Archive for the ‘Cerpenku’ Category

MENIKAM JEJAK DI JANTUNG SUMATERA

Posted: December 12, 2018 in Cerpenku

MENIKAM JEJAK DI JANTUNG SUMATERA

Oleh : Andiko Sutan Mancayo

Dua lelaki tua itu saling bertatapan. Terpaan angin dingin Bukitinggi kala senja jatuh mengantarkan sendu menelisik, merambati bunga anyelir yang memucat di samping pintu. Sepuluh menit lalu ada desisan tertahan, ketika sebuah ketukan di pintu mengiring “Assalamualaikum….!!”. Bergegas si tuan rumah beranjak dan memutar gerendel pintu. Di hadapannya kini, berdiri seorang lelaki dari jauh, sama tuanya, dimatanya bergayut kerinduan.

Seketika, seperti di Eri sebuah bioskop tua di pasar Bawah Bukittinggi, kenangan terhampar pada jarak satu setengah meter yang membentang diantara keduanya. Bunyi tembakan mitraliur dan ledakan mortar yang memekakkan telinga, seolah berlari disela-sela mereka. Kedua lelaki itu menarik nafas tuanya. Demikian lama waktu melemparkan pada sisi-sisi dunia dengan peradaban berbeda. Lelaki yang mengetuk pintu itu, demikian rapih menyimpan perjalanan pada keremangan malam di perpustakaan tua universitas di Illinois Amerika, sementara itu yang berdiri dengan dada serasa pecah, di pintu itu, berpuluh tahun menyaksikan zaman telah mencoba mengubur cerita mereka.

Pada helaan nafas kesekian ketika kerinduan tak jua mencair diantara mereka, tiba-tiba sebuah tempat bernama Gang Kenanga hadir. Gang Kenanga, ya Gang Kenanga !. Ditengah rerimbunan rimba tropis Sumatera, pada sepotong tanah di perbukitan, diantara tebingnya yang curam, mengalir batang Kumpulan yang tenang. Seperti nama sungai kecil itu, tempat ini berada dalam kekuasaan Sibunian  Kumpulan, sebuah daerah penuh durian hutan yang berjarak beberapa puluh kilometer dari Bukitinggi, menyusuri jalan sempit berliku menyisiri pinggang perbukitan dan diujungnya terhampar Kota Kecil bernama Lubuk Sikaping, pintu masuk ke Tapanuli Selatan.

Yah, disanalah lelaki sederhana tetapi sekokoh karang, saleh dan pemimpin partai Masyumi penentang Sukarno mendirikan pondok, mengungsi !. Yah ketika jantung Sumatera bergolak.

“Saat itu situasi politik penuh dengan teror,” Natsir mulai bercerita.”Kami orang-orang yang anti komunis diteror. Rumah saya didatangi puluhan orang-orang Pemuda Rakyat yang diangkut dengan truk. Usaha kami melaporkan diri kepada yang berwajib sia-sia saja. Akhirnya kami merasa Jakarta bukan lagi tempat yang tepat bagi kami. Kami ke Sumatera. Di sana muncul ide-ide perlawanan. PRRI itu gerakan perlawanan terhadap Soekarno yang sudah sangat dipengaruhi PKI. Melihatnya tentu harus dari perspektif masa itu. Ini masalah zaman saya, Saidi. Biarkanlah itu berlalu menjadi sejarah bahwa kami tidak pernah mendiamkan sebuah kezaliman.” (M. Natsir dalam Perspektif Kini — Oleh: Ridwan Saidi).

Pada memori tua kedua laki-laki disenja itu masih terpahat sebaris kenangan, seperti kemarin baru terjadi. Ya kemarin, waktu terlalu cepat berlari. Lelaki tua yang tegak di pintu itu, kembali menatap nanap. Seperti operator pemutar film hitam putih di bioskop tua, kenangan kembali melintas ketika ia menjadi kurir Sang Pemimpin yang akrab disapa dengan Pak Imam, ketika perang saudara itu berkecamuk. Seorang kawan yang kini dihadapannya setengah abad silam hidup terpisah-pisah hanya suara merdu indah seorang penyiar radio yang dia dengarkan dari kedalaman rimba Sumatra. Kini hadir di hadapan mata. Selintas mata tua itu berkabut.

Melintas dibenaknya ketika memintasi Aia Kijang dan merenangi Batang Masang, sungai purba yang menandai peralihan zaman di daerah itu, jauh sebelum Imam Bonjol mengangkat pedang melawan Belanda. Ketika langkah-langkah muda mengejar Tenggara, memintas dan menembus rimba. Ditengah belantara Sumatera yang penuh dengan bunyian remang binatang rimba dan semua penghuninya yang kasat maupun maya, terbentanglah dihadapan sebuah dataran tebing yang ditumbuhi pepohonan perdu berbunga wangi sewangi Kenanga. Maka terbesutlah kata sandi untuk persembunyian itu sebagai Gang Kenanga. Tempat berdiam DR Mohammad Natsir dengan rombongan kecil keluarga dan para shahabat setia. Ya… Gang Kenanga…!!.

Lelaki sederhana dan teguh itulah yang memerintahkannya menjadi kurir.

Bukittinggi semakin lengang, tapi lengang seperti terusik karena seulas senyum yang tak pernah berubah karena masa, lelaki yang datang dari jauh itu tersenyum kecil seperti senyum nabi. Maka runtuhlah sekat kenangan itu. Lelaki tua di pintu itu terguncang…!. Meskipun waktu telah memakan jasad, melamurkan mata. Tetapi lelaki di tangga, dihadapannya adalah tetap sahabat kecilnya dari palunan rimba raya Sumatera. Mereka berangkulan. Ada sesak yang menggayut di tenggorokan memerihkan mata membersitkan airmata haru kerinduan yang tak terkatakan. Lebur sudah…

Malam semakin mendaki lereng Ngarai. Pada jalan berliku di sisinya, keremangan terjebak di mulut lobang Jepang. Bunyi uwir-uwir, jangkrik membangun orkestra dengan partitur melagukan shimponi kenangan. Telah berpuluh tahun tembakan berhenti menggema mengganggu senja yang sakral. Malam telah berganti siang, siang telah berganti masa, kota ini sarat sejarah. Kedua lelaki itu saling tatap dan kedua pasang mata itu berhenti pada kepulan uap kopi Bukit Apit di atas meja.

Cerita-cerita begitu sesak berhamburan ingin keluar dari mulut tua mereka. Seperti tidak sabar ingin memperadukan batu kisah denting alur perjalanan sejak dari jantung Sumatra yang rengkah karena perang hingga terpisah jarak jutaan kilometer separuh putaran bumi karena nasib menggariskan demikian akibat perang saudara itu. Raut wajah saling bertukar cepat antara sedih ketika kawan seperjalanan dahulu telah lama berpulang. Mata berair karena kelucuan yang terjadi diantara pekikan monyet rimba yang mengetawai perjalanan di rimba dahulu. Kekesalan yang jelas meronai oleh kenyataan kawan seiiring menggunting dalam lipatan. Tentunya raut pasrah dan sabar akan garisan yang Maha Kuasa atas nikmat kehidupan yang dihembuskan dikehidupan romantika mereka berdua.

Lilitan syal tebal semakin dieratkan di leher mereka seiring belaian udara dingin menusuk khas Bukittinggi. Kehangatan kopi sedikit membantu meneruskan kisah demi kisah perjalanan masing-masing yang saling terlempar jauh oleh jarak dan waktu. Dengung merdu irama Si Tukang Saluang sesayup-sayup sampai seolah-olah menemani mereka seperti sebuah orchestra live sang maestro. Lirih membelai udara dingin dari pelataran Jam Gadang yang tetap gagah menatap Merapi dan Singgalang. Monumen sejarah yang telah sarat menyaksikan pembantaian demi pembantaian memupuk tanah sekitarnya dengan genangan demi genangan darah para pejuang, kawan sesama bermain mereka dahulu.

Pertemuan singkat yang terasa semakin singkat karena rindu yang belum pecah semua. Kisah-kisah masih bergumpalan di dada lupa dan terlupakan ingin didendangkan bersama harus terhenti oleh sang waktu dan dingin yang memaksa mereka mengurai pertemuan itu sampai disana. Berjalan beriringan dan kemudian menyimpang jalan. Hingga larut ditelan kelam malam, pertemuan bersejarah itupun usai. Rembulanpun malu mengintip membuntuti langkah-langkah tua yang menyisakan semangat muda di masa tua berjalan lamat-lamat kembali ke zaman nyata.

(Cerita imajiner pertemuan 2 tokoh PRRI, Mak Ngah Sjamsir Sjarif dengan Papa Rina H. Djasri. S)

Jakarta, 10 Januari 2011

Advertisements

Senyum yang Tergantung

Posted: September 9, 2013 in Cerpenku

27971638_2018271201830252_378182268806268876_n

 

Senyum yang Tergantung : Kamang dibombardir

Allahu Rabbi Tuhan ar-Rahman,

Mula-mula sengsara tiba di badan,

Di negeri Kamang orang namakan,

Malam Selasa petang Isnayan.

Pukul tiga malam serdadu datang,

Pikul senapan serta kelewang,

Tegak di halaman bedil dipegang,

Kemendur Tiga opas sudahlah terang.

(Sya’ir Parang Kamang-H. Ahmad Marzuki. Anak dari Syekh Haji Abdul Manan, seorang tokoh terkemuka di Kamang dan juga tokoh penting dalam pemberontakan Nagari Kamang tahun 1908 terhadap Kompeni Belanda)

Kamang !….. Pagi baru saja mendaki, perlahan matahari merambat, menjilat dinding-dinding rumah gadang, waktu akan mengantarkannya ke bubungan, dan tentunya, pada puncak yang runcing, matahari yang tertusuk, akan memendarkan cahaya, menerangi beberapa rangkiang, satu si bayau-bayau dan satu sitinjau lauik.

Bidin sedang bersiap, seorang pemuda tanggung yang hatinya sedang berbunga-bunga. Tiba-tiba sekeliling rumah gadang ibunya, berubah…”parak” kecil tempat mandehnya menanam berbagai bumbu, telah berubah menjadi lautan bunga, ada anyelir, kembang sepatu, bunga bakung, dan tentu saja pokok-pokok mawar dan melati.

Yah begitulah perasaan ketika sedang jatuh cinta.

Ah….Bidin mendesah, lama sekali waktu berjalan.

Tak sabar rasanya hendak melangkah ke halaman, kemudian menghilang kekerumunan pasar, ya pasar.

Hari ini Senin, November 1959, Pasar Kamang pasti sangat ramai. Orang-orang akan berdatangan dari kampong-kampung di sekitar Kamang dan bahkan para “penggalas” akan datang dari kampung-kampung dan koto-koto kecil disekitar Agam. Tapi bukan itu yang sedang di pikirkan Bidin.

Sejak sebuah senyum simpul dilemparkan Rukiah, si Gadih Rantih kembang nagari kepadanya ketika melintas di “alek Nagri” beberapa waktu lalu, Bidin seolah demam. Air diminum seperti sekam, nasi dimakan serasa duri. Malam larut dan hening tak menghantarkannya pada dengkur menjelang pagi, tetapi justru mengantarkannya pada penyakit yang sulit obatnya.

Ya….”pitanggang”, sebuah penyakit yang membuat orang tak bisa tidur-tidur, malam terlewati dengan menghitung kasau di langit-langit surau tempat ia tidur bersama teman-temannya. Matanya menelitisk tiap ikatan antara kasau dan lae, disanalah atap disusun, dan disela-sela itu selalu ada senyum simpul itu, senyum simpul Rukiah. Bidin telah di racun rindu !

Ah….Bidin mendesah dan bergumam “Alah den tutuik jo tapak tangan, namun di salo jari tampak juo”….ondehhh Rukiah….. Bidin sudah tidak tahan lagi. Seketika ia bergegas menuruni tangga rumah gadang mandehnya, lalu seperti orang ketinggalan kereta, bidin berlari ke pasar Kamang.

Cinta telah membuatnya tak peduli dengan desas desus, bahwa Bukittinggi telah jatuh ke tangan Tentara Pusat, nyaris tampa perlawanan. Ya tampa perlawanan !. Jauh-jauh hari, tentara PRRI dan pejabat sipilnya telah mengungsi jauh ke arah Kumpulan dan membangun pertahanan disana.

Bidin mendengar, seorang Buya besar, juga ikut berada disana. Sudahlah…..!,

Bidin tak mengerti. Bidin terus melangkah kearah pasar dan berhenti di tikungan kecil. Disini, di tikungan kecil ini Bidin akan menunggu, ya menunggu si jantung hatinya lewat. Tak perlu menyapa, tetapi cukup menanti, menanti senyum simpul yang telah merusak ketenangan malam-malamnya.

Bidin menunggu, harap-harap cemas.

Kala itu, matahari semakin merambat naik.

Menunggu….pantaslah kata orang bijak mengatakan, menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Bidin berputar-putar di area yang tak lebih dari 3 kali 3 meter, berputar-putar sambil bergumam-gumam. Setiap berputar, yang tampak hanyalah sudut los pasar, kembali berputar kebelakang, hanyalah jalan lengang dibelakangnya.

Meskipun pasar sudah mulai ramai, keramaian orang tawar-menawar ketika pagi itu, ibarat gerombolan kumbang yang marah, di tingkahi oleh denting besi beradu dari tempat pengrajin besi, tukang titik. Bagi Bidin, itu semua siksaan teramat dahsyat. Mata tertumbuk pada karung-karung cabe, sementara pikiran melayang pada penantian.

Inilah kepedihan menanggung rindu, indah sekaligus konyol !.

Aha…….di kejauahan, terlihat melangkah gontai dua orang perempuan. Satu orang perempuan setengah tua sedang melangkah bersisian dengan seorang gadis yang melangkah riang. Gadis itu nyaris penampakan nyata dari gadis impian Minangkabau. Pipi ibarat pauh dilayang, betis ibarat padi bunting, rambut bak mayang terurai, kalau berjalan, semut terinjak tak mati, tapi tertarung alu patah tiga. Begitu anggun. Bidin seperti mendapat serangan jantung, hampir saja dia lupa bernafas, salah tingkah. Semakin dekat gadis itu melangkah kearahnya, demam Bidin semakin meninggi. Jelas sekali gemuruh di dadanya.

Hhhhhhhhhhh,

Bidin menghiurp nafasnya, menenangkan diri, menghirup nafas dan melepaskannya pelan-pelan. Dadanya terasa hangat, hangat karena nafas ditahan, tetapi lebih terbakar karena rindu akan senyum yang menikam. Bidin memperbaiki posisi berdiri, dengan sedikit bersandar, mencari posisi rileks sambil bersiul-siul kecil dan Rukiah semakin dekat !.

Keduanya menunggu !.

Bidin menunggu senyum simpul itu, sementara Rukiah menunggu reaksi yang akan timbul karena senyum simpulnya.

Mereka semakin dekat !

Tepat ketika Rukiah melempar senyumnya dan Bidin dengan kesipan mental penuh menanti dengan mata berbinar, di udara terdengar seperti siutan, hasil gesekan udara dengan benda keras…

Ssssssssssiiiiiiiiiiiiiuuuuuuuuuuut…………………

Tak jauh dari tempatnya berdiri, sebuah benda seperti jantung pisang, melayang terjun, hendak menghunjam bumi.

Bidin terkesiap, jantungnya hendak berhenti berdetak, lidahnya kelu dan tubuhnya seolah lumpuh. Bidin hapal betul, benda apa itu, sebuah benda yang seketika akan menciptakan malapetaka, benda yang akan mencerai beraikan ayah dengan anak, memisahkan sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta, yang lewat benda itu maut akan datang.

Bidin menggigil, bunyi suitan yang akan diikuti dengan sebuah ledakan dahsyat itu adalah MORTAR atau MORTIR.

Beberapa bulan lalu, Bidin bersama serombongan pelajar lainnya dilatih untuk menghadapi serangan yang akan datang dari Jawa. Tiga batalion utama tentara reguler telah dikirim ke Pekanbaru menghadapi pasukan penerjun tentara pusat yang di pimpin Ahmad Yani dan Nasution.

Di Padang, tempat ia bersekolah, hanya tersisa pasukan yang terdiri dari pelajar dan pemuda-pemuda simpatisan yang diharapkan akan mempertahankan pantai barat dari gempuran tentara pusat yang datang dari laut.

Sebagai persiapan, Bidin dan kawan-kawan diperkenalkan dengan berbagai senjata yang konon kabarnya diturunkan dari kapal selam di lepas pantai pulau Cingkuak di depan Padang.

Salah satu senjata itu adalah Mortar yang saat ini akan jatuh dikeramaian pasar pagi Kamang,……….

Bidin menggigil !. Sejurus kemudian, terdengar ledakan yang memekakkan telinga…………

DUAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRR

Seperti ada sebuah kekuatan, sudut pasar itu terlempar ke udara, tercerai berai.

Ketika debu akibat ledakan itu mulai terhembus angin, terlihat lobang cukup besar dengan beberapa tubuh bergelimpangan-mandi darah. Terlihat sebuah kaki telah berpisah dengan pemiliknya, darah merembes disekitar itu. Seketika rintihan dan terikan kesakitan meningkahi riuhnya pasar. Orang-orang seperti kebingungan kemudian berlarian mencari perlindungan.

Orang-orang sudah tidak peduli lagi, yang penting selamat. Karena pasar demikian ramainya, orang-orang saling bertabrakan, panik dan rusuh. Nah saat itulah datang suitan yang menakutkan itu kembali…..

Ssssssssssiiiiiiiiiiiiiuuuuuuuuuuut……………….. .duaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrr !!!!!!!!!!!!!!!!!! Ssssssssssiiiiiiiiiiiiiuuuuuuuuuuut………………… duaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrr !!!!!!!!!!!!!!!!!! Ssssssssssiiiiiiiiiiiiiuuuuuuuuuuut………………… duaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrr !!!!!!!!!!!!!!!!!!

Bidin terlonjak, badannya seperti terangkat. Bertubi-tubi jantung pisang itu berjatuhan dan meledak…tubuh-tubuh bergelimpangan, sementara Bidin, tersandar, dadanya sesak.

Yang pertama dia pikir adalah terbang kedepan menyambar Rukiah dan mencari perlindungan. Tetapi kepalanya terasa pening dan telinganya seperti pecah. Ledakan itu telah mengguncang nyalinya.

Tetapi….tidak…..dia harus menyelamatkan Rukiah, harus, meskipun hujan mortir harus di hadangnya.

Inilah kesaktian cinta itu dan Bidin telah di rasuki oleh perasaan aneh itu.

Bidin kemudian segera berdiri dan memukulkan tangan ke kepalanya untuk menghilangkan rasa pusing akibat efek ledakan itu. Kabut akibat debu jalan yang terhambur dihadapannya, mulai menipis dihembus angin, Bidin melangkah dan………

Bidin merasakan langit seolah runtuh dan menghimpit dirinya, langkah kakinya terhenti di hadapan sesosok tubuh yang terkapar, di sela rambutnya yang terurai itu, mengalir cairan berwarna merah, perlahan merembes ke sisi kiri dan membasahi tanah, cairan itu darah.

Bidin terguncang, dihadapannya kini terbujur Rukiah tak bergerak !.

Bidin terguncang !

Segera ia raih tubuh itu ke pangkuannya, ia dekap dan berusaha mengirimkan do’a agar perempuan yang dicintainya itu hanya mendapat luka kecil.

Wajah Rukiah pucat pasi, darah terus merembes dan mengenai sarung Bugih yang di bawa Bidin.

Bidin tak peduli, ia berusaha menutup luka yang mengeluarkan darah dengan sarungnya, tapi darah itu terus merembes. Semakin lama tarikan nafas Rukiah semakin lemah, matanya berkaca-kaca, perlahan dengan tenaga yang nyaris hilang, ia berusaha tersenyum.

Bidin terpaku diam, di sela matanya menetes satu cairan bening, merambat ke bawah menjalari rahang kokohnya dan menetes jatuh ke rambut Rukiah. Detik ketika air mata itu jatuh, senyum Rukiah terhenti berikut dengan nafas lemahnya. Satu kekuatan tak terlawan telah memenggal cinta mereka, Rukiah berpulang.

Bidin merasakan dadanya seperti rengkah, ada gelombang kemarahan yang sulit ia tahan. Ia baringkan tubuh kekasihnya di tanah dan berdiri menantang suitan mortar dan ledakan yang berjatuhan disisinya. Sarung yang dilumuri darah kekasihnya terhempas-hempas dipukul gelombang angin ledakan.

Dihadapannya, bergelimpangan tubuh-tubuh tampa dosa para pengunjung pasar pagi itu, darah ada di mana-mana. Kamang pagi itu di bombardir mortar tentara pusat. Bidin berteriak, histeris !

Syair perang Kamang diatas, mengantar gigilnya, mengiring arwah kekasih pergi.

Andiko Sutan Mancayo

(7 Februari 2011)

Diantara Garis dan Kokangan Senapan

Posted: September 9, 2013 in Cerpenku

Letkol Sabirin Mochtar & Ahmad Yani

Sebentar lagi senja akan turun. Langit di penghujung petang itu semerah saga. Kabut mulai bergayutan diantara pokok-pokok kayu hutan. Angin dingin mulai menuruni punggung perbukitan, berlarian, semilir menyibak rerumputan.

Di kaki bukit kecil itu memintas jalan, lengang sisinya berpagarkan pokok-pokok bunga “sirangak”, bunganya kuning cerah melambai, tetapi hampir semua bagian dari bunga itu mengandung rasa pahit yang tak terkira dan angin senja itupun membawa rasa getir pada raut muka dua lelaki muda yang berdiri saling berhadapan dengan tatapan menikam, di tangan mereka terkokang dan teracung senjata yang siap merenggut nyawa masing-masingnya.

Diantara pertemuan kedua bedil yang siap menyalak itu, pada jarak yang tak lebih dari empat langkah, memori saling berlarian. Dua bocah kecil saling bergelut di sudut Surau Tua. Bidiinnnnnnnnnnnnnnnnnn !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!…………. Samsuuuuuuuuuuuuuuuuu !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!, Kemari Kau !. Teriakan parau di pintu surau itu menggema mengisi lembah, kemudian tebing di hadapannya seperti memantulkan gema panggilan itu dan menyentak, menggedor gendang telinga kedua anak kecil, sahabat karib itu.

Bidin berjalan tertunduk menyimpan rasa khawatir atas kemarahan Mak Muncak, guru mengajinya. Sementara di belakangnya, Samsu tergopoh-gopoh, bergegas sembari memperbaiki letak sarung Bugih bekas ayahnya dan kupiah lecek yang telah menguning, yang selalu menemaninya mengeja Alif, Ba, Ta di surau itu dengan sahabat setianya, Bidin, si lelaki kecil banyak akal.

Lelaki duda nyaris tua itu berdiri tegak di tangga surau mengawasi kedua kurcaci kecil yang selalu membuat ia susah menahan kemarahan. Seringkali puasa sunatnya rusak sekeping karena begitu marahnya kepada kenakalan dua orang murid yang dikasihinya. Tetapi meskipun ia sangat mengasihi kedua bocah itu, tetapi ia harus marah untuk memberitahukan mana yang benar dan mana yang salah.

Ah….betapa nakalnya kedua anak itu, telah berkali-kali kedua mahluk itu membuat ia susah. Ada saja tingkahnya, kalau tidak menyembunyikan “Tengkelek” para orang tua yang bersembahyang magrib di surau, pastilah ia akan menunggu anak perempuan pulang mengaji dan menakut-nakutinya dari balik semak dengan “bergelumun” kain sarung.

Kemarin lalu, ada lagi tingkahnya, ketika Mak Muncak selesai membaca surah Alfatihah disaat rakaat pertama sholat Isha, kedua anak itu seperti penyanyi tenor dari Itali, dengan serempak mereka menyahut,

Aaaaaaaaaaaaaaammmmmiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn!!!!!!!!!

Mereka meneriakkan kata Amin demikian panjang, hingga Mak Muncak tertegun-tegun untuk masuk ke pembacaayn ayat di pertengahaan rakaat pertama. Teriakan itu dilakukan dengan segenap irama keindahan yang mereka yakini, meskipun mengkhianati tangga nada resmi ala padang pasir, tapi mereka tak peduli, sehingga di telinga Mak Muncak, irama yang keluar dari kedua muridnya itu, lebih tepat terdengar sebagai: LOLONGAN !.

Dan akibatnya, Setelah selesai segala zikir dan do’a, kedua pendekar nakal yang membuat pusing itu, harus berhadapan dengan persidangan kecil yang hukumannya standar, yakni, kedua telapak tangan mereka di hadiahi pukulan rotan. Oh ya, rotan, ya rotan !.

Kedua rotan kecil itu adalah syarat mengaji ketika kedua bocah itu diserahkan oleh orang tuanya kepada Mak Muncak agar di ajarkan Alqur’an, supaya menjadi anak beriman dan patuh kepada guru dan orang tua. Pada kedua bilah rotan itu tersimpan pesan, jika sang anak menyimpang, Mak Muncak berhak “Melecuti”, karena rotan itu adalah symbol penyerahan pendidikan sekaligus hak untuk menghukum kepada Mak Muncak, duda penguasa surau di sudut kampong itu.

Dan kali ini !, kedua pendekar kecil itu telah membuang symbol kekuasaan untuk menghukum kenakalan mereka itu, kedua rotan itu telah merenangi sungai kecil di samping surau, terbawa hanyut kehilir. Mereka membuangnya dan karena itulah Mak Muncak murka !.

Kali ini ia telah bersiap di pintu surau dengan alat pengganti murah meriah, berupa ranting bamboo !.

Surau kecil yang penuh kisah itu telah membesarkan Bidin, Samsu dan Rukiah. Bidin dan Samsu tumbuh menjadi remaja yang cekatan, pintar mengaji dan tentunya menguasai jurus-jurus silat pusaka kampong mereka, yang diturunkan oleh Mak Muncak. Silahkan hadang mereka dengan Karate atau Judo, cukup dengan dua kali “gelek” Silat Tuo, mereka akan lolos dari serangan. Atau kalau mereka ingin sedikit memberikan pelajaran, maka turunlah kuncian Silat Sitarlak yang cukup membuat mulut “pencong-pencong” meringis menahan nyeri.

Rukiah tumbuh diantara segala kesucian ayat-ayat Alqur’an yang melantun merdu dari kedua bibir yang nyaris sempurna, irama segala ayat yang dihantarkan dengan kemerduan senandung gadis dusun yang jernih, sanggup mengundang malaikat bertandang kesurau itu. Ia telah menjelma menjadi bidadari di antara lilitan kerudung putih bersulam, seperti lilitan kain putih yang menutupi mahkota para gadis-gadis Diniyah Putri.

Kecantikan dan kesalehannya telah membuat para pemuda di nagari itu, susah tidur, termasuk kedua begundal kecil yang telah menjelma menjadipemuda tampan itu, yang diantara ketiganya ada sesuatu yang tak terkatakan, karena selalu ada senyum yang sama, yang ditikamkan Rukiah pada jantung keduanya, jauh sejak mereka masih anak-anak yang berlarian di pematang sawah, mengejar capung dan kupu-kupu, atau menelisik pematang mencari belut dan ikan-ikan liar.

Keduanya berlomba membuat Rukiah kecil tersenyum, meskipun terik matahari kadang membakar kuning gading kulitnya.

Kretek……!!!!!

Bunyi ranting kering terinjak membuyarkan kenangan kedua lelaki itu. Pegangan pada popor senapan masing-masingnya semakin mengeras, sekeras wajah keduanya. Ada bola api yang terpancar dari kedua sorot mata dan berusaha saling membunuh. Guratan kerasnya pertempuran, terbayang jelas dari pada kerutan kering wajah-wajah itu.

“Bidin !, menyerahlah, tiada guna perlawanan tak berarti yang kau lakukan ini, Bukittinggi telah jatuh dan para pemimpinmu telah berlari masuk hutan, tidak mungkin kalian akan menang menghadapi kami, meski Amerika sekalipun di belakangmu”, Samsu mendesis.

Bidin menghela nafasnya dan balas menatap, kemudian berucap “ Tak berguna kau Samsu !, kau datang seperti bala bersama kawan-kawanmu dan kau perangi tidak hanya aku !, tetapi juga ibu, bapak dan mamak-mamakmu !, sungguh tak tahu membalas budi !, Mak Muncak akan bangkit dari kubur menghukummu, anak durhaka !” Samsu, tersentak, kemarahan seperti bergelombang berdenyut dari jantungnya, kemudian aliran itu merambati lengan, menurun ke siku dan seolah memberikan perintah kepada jarinya yang mengalungi pelatuk untuk menekan, dan dapat ia pastikan, lelaki didepannya akan roboh.

“Bidin !, sekali lagi aku katakan, menyerahlah !, apa yang kalian lakukan adalah perbuatan makar !, memberontak kepada negeri ini yang didirikan oleh anak-anak yang lahir dari rahim Merapi dan di besarkan Singgalang”, “tidakkah kau sadar bidin !

Bidin mendengus, ia berbicara perlahan, sambil menahan nafas dan menghasilkan suara mendesis dengan penekanan, yang tentunya setiap orang tahu, itulah jalan ia melepaskan segala kemuakan.

“Apa yang kau tahu tentang negeri ini Samsu !, kau hanyalah seorang prajurit rendahan yang dikirim pulang untuk menghukum negerimu, kau ada di bawah perintah”.

“Apa yang kau tahu tentang politik !, apa yang kau tahu tentang ketimpangan !, dan apa yang kau tahu tentang apa yang sudah dilakukan oleh mereka kepada kami !”

Samsu seperti tertohok dan menjawab “Bidin, aku membela negeri ini agar bisa terus tegak !, agar orang-orang sepertimu bisa berjalan dengan damai, aku tidak membela siapa-siapa dari orang-orang yang kau benci, aku ingin meluruskan apa yang kalian perbuat”.

Bidin menukas; “kalau kau ingin meluruskan, mengapa kau datang membawa pertempuran yang tak tertanggungkan oleh saudara-saudaramu disini !, jangan berlindung di balik seragammu, di nadimu, mengalir darah yang terbentuk dari gemuruh batang Sinamar, buih batang Bangkaweh dan derasnya Batang Agam !”.

“Seorang hakim sekalipun tak akan menghukum orang dengan berlebihan, ingat itu Samsu !.

Samsu tak sabar kemudian berteriak “Tapi kalian pemerontak……………………!

Seperti berkejaran dengan itu, sebelum habis kalimat yang dilontarkan Samsu, Bidin menukas; “Jangan Na’if “sanak” !, pemberontak atau bukan, itu hanya soal siapa pemenang dan siapa yang menulis sejarah itu “.

Samsu tercekat mendengar kata “sanak” yang sengaja diberikan penekanan oleh Bidin. Sejenak mereka saling tatap, ujung senapan masing-masingnya mengendor dan sedikit tertunduk ke tanah. Samsu menghela nafas, tiba-tiba ia teringat sesuatu, dan bertanya “Rukiah kemana ?, bukankah telah kau ambil senyumnya dari tidurku, Bidin ?”

Bidin bergeming, awan hitam yang mengantar senja berarak dan singgah di wajahnya. “Untuk apalagi kau Tanya Rukiah !, kalaupun dia ada disini, dia tidak akan sudi melihatmu !”. “Kau tuduh pula aku yang mengambil Rukiah’, bukankah telah kau ambil segala senyumnya, hingga tak bersisa, kemudian kau bawa pergi menyeberang lautan”.

Bidin menggigil menahan gemuruh di dadanya, ingin rasanya ia muntahkan peluru pada magazin terakhir menyiram tubuh lelaki di hadapannya, dinding tebal politik yang berdiri kokoh diantara mereka telah membuatnya tak lagi mengenal lelaki itu, sahabat kecilnya.

Samsu menghela nafas, kedua gerahamnya bergelatuk, mengeras, segera ia menukas: “Bidin……., bukankah kau yang ingin memiliki senyum itu untukmu sendiri !, dan kau campakkan aku pada kesakitan yang tak ada obatnya !, hingga tak tertanggungkan olehku hidup di nagari ini !.

“Jika kulepas Rukiah kepadamu, maka aku akan mati memudiki nagari-nagari, tetapi jika aku ambil semua senyum Rukiah, kau akan merana sahabat !, tetapi kenapa kau tidak memiliki perasaan yang sama denganku !, karena itulah aku memilih pergi !

Bidin termenung, dalam diamnya kemudian ia bergumam : “Sahabat kecilku, karena kaulah, tak pernah aku wujudkan inginku memiliki sendiri senyum Rukiah, aku tanggungkan rindu bermalam-malam, pagi yang tak berarti, hingga siang yang memanggang, aku di racuni rindu itu, tetapi aku tahu, dihatimu yang terdalam, Rukiah juga bertahta, kita bersilat dalam diam, hanya batin saling tikam”

Samsu tidak sabar untuk tahu lebih jauh dan ia menukas dengan pertanyaan; “lalu, dimanakah Rukiah ?”

Perlahan di keremangan senja yang semakin mengejar pintu malam, Samsu melihat setetes cairan mengalir dari sudut pelupuk mata sahabatnya. Lelaki kokoh itu ternyata menangis dan lama-lama ia melihat bahu lelaki itu berguncang perlahan. Tak pernah ia saksikan sahabatnya itu menangis sejak mereka kecil. Mereka selalu memenangi perkelahian dengan anak-anak nagari tetangga dan membuat mereka menjerit-jerit menangis pulang kerumah ibunya. Tetapi kali ini sahabat pemberaninya itu meneteskan air mata.

“Rukiah telah tiada, waktu itu mortar-mortir yang beterbangan dan jatuh di pakan, telah mengantarkannya pada pemilik cinta abadinya, yang tentunya bukan kau dan aku sahabat !”

Samsu terguncang !.

Tubuhnya seperti tersambar petir maha dahsyat, tersengat aliran listrik ribuan volt dan meruntuhkan segala atribut kejantanannya. Tulang belulangnya seolah di copot satu persatu dan ia hanyalah setumpuk daging tak berpenyangga.

Rasa sakit kemudian menyerang titik paling tersembunyi di jantungnya, itulah sakit yang tak tergambarkan, sakit yang selalu menjadi ancaman dan akan membunuh para pecinta.

Gubrak !!!

Tiba-tiba senapannya jatuh ketanah, seiring dengan tubuhnya terduduk, air matanya mengantarkan gigil kesedihan dan perasaannya berenang dalam duka tak tertanggungkan. Di pelupuk matanya berlarian bayangan Rukiah pulang mengaji dan seperti film documenter, kenangan-kenangan yang mengantar mereka dewasa bertiga, berputar-putar.

Air mata dan gigilnya tak sanggup menghentikan rasa nyeri di dadanya.

Bidin melangkah kedepan dalam diam dan meraih pundak sahabat kecilnya, ia berbisik, “Berdirilah sobat, inilah takdir kita, jikalah saat ini Rukiah ada di awan-awan, maka kuminta ia turun menjadi saksi, bagaimana ia tinggalkan cinta yang kita maknai dalam posisi yang berbeda”.

“Mungkin tak akan ada yang akan bisa melerai rindu dendam ini, mungkin hanya waktu yang akan melerai segala sakit dan melarungnya hingga ke akhir nasip, berdirilah sobat ! ”.

Kedua lelaki itu saling berangkulan, seiring malam yang semakin dekat.

Samsu kemudian berkata : “kembalilah kepada induk pasukanmu sahabat dan aku akan kembali pula”. “aku tidak tahu akan seperti apa akhir pergolakan ini, tapi aku ingin, kita jangan bertemu sampai pergolakan ini selesai”.

Bidin kembali merangkul sahabatnya, nafasnya turun naik dan dadanya bergelombang menahan rasa “ Jaga dirimu sahabat, kita hanyalah sekrup-sekrup kecil dari perjalanan bangsa ini, nanti suatu waktu, biarlah sejarah yang akan menilai, apa-apa yang kita alami hari ini”.

Bukit itu kemudian melengang, selengang kuburan. Hanya desau angin yang mengantarkan rasa perih, seiring langkah kedua sahabat kecil itu menyusuri jalan setapak dengan saling berpunggungan. Kedua lelaki itu telah mati sebelum kedua senapan mereka saling menyalak, peluru tak cukup tajam menembus dan mengahiri hidup mereka. Tetapi kematian Rukiah akan meracun setiap langkah hidupnya, sampai kerelaan akan rasa sakit akan mengantarkan segala penerimaan pada jalan tuhan dan jika Rukiah memang betul-betul ada dibukit itu, maka akan ia rasakan cinta itu telah berkubur bersama jasadnya. Bukit itu telah lengang, semati kuburan tempat cinta yang terbaring menunggu waktu, dibawah pokok pohon kelapa, nyerinya terbawa menyesaki dada menantang waktu.

Pondok Labu, 26 Februari 2011