Archive for April, 2011


Pada secangkir kopi : Dialog Imaginer dengan Roscoe Pound.

 

Andiko Sutan Mancayo

Pada dasarnya kondisi awal struktur suatu masyarakat selalu berada dalam kondisi yang kurang imbang. Ada yang terlalu dominan, dan ada pula yang terpinggirkan. Untuk menciptkan “dunia yang beradap”, ketimpangan-ketimpangan structural itu perlu di tata ulang dengan pola keseimbangan yang proporsional. Dalam konteks itu, hokum yang bersifat logis-analitis dan serba abstrak (hokum murni) ataupun yang menggambarkan realitas apa adanya (sosiologis), tidak mungkin diandalkan. Hukum dengan tipe itu paling-paling hanya akan mengukuhkan apa yang ada. Ia tidak merubah keadaan. Karena itu perlu langkah progresif yaitu memfungsikan hokum untuk menata perubahan, karena itulah hokum itu, “law as a toll of social engineering”.

(Teori Roscoe Pound tentang Hukum, dalam Bernard L. Tanya, 2010: 154-155)

Pound, duduklah sejenak, tariklah kursi mendekat pada sisi jendela ketika temaram cahaya membaluri tonggak-tonggak tua Harvard, biasnya jatuh dan sedikit hangat tertolak dingin musim gugur, sebentar lagi tentunya salju akan turun. Diseberang kaca itu, adalah aku, seperti cerita tentang gadis kecil penjual korek api, begitulah ketika mata hendak menembus, secarik hangat pada ruang-ruang yang bergengsi, ketika mungkin telah beribu sarjana lepas dan melambai ketika memintas di kusen pintu dengan lambing bermerek diatas tiga ikatan tangkai biji-bijian, mungkin gandum dan tentunya bukan padi. Di bawah tameng Harvard itu, termasuk presidenmu telah memintas.

Nah mari kita rentang tali, agar ada kata terjembatani. Seperti yang aku katakan, pada tiga ikat tangkai biji-bijian yang penuh itu, tentunya bukan padi dan tentunya kau tak tahu apa itu padi. Ketidaktahuan itu kemudian menghantuiku, ketika lahan-lahan pertanian disulap, seperti magic, teknologi telah menyihir kesadaran, hingga lahan-lahan permai akan berubah dan tumbuhan itu lambat atau cepat, tak lagi menguning emas seiring waktu, di tanahku. Pada suatu masa, anak-anakku tahu tumbuhan itu pernah ada di sebuah buku di rak, toko-toko megah di kota…ah sudahlah….

Marilah kita bercerita tentang rekayasa. Kalaulah rekayasa adalah penerapan kaidah-kaidah ilmu dalam pelaksanaan dengan meletakkan pakem mekanik pada setiap perancangan, pembuatan konstruksi, serta pengoperasian kerangka, peralatan, dan sistem yang ekonomis dan efisien dan tentunya selalu berlandaskan pada pencapaian kesejahteraan manusia, tetapi disisi yang berbeda rekayasa dapat pula membawa kutukan makna sebuah rencana jahat atau persekongkolan untuk merugikan orang lain.

Jikalah kau setuju kedua beban makna itu, maka akn aku tunjukkan ketika dua arus berbenturan. Ditengahnya korban tersimpul. Percayakah kau ketika perekayasa tak pernah menyadari beban makna sebaliknya, maka apa yang kita rekayasa akan kehilangan makna. Dimana ketika kita memandang, yang berlarian dihadapan hanyalah benda-benda dalam derajat deretan decimal ekonomi paling naïf, symbol kemewahan mekanik yang tak berjiwa. Cobalah lekatkan pada mahluk, apalagi mahluk yang terlahir seperti telah kutukan pelangkap dan penderita, mereka hanya berarti sampai pada angka-angka statistic.

Pound, mungkin obrolan malam menjelang mendaki ini, teramat liar, maka tambahlah secangkir kopimu lagi. Kuharap pahitnya akan menggetir, sepahit ketika abad demi abad kopi tumbuh diladang-ladang perbudakan. Mungkin disitu gelisahmu tentang sebuah rekayasa social mendapat tempat untuk kita cacah.

Marilah bicara hokum kawan. Jikalah memang hokum merekayasa social, mungkin ia tegak pada posisi mekanik itu. Sebagai alat, maka hokum seperti apa yang Bentham katakan sebagai perintah penguasa, maka ia tak berjiwa. Maka tak guna kuceritakan keyakinan yang kadang mengsingkretik di tengah kami tentang sebuah keadilan yang tak terceritakan, tetapi teramat dekat pada rasa. Kadang ia jauh sehingga ia ada di batas horizon yang selalu bergerak menjauh ketika kami berlari mengejar dan bahkan teramat jauh sejauh masa lalu dan mimpi kawan.

Marilah kita mengayuh biduk-biduk kecil menyusuri sungai Siak dan batang masang, marilah memintas di sepanjang Kapuas, sambas dan Kahayan. Dan seperti katamu, marilah kita lihat bangunan keadilan yang dilahirkan oleh sebuah rekayasa social yang menjadikan hokum sebagai algojonya, seperti yang kau katakan. Kampung-kampung telah berguguran kawan.

Agar kau tahu kemana pendulum peradaban bergerak, marilah kita tanyakan pada orang-orang yang kehilangan tanahnya atas nama hokum, ia telah ditinggal pergi ibunya dan ia hanya termangu. Sampai suatu ketika, demikian banyaknya hasil-hasil rekayasa yang termangu ditinggal ibunya, pada titik itu maka aku minta kau memaknai lagi tentang itu.

Sobat, apakah etika dan nilai akan kita lekatkan pada rekayasa atau pada hukumnya, hingga tak akan ada yang terjarah untuk menghadirkan apa itu sejahtera. Pada kebingungan itu, akankah kan kita gali kubur Aristoteles, Plato dan Sokrates hanya untuk bertanya kemana etika, sehingga keadilan terus berlari, bahkan sampai hari ini.

Jakarta, 14 April 2011

Advertisements