan menjadi satu ditangan negara, menjadi hukum negara yang superior yang harus berlaku, mengalahkan hukum-hukum yang telah kami warisi.

Sebagai bentuk baru dari ke Indonesiaan kami, maka salah satunya hukum pertanahan dinyatakan berakar dari hukum adat dan kami diakui sepanjang kami masih ada. Karena nasionalisme tak menghendaki lagi aura kolonialisme dan hukum kami secara merata telah mendapat cap feodal sehingga dualisme itu mesti diakhiri.

Tetapi ketika ulang tahun negeri ini telah sampai pada deret angka enam puluh, pluralitas itu tak hangus menjadi abu. Meskipun banyak undang-undang telah lahir demi mereproduksi kami menjadi masyarakat Indonesia dalam satu bentuk yang diinginkan kekuasaan, kami tetap ada. Dan hari ini ketika kearoganan kekuasaan runtuh, pluralitas itu muncul satu persatu mengoyak bungkus, seperti tulang konro dibungkus daun talas.

Apakah negeri ini telah gagal membentuk ke Indonesiaan paman?. Barangkali tidak, kami tetap mencintai negeri yang di bangun dengan darah dan air mata ini. Tetapi satu yang harus dicatat, negeri ini nyaris gagal mengelola pluralitas secara elegan sehingga semua orang bisa hidup berdampingan dengan damai dan yang terpenting perspektif keadilan yang dipaksakan, menorehkan luka yang semakin dalam pada hati kami.

Paman, sebagai komunitas independen, kami telah kehilangan identitas dan ketahanan. Seperti yang Uda Yando katakan, kami telah ”Abih Tandeh”. Mungkin aku hanya bisa menumpang sumpahan pada UU No. 5 Tahun 1974 tentang pemerintahan desa. Tapi taklah berguna marah pada setumpuk kertas, karena aku akan menuntut para pembuatnya dan para pembuat undang-undang lain. Sebagai ahli hukum atau merasa seolah-olah ahli hukum sebgaian dari mereka telah demikian setia melayani kekuasaan sampai hari ini.

Pada pandangan sederhanaku, sebagai ahli hukum tentulah ahli membedakan mana yang baik dan buruk. Tetapi bisa membedakan saja tidaklah cukup, karena tentulah ia harus bersikap apabila menurutnya jika ia membuat itu, akan terjadi sesuatu yang buruk. Tetapi ternyata tidak demikian paman, demikian lama sebagian para intelektual itu menjadi penyokong kekuasaan, dan sebagian lain yang bertahan terseok-seok terpinggirkan. Tapi jaman keras itu ternyata lebih baik paman, dimana orang hanya tergolong pada pendukung dan tidak mendukung. Namun hari ini, sangat sulit dibedakan mana yang mendukung dan mana yang tidak, karena wajahnya berubah-ubah. Mungkinkah karena banjirnya sinetron paman ?.

Malam semakin larut juga paman. Ini kokok ketiga ayam di kandang. Perempuan cantik itu telah kelelahan, lihatlah segala rahasia berlari pada dengkurnya. Baiklah, kita lanjutkan paman. Dalam situasi interaksi state law dan other law itu paman, kami telah menjadi bulan-bulanan pada situasi weak legal pluralism. Pada posisi ini, seperti kata Griffiths sebagai bentuk lain dari sentralisme hukum karena meskipun mengakui adanya pluralisme hukum, tetapi hukum negara tetap dipandang sebagai superior, sementara hukum-hukum yang lain disatukan dalam hierarki di bawah hukum negara, kami telah sampai dideretan angka enampuluh dikalahkan paman.

Paman, sudahlah mungkin saja kau bosan berteori. Kalau begitu jika kau tanyakan padaku, hai…Nuka…bagaimanakah tanah sengketa ini bisa diselesaikan ?. Maka aku akan jawab begini. Jikalah hukum memang masih mungkin berjalan sebagaimana cita-citanya, maka tanah kontu harus ada pada kami. Sebab, selain kamilah pewaris syah dari La Kondofani Si Kino Watu Putih, pada kami juga para berada orang-orang tak bertanah. Karena itulah negara selain mengakui hak adat kami, tetapi juga sekaligus membagi-bagikan tanah ini pada tetangga-tetangga kami yang tak bertanah.

Apabila kami diakui sebagai masyarakat adat pemegang otoritas atas tanah ini, apakah itu melalui perda, maka kami akan membagikan tanah ini kepada saudara-saudara kami. Apabila bentangan tanah ini betul ditunjuk sebagai kawasan lindung, tolong evaluasi penunjukan itu, sebab tak ada stupun pohon ada disana dan tidak layak ada hutan lindung pada perkampungan kami yang hanya lima menit saja dari pusat kota, dari rumah bupati kami. Setelah di evaluasi, turunkan status kawasan ini menjadi Hutan Produksi Konfersi (HPK) dan biarkan kami berumah dan berkebun disini. Tetapi jika seperti yang diberitakan koran bahwa tanah ini adalah tanah negara, maka biarlah kami berurusan dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN). Agar kami bisa meminta hak atas tanah melalui program land reform (land distribution). Tetapi itu semua baru akan terjadi paman, setelah kami merebut sendiri hak kami. Karena sepertinya tidak akan ada hak tanpa berjuang, karena ternyata konstitusi baru bekerja, setelah melihat darah kami tumpah.

Paman, aku ingin tidur. Kegelisahanku pada hukum berhenti sementara pada titik di akhir suratku. Mungkin demikian juga kau. Esok pagi ketika matahari yang sama datang ketempatku dan tempatmu, kita akan berhamburan menyongsong hidup. Aku akan kesekolah lagi dengan tas baru hijau yang baru saja kau kirimkan. Kaupun akan berkutat dengan ceker, mengolahnya dan menjualnya. Meskipun pada kedatangan kali ini kau tetap saja tidak ada, tapi sesungguhnya kau ada di hati kami. Yakinlah, karang itu tetap berdiri kokoh di teluk Raha, tak rubuh dihempas ombak, menanti keadilan dan rasa aman.

Jakarta 8 September 2006

Tulisan ini diabdikan bagi anak-anak korban konflik tenurial kawasan hutan & konflik agraria lain yang terpaksa menyimpan kenangan penggusuran, pembakaran & kekerasan yang menimpa keluarganya. Ada 40-60 Juta orang hari ini hidup dalam kawan hutan yang tenurialnya tidak jelas. Mereka hanya berarti sampai angka statistik saja.

Advertisements

Surat Serat Jati Wa Ode Kepada Paman Yones Koanfora Pellokila; Sebuah Catatan Pembuka Perjalanan Ke Kontu

Paman Yones, aku tulis surat ini jauh pada tempat yang hampir terlupakan, ketika ada temanmu datang. Lelaki sipejalan yang gelisah itu datang dari jauh, tempat siang tertikam malam, membawa senja ketika kapal merapat hanya untuk beberapa menit dan kemudian peluit keberangkatan segera berbunyi. Tiang-tiang pelabuhan dan tumpukan pohon jati tak bernama, menyapanya. Mungkin saja ada cinta yang memanggilnya pada bumi gersang tempat darah pernah tumpah, karena dia juga datang dari negeri yang tanahnya terampas. Aku tak peduli !.

Kerinduanku padamu mengalahkan segalanya, meskipun ada lagi perempuan asing disisinya, mukanya mengelupas terpanggang matahari. Perempuan yang bersilat demi kami di antara rimba hukum, aku tak peduli. Karena hukum bagi kami telah berubah berwajah polisi, satuan polisi pamong praja, para preman dan penjara. Betapa mengerikannya paman. Adakah lagi masa ketika aku berlindung pada bingkai kacamatamu dan lautan kata-kata yang menyadarkan dan membangunkan yang tertidur.

Paman Yones, ingatkah padaku, aku Wa Ode yang menatap asing ketika kau datang. Aku bukanlah “Perempuan Berbaju Biru” yang menyihir kesadaran akan penindasan, perempuan berbaju biru yang memekik, seperti mantera di masa lalu, kita orang tak bertanah !. Tetapi aku hanyalah gadis kecil yang tersipu penuh rasa ingin tau, muka merah padam terbakar matahari, karena tidak ada lagi tajuk-tajuk jati yang menyaring mentari ditanah Kontu.

Paman, aku tulis surat diatas pokok-pokok bekas pohon jati, berharap sampai padamu meskipun pak pos tidak akan pernah datang, karena hampir seribuan lebih yang tinggal bersamaku, tidak tercatat di kabupaten sebagai penduduk Kontu. Aku bertanya-tanya, kenapa kami dianggab tidak ada. Aku mencuri-curi dengar pembicaraan ibu dengan paman-paman yang lain, didalam peta tempat tinggalku adalah kawasan lindung yang harus kosong dari ladang-ladang kami, katanya.

Paman Yones, aku ingin sampaikan, aku telah naik kelas dengan nilai PPKN delapan lebih, nyaris sembilan. Sebagai anak orang-orang bermandi keringat, para pengolah karang dan batuan menjadi jagung, ubi dan pisang, kukira aku teramat pancasilais. Aku hapal sekali sila pertama sampai sila kelima, sehingga guru memberikan padaku angka itu. Tetapi sila nyaris tak bermakna ketika berada pada posisiku. Meskipun aku terlalu kecil untuk paham bagaimana wajah kekuasaan, tetapi akulah penyaksi ketika rumah-rumah kami dibakari, pagar-pagar ladang direbahkan dan pohon-pohon pisang kami bertumbangan ditebas. Ketika ibu, bapak dan yang lain berusaha mempertahankan pokok-pokok jagung dan tanaman lainnya, aku juga penyaksi pukulan-pukulan aparat singgah ditubuhnya.

Sebenarnya pada saat itu aku ingin tertawa paman, melihat kepala ibu benjol-benjol, tetanggaku pingsan dan kepala Paman Ihlas mengucurkan darah dipukuli. Semua terasa lucu bagiku, kenapa ibu tidak mengajak “Power Ranger” atau “Dora Emon” atau “Satria Baja Hitam”, membantunya menghadapi para penyerang. Katanya “Power Ranger” atau “Dora Emon” atau “Satria Baja Hitam” sering bertandang kerumah-rumah aman dan hangat ditempatmu. Ia membantu yang lemah melawan kezaliman disoraki tawa senang anak-anak yang lebih beruntung dariku. Sayangnya aku tidak seperti mereka.

Seperti yang paman pernah lihat, rumahku hanyalah berdinding anyaman bambu, beratap ilalang dengan lobang-lobang besar tempat angin lalu lalang, tidak ada listrik dan kamar mandi yang wangi. Tidak ada televisi yang dapat mengundang “Power Ranger” datang. Bahkan komik pertama yang aku miliki, paman tau judulnya ?. Judul komikku “Hukum Kami Hukum Adat” yang setiap sore ketika menanti ibu pulang dari ladang, aku baca berulang-ulang. Aku akan bercerita pada semua orang di kota, bahwa aku juga punya komik, meskipun bukan komik jepang dan korea yang katanya banyak di kerubungi anak-anak di toko buku.

Tetapi dirumah itulah harap terbangun dan hidup bertarung. Kami tidak mengeluh meski kami diantara ada dan tiada. Kami makan apa yang diberikan tanah ini dan kami tertawa, bercanda, berlarian hingga pokok-pokok Jati membuatku terguling. Begitu juga kami lewati malam-malam panjang meski tak ada kepastian, seperti malam ini paman, saat ini bulan merangkak naik, dengarlah sayup tembangku. Berangkai-rangkai doa membubung ke awan, seperti bintang-bintang yang berarak mengantarkan harap pada tuhan. Aku lagukan tentang masa depan yang indah sebagai pengantar tidur adikku La Ode “sibajingan kecil”. Lagu itu menelisik malam diantara pokok-pokok jagung, kacang tanah dan rumpun pisang. Sesaat keheningan terusik lirih suaranya, seperti mantera mengundang kantuk.

Malam ini paman, teramat dingin, angin malam menembus bilik bambu, adikku menggeliat kedinginan. Kami hanya punya kain lusuh yang pernah mengendong generasi demi generasi sebagai pembungkusnya. Beberapa jam yang lalu, sore jatuh ditekuk teluk Raha. Dari ketinggian potongan jati pagar ladang, aku menatap jauh kelautan. Inginnya aku berlayar, seperti penumpang kapal yang hilir mudik dan aku akan bertanya pada setiap orang kenapa api membakar gubuk-gubuk kami dan menjadi mimpi buruk yang tak pernah usai. Mengapa ibu dan bapak mesti diusir ?.

Salahkah aku paman ketika menyimpan rasa ingin pada tunggul-tunggul jati dan hamparan ladang, tentang sekolah impianku. Tentang rasa aman dan makan yang cukup. Mungkinkah paman, aku yang dibesarkan dengan nasi jagung dan sayur daun kelor, tanpa televisi, komik dan mainan bisa melihat kota. Aku ingin bersekolah tinggi, katanya dengan bersekolah tinggi dapat menolong saudara-saudaraku. Tetapi katanya hari ini sekolah itu hanya untuk orang kaya.

Untuk itu aku ingin menabung paman, di celengan bambu ?. Bukankah menurut ibu guru hemat itu pangkal kaya. Tetapi ibu jarang sekali memberikan uang jajan, karena ibu dan bapak tidak berladang dengan aman, hingga tidak ada yang bisa dijual dari tanah kami. Bahkan kalaupun ada, tidak ada yang berani membeli sayur-sayur kami, sayur-sayur yang tumbuh diatas konflik, sayur-sayur yang disiram dengan air mata para pembangkang.

Paman, pada temanmu yang ”merana” bersama saudara-saudaraku di halaman, aku titipkan bulan yang berhenti mendaki dan tergantung diatas kontu. Segala luka dan kesakitan terpanggang pada bara ”tunuha”. Begitulah nenek moyang kami mengajarkan berbagi dalam desau angin. Kalaulah ada air mata menetes diantara mereka, tapi ia melentik, bukanlah karena kesedihan orang-orang yang tak diinginkan, tetapi kasih perjuangan menebar seperti jala.

Paman Yones, sejak pagi aku diajak ibu ke pengadilan. Inilah pengadilan duniawi dimana sejarah sedang bertarung dengan kekuasaan. Meski kami sadari sejarah adalah milik pemenang, bahkan kelaliman telah sampai pada titik penistaan, aku tetap mimpi tentang kebenaran. Seperti itu juga mimpi satu orang dari enam paman-pamanku yang hari ini menjadi pesakitan. Mereka para peladang di kawasan hutan menurut dakwaan dan itu kriminal !. Ketahuilah paman, jauh sebelum pengadilan di negeri merdeka ini berdiri, kami tidak terusik.

Paman, di nadiku mengalir darah panglima pemenang yang menukar kekuasaan dengan kearifan, yang mengganti mahkota dengan dengan tanah. Kamilah La Kundofani si Kino Watoputhi, si penolong itu. Karena itulah raja Muna bertitah, hingga terbentanglah dari Watoputeh sampai ke Wakadia tempat mentari tenggelam di pangkuan malam, dari Labunti di Utara sampai di pesisir pantai Laino yang melahirkan fajar. Disalah Kontu, Patu-patu, Lasukara dan Wawesa dari generasi ke generasi melahirkan kami dan ditanah itu kami berkubur.

Pagi itu, setelah berkali-kali kami mesti keluar dari tanah ini, berkali pula kekuasaan berganti, La Ode Enda dengan bahasa yang tidak kami mengerti menanamkan bibit pertama yang akan menjadi petaka. Pagi itu tanggalan sampai pada angka tahun 1956, satu tetumbuhan bernama Jati berderap maju seperti pasukan meneriakkan “kultir” (kultur), memaksakan hak tumbuh di tanah kami. Beriring tahun ia membesar, membesar dan memaksa kami keluar. Sampai kemudian La Kundofani si Kino Watoputhi kami minta bangkit, mengembalikan kami pada tanah ini.

Paman Yones, ini adalah lembar keempat suratku, kukira tintanya telah mengabur, ini pena terakhir dan satu-satunya yang aku miliki. Jika matamu lelah membaca, berjalanlah keluar Warung Cekermu, pandanglah awan hitam polusi yang menyelubungi kotamu, seperti itulah hari yang kulewati. Tapi aku tetap tersenyum paman, setiap pagi kesekolah dengan kaki berkabut karena debu kering tanah Kontu dan mata berbinar-binar seperti dulu. Baiklah paman, aku persingkat saja surat ini.

Paman, apakah yang disebut dengan kawasan hutan itu, kenapa tiba-tiba membuat kami semua menjadi kriminal dan kalaulah benar 80 % kawasan itu belum tuntas tata batasnya dengan hampir 20 juta saudaraku yang hidup didalam dan diluar kawasan hutan, tidak akan muat penjara untuk kami. Paman, bukanlah kami takut akan penjara, karena di penjara kami tidak lagi berpikir bagaimana mencari makan dengan aman hari ini. Tetapi yang memberati pikian kami, apakah konstitusi telah kehilangan makna, sehingga ia telah menjadi tumpukan kertas tua yang memuat pasal demi pasal, buah kegenitan intelektual. Sehingga hak kami sebagai pemilik syah negeri ini hanya sebagai pemanis pidato para politisi dan birokrasi. Apalah jadinya kami ini paman, ketika tenurial hutan belum jelas penguasa membuat RUU Illegal Logging. Kepada siapa kami mesti bertanya mana yang legal dan illegal, ketika hak hanya ada di kertas dengan pasal saling menikam.

Paman Yones, sekali-sekali kirimkanlah kami ceker presto, akan aku bagikan pada para terdakwa perambah hutan negara ini. Sejak pagi ia belum makan, hingga dengan tubuh layu itu tak sanggub dengan tegak menjawab teriakan hakim yang bertanya apakah ia akan keluar dari kontu atau tidak. Kirimkan juga kami ceker dimsum agar bisa berucap seperti orang Jakarta, hingga kami bisa membela diri atas pengusiran atas nama hukum. Sekalian dengan Wine pengganti komeko, air kata-kata yang tumbuh di tanah kami.

Paman, mataku nanar dan telingaku telah berhenti mendengar. Sungguh tak kupahami persidangan ini, tapi persidangan terus berjalan dari tahun ke tahun. Apakah perempuan cantik berjubah hitam yang datang jauh dari pulau siaw itu memantik kemurkaan jaksa, hingga menjadikan tuntutan teramat tinggi pada kami. Apakah salahnya paman ?. Kenapa hukum mesti pilih kasih.

 

Paman, malam telah larut dan tangan telah penat. Sepertinya surat ini tidak akan pernah selesai. Karena itu biarlah aku lukis langit sehingga kau akan membacanya, bukankah kita masih satu langit ?. Sampaikanlah seluruh tanyaku pada orang-orang, tentang keadilan hingga sejarah kembali milik kami.

Sebagai penutup surat ini paman, meskipun aku tidak juara kelas kali ini, karena aku sering bolos untuk menjaga La Ode adikku, ketika ibu, bapak, paman, dan para tetangga sibuk mempertahankan lahan kami dari pengusiran, aku tetap ingin meminta hadiah. Aku tidak ingin ke Dufan, aku tidak inginkan tas baru berwarna pink, tapi kuingin kembalikan masa kecilku yang hilang, karena kami terpaksa dewasa menghadapi ancaman, bawakanlah aku rumah hangat, penuh rasa aman. Ketika kau datang membawa itu, akan aku bagi semuanya pada anak-anak tak bernama di kawasan hutan negara lainnya, mereka hanyalah berarti sampai pada tingkat angka-angka statistik. Kirimkanlah juga buku paman, karena dengan itu kami akan merubah dunia.

Paman, jika kau lihat sebongkah karang di pelabuhan Raha, berdiri tegak menatap lautan, ketika suatu saat kau datang, itulah aku Wa Ode, gadis kecil dari Kontu, membatu menunggumu membawa keadilan dan rasa aman.

Jangan tinggalkan kami paman, kami mimpi seperti anak-anak yang lain.

Jakarta, 14 Juli 2006

Catatan;

Merana : Berdiang/memanaskan tubuh di sekeliling api unggun

Tunuha : Ubi yang dimasak dalam batangan bambu didalam tumpukan batu yang dipanaskan

La Ode Enda : Kepala Dinas Kehutanan pada tahun 1956