Archive for June, 2012


Catatan Harian di Oxford : Memintas pagi Ke Shipping Campden

Andiko St. Mancayo

Chipping

Oxford pagi baru saja mengetuk pintu. Tanggalan berlari ke angka tiga puluh Juni dan aku harus mengejar kereta ke sebuah desa kecil yang indah bernama Sipphing Campden. Kota ini menggeliat malas melemparkan selimut malam yang dihantarkan matahari yang teramat lambat turun ke peraduan. Waktu demikian panjang di musim panas.

Sepanjang jalan lurus dari Roseehill ke Oxford City Center, pintu demi pintu tak juga terbuka. Angin dingin yang berangkat dari kutub seolah irisan halus, tapi menggigit dan mengkuliti sekujur tubuh. Agaknya si Giovanotto-Manifattura Italiana, jubah kulit Italy-ku tak cukup ilmu membungkus seorang pria dari Katulistiwa yang hidup di gelimangan sinar mentari, dari terkaman angin pagi.

Seketika sarung hand made, tenunan para mama-mama dari pedalaman Lanrantuka-Flores yang teramat setia menemaniku mengukur jalanan dari hutan ke desa, dari kota ke titik episentrum negara-negara, dari Asia ke Eropa, hingga ke tanah para Indian dan kali ini “janjian” membawa singgah di tanah para ksatria emporium teramat besar dan tua, itulah tanah Inggris, dan sarung itu kemudian membebat erat leherku.

Tak lama kemudian, seorang pria dari balik box kemudi dengan sebuah senyum termanis pertamanya pagi ini mengucapkan Thank You Sir, ketika aku selesai menempelkan tiket elektronik merahku pada mesin pemindai disisi kirinya dan kakiku melangkah mencari sebuah bangku kosong dekat pemanas disisi kanan bangku-bangku yang dikhususkan untuk kaum difabel. Beberapa penumpang larut dengan rencana paginya.

Di kota ini, Kapitalisme tumbuh dengan standar kesopanan dingin para aristokrat. Dimana hampir semua orang memiliki senyum yang berlebih dan dengan ucapan terima kasih yang melimpah ruah dan kadang terasa tak biasa mendengar seorang sopir bus mengucapkan terima kasih setelah kita menumpang di busnya yang nyaman, hangat, wangi dan tentu saja anti copet. Seharusnya kita yang berterima kasih, tetapi lelaki itu yang lebih dulu, seolah tak ingin kehilangan kesempatan beramal, karena senyum saja sudah ibadah, apalagi kalau diiringi dengan ucapan terima kasih dengan aksen British yang sangat Fluend sekali.

Tetapi pada sisi mata uang yang berbeda, sesopan itu pula harga-harga dipatok, dingin tampa daya tawar, anda suka, maka anda bayar. Secangkir kopi dipatok antara satu setengah hingga dua pounsterling, kopi seperti itu yang sanggup anak sekolah beli, jika tidak juga, maka disarankan anda mengaduk kopi sendiri dan menentengnya sepanjang hari.

Namun demikian, ibarat lampu temaram di teras rumah, sejak Afred the Great memancang kota ini, selayaknya anai-anai, kota ini telah berubah menjadi cahaya yang mengundang anai-anai merubung, hingga gemerlapnya berakhir pada masa ketika sayapnya telah berguguran. Itulah para siswa yang menghadirkan dunia kecil yang plural, antara kaum samurai yang mengantar matahari mendaki, hingga ke Magribi, tempat mentari pulang diantar dinasti Shalih bin Mansur.

Tak jauh dari Oxford City Center, dimana Bus Nomor 3 berakhir, sebentuk jalan menurun dan landai berakhir di Oxford Railway Station. Angin dingin masih saja menyapa di stasiun tua ini. Pada titik dimana jalanan berakhir disebuah pelataran parkir Oxford Bus Company, anak tangga bersusun rapi mengantar para pelintas pada pintu utama otomatik, disitu sejak lama banyak cerita tercecer, terserak sampai di pelataran peron dimana deretan cafe menyapa dengan harum hangat kopi pagi dan sepotong sanwich, jauh sejak pertama kali Great Western Railway pada 12 Juni 1844 membangun tempat, dimana segala emosi tumpah pada setiap keberangkatan dan perpisahan yang dihadirkan oleh peluit kereta. Rasa yang memalangi sepanjang jalur antara London dan Edimburg.

Sebatang Dji Samsoe malu-malu terbakar dan melentik, sebab tak mudah baginya mengekspresikan diri pada banyak tempat di kota ini dan hidupnya akan berakhir dengan mengenaskan pada kotak kecil, asbak resmi yang dilegalisasi oleh Oxford City Council. Ada banyak mata elektronik menggantung, mengawasi dengan stiker yang melekat strategis yang berbunyi “Disini Ada CC TV yang Bekerja”, kira-kira begitulah ancaman yang dibungkus dengan sempurna.

Di sisi kanan, berderet rapih tiga box dengan antrian nyaris seperti terakota, para petugas dengan mikrophon kecil berbicara kepada pengantri tiket. Kereta yang penuh setiap akhir minggu, akan menguras manusia seisi kota dan menyebarkannya pada stasiun-stasiun kecil dipedesaan dan kota-kota kecil, dimana itulah masa ketika seorang anak beserta cucu mengunjungi nenek dan kakeknya diakhir pekan dan dimana para bujangan menyebar seperti kupu-kupu yang terhambur dari kepompongnya, memintasi tanah Inggris membunuhi waktu. Kota ini akan lengang semati kuburan tua yang tersebar hampir disemua gereja uzur di kota ini.

Di sisi kiri, pada deretan meja-meja dengan kopi yang mengepul para pelintas tampak bergerombol. Wangi jerangan kopi pada cofee maker, cafe kecil ini menguap, kemudian merambat pada deretan koran, buku-buku, serta permen dan kue-kue, deretan botol demi botol Wine yang hampir saja mengembun seperti tersentak, terjaga dari barisan rapih di rak toko kelontong kecil itu, pada akhirnya wangi kopi pagi terjerambab di meja bundar ditengah-tengah peron stasiun kereta itu.

Dan disitu, diantara perbincangan pagi hari para perempuan tua, sebuah cahaya hangat, tetapi pedang menembus, menyapa dari kedalaman dua mata biru seseorang yang mewarisi dengan sempurna keindahan pegunungan Alpen Switzerlan. Segala perumpamaan Melayu tentang seorang perawan yang akan menjadi pintu segala dinasti, runtuh sudah !. “Where do you want to go, sir……..?”, ah mati sudah…..

Pada sebaris kalimat pertama, suara lembut seperti dentingan harpa yang dipetik oleh para dewi dalam mitologi Yunani berdenting, menghamparkan sebuah negeri kecil namun kaya diantara kepungan Jerman, Itali dan Austria, yaitu Switzerlan. Mungkin saja ia berdarah Aria pada garis geneologis aristokrat Jerman dan Austria, tetapi romantisme Italiano telah mengakhiri keindahan kecil di pagi itu pada adi karya terhebat seorang maestro. Mungkin saja ia adalah sintesis antara Monalisa dengan Cleopatra-Queen of Egypt, ataukah ia adalah reinkarnasi antara Zenobia-Queen of Palmyra dengan Hellen of Troy. Akan tetapi kata Sir dengan sedikit aksen penuh tekanan diakhir kalimat itu telah mengubahnya menjadi Joan of Arc lengkap dengan Zirah dan pedang terhunus, seperti menghadiahkan cermin kepada seorang pemuda yang mengirimkannya surat cinta kepadanya. Indah sekaligus tragis !.

Aku akan ke sebuah tempat yang dicantumkan Kitab Domesday di penghujung 1086, dimana ladang-ladang gandum sedang tumbuh dan padang rumput dimana kuda-kuda terbaik berlari. Desa kecil dimana Baptist Hicks (1551 – 1629) membawa dukanya dari London yang rusuh dan berkubur bersamanya di St James Curch, gereja berpagar pusara-pusara masa lalu didesa itu.

Tahukah kau bangaimana matahari musim panas perlahan merambat turun hampir di ujung puncak waktu dan berhenti pada secangkir English Tea di Bantam Cafe yang berdindingkan deretan bebatuan berderet rapi sejak 1693, setiap seginya adalah sejarah yang terhampar sebatas pandang pada pasar tua diseberang jalan. Disitu Market Hall dengan lengkungan yang menakjubkan, berdiri tegak menaungi pedagang wol sejak 1627.

Sepertinya didesa ini, di Shipping Campden aku temukan jawaban kenapa Emporium Britania Raya begitu perkasa mengirim seorang Sir Thomas Stamford Bingley Raffles memintasi bayang-bayang matahari tropis, membiduki Singkarak, memancang The Union Jack di ketinggian puncak Simawang, dan berdiri termangu di Pagarruyung menyaksikan puing-puing sebuah dinasti aristokrati pula.

Aku tahu, mereka dibesarkan dengan memahat gunung batu dan merekalah para penyihir peradaban yang jejaknya berbaris di desa ini.

Chipping Campden, Gloucestershire, Cotswold countryside-United Kingdom.

Advertisements

3151382974505805

Cerita pagi ke dua di Oxford : Pada Secangkir Kopi
Andiko Sutan Mancayo

Ini adalah pagi kedua di Oxford. Cuaca musim panas jatuh dibawah angka 20 derajat Celcius dan sedang terus menuruni tangga menuju titik angka 10 dan tentunya dingin telah demikian sukses menelisik dan menembus tiap lipatan pakaian dan hampir tak mengacuhkan lapisan demi lapisan, diantara jaket, tshir dan underware. Gigilnya telah menggetarkan hampir semua organ yang tersembunyi.
Jendela kaca di sisi kanan ranjang, telah mengembun, seperti menyampaikan salam dari hujan pagi pertama ini. Tetesan air bergerak perlahan, malas dari kanopi kecil, lalu menggurat lembut kaca dan berakhir di sisi bawah yang membingkai kaca itu. Sekitar sepuluh meter diantaranya, sebatang pohon yang baru saja aku kenal, seperti penari, anggun melambai disapa angin dan mengingatkanku pada Chairil Anwar, penyair kesukaanku yang berhasil membungkus indahnya kesendirian luruh pada cemara yang ditiup angin pada bait-bait sajaknya yang “Derai Derai Cemara”.
“Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam”
Aku tidak tahu apa yang disumpahkan pertama kali oleh Alfred the Great ketika “meneruka” pertama kali tanah ini di awal abad ke 9 itu. Pada saat yang sama, jauh di Timur sana, di ujung sebuah pulau yang pernah dipintasi Ibnu Batutah, petualang asal Maroko pada tahun 1345, yang kemudian ia lafalkan menjadi “Samatrah”, sebuah kerajaan sedang tumbuh pula, itulah kerajaan Perlak.
Dua abad setelah Alfred the Great memancang kota ini, sebuah kampus berdiri, itulah Oxford yang kukenal pertama kali dari sebuah nama English Dictionary yang pada masa itu tak mungkin berhasil aku lobby para pamanku untuk membelikannya, karena menurutnya, cukuplah belajar bahasa Inggris dengan kamus yang berjudul 50.000 kata dan yang terpenting adalah, kamus 50.000 kata itu dijual oleh temannya sipedagang buku keliling dari pasar ke pasar yang salah satu jualannya yang paling laris adalah komik legendaris yang memfisualkan kejadian di sorga dan neraka nanti, sebuah komik yang berhasil menanamkan secara halus diotakku “Jadilah Orang Yang Rajin Sembahyang”, jika tak mau seperti di komik itu !.

Oxford…..ya Universitas Oxford. Sebagai sebuah benteng pengetahuan dan sebagaimana layaknya tempat yang sama, selain nama ini penuh kegemilangan ketika segala macam rahasia alam diperbincangkan dan ia kemudian menjadi ilmu yang mengantarkan manusia pada kemudahan, namun takdirnya tetap membawa kutukan yang menimpa hampir semua tempat yang sama di dunia, itulah dia “ketinggian menara gadingnya”. Sehingga dalam legenda kampus ini tercatat, pernah terjadi gesekan berdarah-darah dengan penduduk diantara tahun 1228, 1236, 1238, 1248, 1272, 1298, dan memuncak 1355 karena hak istimewa dari raja.
Pagi ini mentari teramat malu-malu menyingkap selimut mega-mega. Di ujung dedaunan, embun kesekian menetes malas dan lambat, waktu seolah tak bergerak. Di dapur kecil rumah ini, harum kopi terjerang di kompor, seperti menggila, menggaruk dan merayu selera, seperti sebuah godaan yang dibisikkan setan-setan untuk minum siang hari ketika bulan puasa.
Yach….bulan puasa…
Lamunanku tersentak, ketika kenangan akan bulan puasa di nagari menyentak kesadaran, sebentar lagi Ramadhan datang dan setengahnya akan ku lewati di kota ini. Sungguh tak ku tahu bagaimana menjalaninya diantara waktu yang sepertinya enggan mengantarkan sahur pada pintu berbuka. Tentunya tak akan ada alunan mendayu lantunan kalimat-kalimat indah mendesis keluar dari sela bibir para gadis pingitan pada malam-malam tadarusan di surau tua nenekku, jauh di kaki gunung Marapi di Minangkabau sana.
Kopi ini telah menggelegak dan harus dituang. Aku tak tahu ini kopi dari mana, tetapi itu tak penting bagiku, kopi sebagai sebuah tumbuhan yang lahir dari senyum para dewa, telah memintasi zaman sejak ia pertama kali ditemukan seorang penggembala jauh dipedalaman Afrika sana. Seperti angin, kopi terbang jauh memintasi Jazirah Arabia, memintasi kota demi kota, menyeberang English Channel dan sekarang mengepul dihadapanku untuk merusak kesadaran dan inginku mencomot sebatang lintingan hasil perkawinan Tembakau Temanggung dengan Cengkeh Tomohon yang begitu susahnya aku bakar di rumah perantau Caribia yang aku tinggali ini. Inginnya aku teriakkan padanya bahwa Kopi, Tembakau dan Cengkeh ini telah menorehkan sejarah hitam, putih, abu-abu atau gemilang dari ujung Magribi sampai ke ujung Tanah Papua. Dan inginnya aku ceritakan tentang tamsil “Melayu Kopi Daun”, hingga ia akan seperti ada diantara Kopi Lampung dan Toraja, Kopi Bengkulu dan Mandahiling, kemudian akan seperti ada dipintu surga pada seruputan pertama kopi Aceh.
Ah…pagi sepertinya telah dimulai, desa ini mulai menggeliat, mungkin akan ada banyak cerita, tetapi seperti Spaghetti yang kuguyur dengan Sambal Makasar pagi ini, cerita itu harus dilekatkan makna dengan peristiwa, sehingga pada titik dimena timur dan barat bertemu, disana sebuah peradaban yang bernilai akan berdiri dalam kesetaraan yang anggun, dan aku harapkan akan bertemu di lidah yang tak biasa ini.

Oxford, 24 Juni 2012