Archive for April, 2013


Pada Sebuah Ziarah : Catatan Perjalanan Pertama Ke Limboro.

Advertisements

Pada Sebuah Ziarah : Catatan Perjalanan Pertama Ke Limboro

Dalam belaian angin gersang
di atas bukit nan sepi
engkau terbaring
dalam tidurmu yang lelap

dalam temaram senja kelabu
di sisi lorong yang sepi
engkau tertidur
di kesunyian abadi

(Pusara Tak Bernama dari Black Sweet Papua)

Sore ini berlari mengejar senja, bukit dan gunung-gunung curam mulai tersapu kelam ketika segenap kenangan berlari menyusuri jalanan di bibir pantai Teluk Palu. Hujan tumpah dari sepotong langit Sulawesi Tengah seperti menanyanyikan sebuah lagu jauh dari masa lalu dari tanah Papua. Kali ini aku larut pada sebuah ziarah, ketika riak bertepuk dengan air yang mengucur dan lidahnya menjilati tepian karang, dimana segala hal telah dipahatkan.

Aku berlari dalam kenangan bait-bait lagu pusara tak bernama itu, ketika jasad yang terbaring telah menghadapi kefanaan kodrat Manusia, tetapi segala apa yang dipikir dan dijejakkan, untuk rakyat, sepanjang masanya ada, tetap menyala di dada-dada mereka yang tersentuh kehadirannya. Lelaki itu duduk bersandar di bawah pohon rindang yang meneduhi pusaranya, dipangkuan terbentang segala cerita tentang negeri.

Bagaimana kabarmu bang….? dan aku mulai ziarah dengan cerita kampung-kampung berguguran tersapu angin perubahan, berhembus kencang dari barat ke timur dan gelombangnya semakin mendekat ke pangkuannya.

“Ekspansi pertambangan di Kabupaten Morowali dalam waktu 5 tahun terus meningkat secara signifikan. Tercatat jumlah IUP mencapai 189 yang diterbitkan Bupati Morowali, dan itu merupakan akumulasi dari perusahaan pertambangan yang ada di sana, tetapi hanya 77 IUP yang masuk kategori clean and clear,” jelas Koordinator JATAM Nasional, Andri Wijaya dalam siaran pers yang diterima Sindonews, Rabu (12/12/2012),

begitu aku kabarkan padanya..

Sejenak lelaki setengah baya itu melayangkan pandang pada teluk yang lama tenang yang perlahan mulai bergolak. Ah…pembangunan dan pembangunanisme…sejenak lelaki itu bergumam dan seketika detak jantungku melambat diantara dua kata itu.

Tahukah kau ujarnya, sebuah kata apalagi kata pembangunan tidak akan berhenti pada makna kebendaan yang ditanggungnya sebagai sebuah kata benda yang berisikan proses dan usaha untuk meningkatkan kehidupan ekonomi, politik, budaya, dan kemaslahatan serta kesejahteraan manusia. Akan tetapi pada perkawinannya yang memparipurna dengan “isme” dimana segala piranti kekuasaan kemudian menyokongnya, ia kemudian mengidiologi dan disitulah kita mulai cerita pada kedatanganmu kali ini, ujar lelaki itu ketika angin senja mendesau disela kusut masai rambutnya.

Pembangunan sebagai sebuah “isme” yang kemudian men “taqlid” menjadi sebuah kepercayaan dan disitu keyakinan berdiri tegak, tentu akan menebarkan berbagai kisah romantic, heroic sekaligus melodramatik dimana manusia meniti jembatan perubahan menuju jalan yang terang, namun kerapkali tersesat pada demikian banyak jebakan fatamorgana, dan ketika kata pembangunan itu tak berjiwa selain penghambaan pada pertumbuhan, maka disitu ia tidak akan pernah mengabdi pada jalan dan fitrah kemanusiaan.

Pembangunan-isme meletakkan dasar kemodern-an pada tata nilai dan ruang mimpi yang jauh berjarak dari pada mimpi-mimpimu, sebagai sebuah negeri yang telah melewati mimpi buruk kolonialisme, maka kemerdekaanmu akan mimpi tentang kesejahteraan, adalah mimpi dan deret itung para tuan, sehingga tak relefan memang berbicara tentang kearifan, karena disitu tata pasar akan berhenti bekerja.

Tahukah kau, tukasnya…..sebuah isme beribukan wacana yang menghegemonik dengan reproduksi pengetahuan yang massif dan kerapkali berkait kelindan dengan kekuasaan. Karena itulah, seperti yang Mansoer Fakih tuliskan, dominasi sebuah wacana bukanlah bentuk sederhana dari pertarungan abadi tentang sesuatu yang benar atau salah, tetapi tentang sebuah ketelanjangan power dan kekuasaan yang dimiliki oleh sipemilik wacana itu sehingga pembangunan sebagai sebuah jalan selamat yang dijanjikan, menjadi sebuah isme, mengidiologi yang bermandikan fanatisme, totalitas dan kerapkali brutal untuk sebuah perubahan social yang tata nilainya telah lebih dulu ditakar dari jantung wacana itu.

Sedikitnya 32 tahun barang kali kita begitu taqlid kepada kata pembangunan ini dan ia mantera yang menyapu kesadaran, sebagaimana makna yang dikandung oleh taqlid itu sendiri, tangan-tangan kuasa pemaknaan telah mengalungkan kalimat itu sedemikian rupa, mencuci akal sehat dan bahkan kerapkali membutakan nurani. Ternyata hari ini, hiruk pikuk itu tak berhenti, tetapi justru semakin menjadi-jadi, sergahnya dan aku terpaku di nisan itu.

Lelaki itu kembali memantik evolusion merah keduanya….”aku merindu” katanya. Sejenak ia sandarkan segala kenangan pada pokok pohon yang menaungi pusara di perbukitan Limboro itu, dan jalanan menjelang magrib, terlihat lengang.

“Aku rindu pada gelegar gema preambule konstitusi yang dikumandangkan tunas-tunas bangsa dengan fasih saban kali upacara bendera…….”, kemudian lelaki itu mendesiskannya, sendu, layaknya pemuda belia ditinggal kekasih

“Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.”

“Tahukah kau wahai anak Jakarta (begitu sebutan terakhirnya kepada kami), bagaimana kita maknai merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur ketika ibu pertiwi tak henti dijarah. Bagaimana kita wariskan negeri yang akan segera kering kerontang ketika kita memperlakukan tanah dan air, seperti kuda tua yang tersasar di kerumunan para srigala !” dan mereka seperti zombie melafalkan kata pembangunan seperti layaknya mantera.

Sungguh aku mencoba memahami apa yang dipikirkan Soepomo ketika ikut mendirikan negeri ini, ujarnya sembari membolak-balik risalah sidang BPUPKI, ketika malam hampir saja menyentuh ketinggian itu.

Baiklah, aku bacakan, katanya…

“ Negara ialah suatu susunan masyarakat yang integral, segala golongan, segala bagian, segala anggotanya berhubungan erat satu sama lain dan merupakan persatuan masyarakat yang organis. Yang terpenting dalam Negara yang berdasar aliran pikiran integral ialah penghidupan bangsa seluruhnya. Negara tidak memihak kepada sesuatu golongan yang paling kuat, atau yang paling besar, tidak menganggab kepentingan seseorang sebagai pusat, akan tetapi Negara menjamin keselamatan hidup bangsa seluruhnya sebagai persatuan yang tak dapat dipisahkan. (Yamin I, 1959;111). Menurut pengertian Negara yang integralistik, sebagai bangsa yang teratur, sebagai persatuan rakyat yang tersusun, maka pada dasarnya tidak ada dualism “Staat dan individu”, tidak akan ada pertentangan antara staat dan susunan hokum individu, tidak aka nada dualism, “staat und staatfreier Gesellschaft” (Negara dan masyarakat bebas dari campur tangan Negara). (Yamin, I, 1959 :114)”, (dlm Adnan Buyung Nasution, 2001)

Barangkali apa yang dia katakan adalah bangunan ideal dan keniscayaan akan sebuah entitas politik bernama Negara dipenghujung kolonialisme yang segera tersapu oleh badai nasionalisme yang membawa Negara bangsa jauh dari seberang lautan, sebuah masyarakat baru yang segera berdiri tegak, kokoh dan berwibawa pada panggung tata dunia baru.

Namun demikian kemerdekaan barangkali memang memenggal secara politik dan deyure sebuah masa yang secara heroic telah dibenamkan pada lembar gelap sejarah, namun sekaligus menjadi jembatan bagi mental anomali yang bertiwikrama dan melanjutkan epic colonial itu. Faktor itulah yang tak dihitung, dimana bangunan Negara itu rentan diperkuda untuk kepentingan yang jauh dari cita-cita bersama, dimana diatas itu, negeri ini berdiri. Kemudian lelaki itu tafakur, menghela nafas untuk kembali pada keheningan perjalanannya dan aku tahu itulah masa dimana aku harus pergi.

“dalam temaram senja kelabu, di sisi lorong yang sepi, engkau tertidur, di kesunyian abadi”

Palu, 8 April 2013

Pondok Yurika-Pekanbaru

Posted: April 23, 2013 in Uncategorized

Pondok Yurika-Pekanbaru
Friday, December 25, 2009 6:34:55 AM
Palangkahan kali iko yo rancak bana. Tabang dari Jakarta ka Pekanbaru, dapek pulo garuda nan sabana baru. Baru catnyo, baru interiornyo dan mungkin baru masinnyo pulo. Di sandaran bangku, saketek diateh meja nan talipek, tapancang mode tv lcd ketek nan bisa iduik dek jari, layar sentuh kato urang. Banyak informasi jo film pendek didalamnyo, yo bana sibuk para penumpang mancubonyo. Barangko biasonyo hanyo basuo di pesawat internasional.

Sakicok, alun pueh jari mancubo tv ko, pilot manyampaikan kito alah ka turun di Sutan Syarif Kasim II, palabuhan kapa tabang di Pakanbaru. Takana wakatu SD, guru mangecekkan kalau palabuhan ko banamo simpang III (kalau ndak salah), antah pabilo baganti pulo. Sampai di pintu kalua, manunggu panitia manjapuik. Setelah oto mambao kalua, batanyolah ka karean nan manjadi supir, kamano rencana makan. Baliau ka ma ajak ka seafood keceknyo. Dek pangana alah ka gulai paku, dimintaklahnyo ma antakan ka lapau Malayu. Indak bara kali gas, sampailah oto di kadai nan banamo Pondok Yurika, sahampia dari musajik gadang.

Ndak lamo badan manunggu, datang palayan mahampa jamba. Partamo tahidang gereng ikan salai, sapiriang balado mudo, sapiriang balado merah. Sasudah tu disusun sagalo gulai, mulai dari gulai putiah sampai ka gulai pucuak parancih nan manimbun ikan salai gadang. Ndak lamo datang mairiang palai, sairiang jo asam padeh patin. Tapi ndak lamo, datang apo nan ndak disangko-sangko, muncul gulai langkitang jo asam durian, langkok jo pandampiang beberapa samba lado. Datang panutuik sayua abuih, bacakak raso kambeh jo rimbang.

Kasimpulannyo, yo bana barubek kangen jo Pakanbaru ko.

Salam

andiko sutan mancayo

Talu Koto Kenangan

Posted: April 23, 2013 in Uncategorized

Talu Koto Kenangan
Sunday, December 27, 2009 3:11:37 AM
Talu Koto Kenangan

Rami lah rami pasa rang Talu
Rami dek anak si urang Kajai
Dima lah hati indak ka rindu
Sadang basayang badan bacarai

Dima lah hati indak ka rindu
Sadang basayang badan bacarai

Yo rang Talu, yo rang Talu
Den takana, yo rang Talu

Jikoklah sanak ka Pasaman, Pasaman Barat kini nangko, janlah lupo ka Nagari Talu. Talu koto kuali, dikapuang bukik kaliliangnyo, duduak maharam si Talak Mau. Disinan Tuanko Bosa mamarentah, mancurai adaik ka anak nagari.

Katiko Padang Sawah alun rami, alun jalan basimpang tigo, sasimpang ka Malampah Ladang Panjang, tambuih ka Kumpulan jo Bonjo, benteangnyo Pidari. Sasimpang ka Manggopoh, tampek si Siti mancabuik padang, manantang urang ulando.

Tasabuiklah sutan anak rang Bunuik nak manggaleh bareh ka Bukiktinggi. Sawah tabantang sampai ka Aia Maruok, kuniang ameh rononyo, Imbang langik nan sirah dado, ayam gadangnyo. Disinan mako gali-gali masam Nan di Pertuan Parik Batu, tapaso dilapeh adaik barajo-rajo.

Sajak dari Kinali Dandam Tak Sudah, dilayangkan pandangan ka Simpang Ampek. Simpang ampek Koto Sibuluan, tampek nagari di pancang Rajo, disinan mangkonyo Padang Tujuah, salompek mangkonyo Pinaga. Padang Tujuah ka dibaco, tampek dewa manjajak kaki, dek sumarak bungo nan kambang, banyaklah rang mudo tarambau.

Barulah Oto bamalam di Talu, tampek patamuan anak nagari. Talu koto nan hilang, baserak serai sagalo kenangan, balapau tuo di pasanyo. Jiko untuang lai elok, basuo sanak jo Ronggeang Pasaman, Rang Talu lagunyo. Iyo bana tasansam nan mudo-mudo, luluah hati dek karanonyo.

Cincin di jari alah suaso
Tagah dek pandai malenggokkan
Hati jo jantuang alah binaso
Tagah dek pandai mambaokan

Hati jo jantuang alah binaso
Tagah dek pandai mambaokan

Yo rang Talu, yo rang Talu
Den takana, yo rang Talu

Kok Talu ka di baco, baserak serai si ayia mato. Disinan rantau di mulai, manyabuang untuang ka nagari urang. Tabayang sawah gadang lumbuang bapereng, makanan anak nagari, disilau patang jo pagi. Bandanyo banda buatan, bakucatak alu di kincie, tampek anak gadih manumbuak padi jo kopi.
Nagari Talu sabana indah, pinang balirik mamaganyo, sajak dari Sinuruik salo manyalo, sampai ka ateh bukik nan bakasiah jo awan. Makanan bundo kanduang parintang ari. Jiko sanak nak mancubo, cubolah kacang tanah randang sambia maambuih kopi, bajaso tanah manumbuahkan, tanah santiang ranah pilihan. Kok gulonyo, gulo anau, basaga urang mamanjek, patuih tungga ka tantangannyo.

Satonggak jalan labuah nan luruih
Babelok jalan ka batang umpai
Basab badan mangkonyo kuruih
Banyak mukasuik nan indak sampai

Basab badan mangkonyo kuruih
Banyak mukasuik nan indak sampai

Yo rang Talu, yo rang Talu
Den takana, yo rang Talu

(dalam tulisan terdapat penggalan lagu berjudul Rang Talu yang legendaries)

Reportase Ampera Arengka

Posted: April 23, 2013 in Dendang Kuliner

Reportase Ampera Arengka
Friday, December 25, 2009 6:39:16 AM
anjo merah sago di langik Pakanbaru sore ka duo ko. Bias merahnyo jatuah di kaki langik nan bakasiah-kasiahan jo puncak rumah di jalan cubadak. Haniang bakatuik sanjo rayo, mananti azan mancabiak langik, mangguguah jantuang kasadaran, maimbau jauah, alah tibo saruan. Ditutuik galeh, dilipek lapiak jamuran, kaki talangkah ka pincuran mekanis di kantua ko, dingin dimuko nan tasiram, jatuah dihati mangapuih langang.

Sabatang rokok dari itu, dek lapa, kaki talangkahkan ka jalan Arengka. Saderetan jo terminal lamo, tampek bamacam-macam kenangan manih jo parasaian pernah tajadi. Ganti baganti Sinar Riau mangukua jalan, manurunkan panumpang jo manaikakan pasisie, langkok basarato kisah jo alasan perjalanannyo. Sajak zaman roda barantai manambuih rimbo sampai ka Dumai, sampai ka zaman travel nan manampuah Pakanbaru-Bukittinggi dalam 4 jam, disinan taserak sagalo jariah, bialah saluang nan manyampaikan, bialah rabab nan ka mandendangkan.

Kaki malangkah ka Ampera di tapi jalan Arengka, bangku basusun ma apik meja. Duo tigo pasangan jo keluarga, sibuk mangicok-icok samba. Di longok pulo garobak etalase, basusun pulo sagalo jamba. Mulai dari randang, ikan goreng balado, asam padeh, sampai ka taruang babadak lado. Dideretan kaduo, basusun dendeng kariang, badampingan jo ikan salai goreang, dibawahnyo tasusun loyang gulai, basarato jo tumpukan palai bada. Tapi bukan itu nan maimbau sanak. Disuduik diantaro randang jo palai, tasalek sapiriang sardencis goreng. Coklat aluih mode kayu tingga di tapi rimbo, bagulimang jo lado sirah. Raso tabuka kunci salero karanonyo. Katiko tunjuak mangarah ka sardencis ko, mato tatumbuak jo bada kariang, ikan asin caro nasionalnyo. Raso barubek rindu ka kuliah, jo bada asin mandeh pokok’i. Bia sa ayun jamba turun, bia bakawan sardencis jo bada masiak, dimintak pulo si palai bada, sarato pulo jo taruang babadak lado. Bia nak langkok pantun sairiang, karupuak jariang nan tagantuang mintak sato, dicabiak palastik bungkuihnyo, di susun di dalam cipia, akhianyo bamandi kuah asam padeh.

Sampai ka suok kasakian, datang mandorong teh paik angek, padeh, asam bagulincam pinsan, dibunuah jo angeknyo teh cap bendera ko. Sakatiko badan tasanda, bacucuran paluah di dahi, dipatiakkan dji sam soe sabatang. Iruik partamo pambalasan untuak makan nan ndak pernah baraso di Jakarta, isok ka duo mato nana, isok katigo takana mangubak pisang buai.

Ndak lamo tarantang itu, kaki malangkah ka panginapan, tapi sabalun sampai ka simpang hotel ko, mato tatumbuak ka tulisan teh talua jo sikoteng. Disuruah oto baranta sejenak, masuak palahan ka lapau nangko. Ndak lamo datang tahidang teh talua itiak jo sakapiang limau kapeh. Dipicik limau kapeh, jatuah manitiak di busa talua, jatuah bakalincau jo coklatnyo. Di hiruak dalam hangek, salo manyalo busa jo angin masuak muluik, raso di ujuang-ujuang lidah manihnyo. Raso sayang ka diabihan.

Untuanglah kaki ndak nio turun di deretan Cafe-Cafe nan ditawarkan, karano pakak talingo mandanga lagu, sampai taloncek tanyo ka mandan sairiang “kawasan apo koh ?”, galak pencong kawan ko, tabao urang jadul malah ruponyo, muko rambo-hati rinto, gaya metal-hobby saluang, yo lagu Zalmon juo nan ka mambuai.

Sakitu dulu reportase hari kaduo, semoga bisuak jadi janji makan siang bareng pak JP.

Salam

Andiko Sutan Mancayo


Pekanbaru-Reportase Hari III : Lapau Nasi Urang Lintau
Friday, December 25, 2009 5:34:29 AM
Pekanbaru-Reportase Hari III : Lapau Nasi Urang Lintau

Tapek di angko sabaleh, jam dindiang badantang sakali. Dantang haluih manjantiak talingo, tasintak badan mandanganyo, iko nyo janjian lah tibo. Dilayangkan pandang kalua, tatagak bendi bugih itam. Kusianyo sabana licin, gaek alun mudo talampau, urang bailimu bantuaknyo (berwibawa kalau di pejabat). Di uluakan tangan basupaha, tasabuiklah namo udaranyo “JP”. Oh iko bana apak tu, pandeka di rantaunet, bakucindan jo badebat, sampai ka kuliner inyo gubalo.

Ndak lamo sarantang itu, kudo dilacuik mangukua jalan, badarun-darun gas mambalah labuah manuju tampek “pasungkahan”. Duo kali stiur baputa, ampek kali rem badacik, sakali bendi babelok kida, sakali pulo suok mambaleh. Setelah rem tangan di elo, baranti tagak bendi ko, sakilek kusia maloncek. Tatagak oto dilapau urang lintau. Takana maso daulu, katiko naiak Sari Ekpres ka tanah Jao. Satangah hari badan bajalan, panek tubuah dek kelok jalan, oto baranti tantang Gunuang Medan, rumah makan Omega kato urang. Mahariak si supir oto, “ma nan ka makan-makan dulu, ma nan ka sumbayang-sumbayang dulu, oto lai baranti lamo”. Di lua tadanga pulo langkiang suaro urang lapau nasi di toa, “Selamat datang panumpang Sari Expres, silahkan beristirahat-kok kekiri anda wc jo kamar mandi”, baitu kiro-kiro bahaso Indonesia sangkek itu.

Sakali ko, bendi bugih indak panuah, sorang kusia jo tamunyo, di bulakang duduak manis, duo urang buah kasiah nan punyo oto. Duo langkah dari kapalo kudo, tatagak lapau semi permanen. Basusun papan pintu lapaunyo. Salangkah dari pintu, basusun meja jo bangku. Balirik saladah plastic pambasuah tangan di tiok mejanyo. Sadapo dari pintu, tagak lamari kaco etalasenyo, babateh mode meja bar, tampek pangunjuang maulua kapalo dan kasinan kami tagak.

Alah ditukiakkan pandangan mato, layang malayang pancalia’an. Kok jamba yo ndak sarami ampera, antah apo pulo pa elonyo. Mungkinkah disiko raso bamain, ataukah bumbu-bumbu sileknyo. Dietalase baderet samba standar, mulai dari ikan goriang ka ayam goreang, mulai dari gulai ikan ka gulai limpo. Sabalun pandangan salasai manyapu kapalo jamba, mangecek nan punyo bendi “tolong dihidangkan sajo, kaluakan sagalo nan buruak-buruak”.

Mandanga kato mode itu, sakatiko urang lapau manyemba cipia, mode pendekar capeknyo, bapindah sagalo macam isi balango. Samantaro kami, diurak ota mananti jamba tibo. Ndak lamo badan mananti, alah tahidang sagalo jamba. Dibawah, manjadi sandi cipia ikan gulai jo, ikan goring, sandi katigo pucuak ubi jo gulai tunjang. Diateh sandi manonggok, dendeng kariang, bagisia jo cipia talua dadar sataba banta. Dipuncak sagalo jamba, disinan mato jadi tapana. Dek pandai tukang rabab malagukan, dek pandai urang dapua mancari pasangan, sahinggo sacipia tahu jo jariang, alah bakawan kini tempe jo randang.

Ndak lamo nasi manunggu, alah tajun jariang jo tahu. Indak lamo jamba miriang, disinan tajun pulo dendeng kariang. Dendeng kariang pinggua kabau, bagulimang jo lado sirah ratak leba. Coklat langkuang dendeang ko, kilek bakilek dimakan minyak. Alun sampai pinggan licin, mahambuah pulo ikan gulai, jatuah tatunggang ka ateh nasi, ka baa lai, nasi kadimakan juo. Ikan sungajo ditangkok dari sungai, alah batahun baranang maso, jaleh bana jajak manih dagiangnyo. Ikan digulai di api ketek, kulik manih bahan baronyo, sahinggo padu bana santan jo kunyik, ikuik manyarato supadeh jo lado. Sakicok sasudah itu, alah indak rila pulo gulai tunjang, manga wak den dibiakan, manonton kawan-kawan dilepoh kusia.

Bukannyo dimakan, janjian diri. Karano itu, bakucintang pulo inyo di suduik piriang. Tunjang yo sabana tunjang pilihan, mungkin jo ilimu mangubalo. Liek indak gacahpun tido, lakek bana di ujuang lidah. Kok kuahnyo, indak mambaku minyak santan dimakan angin, indak bagalintin tangan dibueknyo. Iyo sabana saulah kecek urang Bukiktinggi.

Tapi yo bana taibo hati pucuak parancih, disingguang indak disapopun tido, baitu bana parasaian, sayua wajib lapau nasi Padang ko. Bakatolah inyo ka urang lapau, kok kaindak dimakan manga den di hidangkan ?. Manjaleklah urang kadai ko, kalau angku indak ado, bukan rumah makan Padang namonyo, karano itu angku di pangguangkan, kami minyaki patang jo pagi. Dek sibuk tangan mangaca jamba, indak sajalan lai jo ota nan kalua, sahinggo nan punyo bendi bugih ko duluan manyarah.

Kok minumnyo, iyo bana urang manggaleh ayia, teh angek nyo agiah es, disinan paneh jo dingin batandiang, sato pulo gulo mambuek mampamanihnyo. Dek lamo galeh ndak di kaca, alah barambun jatuah ka meja, pipet tagak ditangahnyo. Dihiruik sahiruik raso ndak lapeh, hinggo disedot sampai satangah galeh, iko pulo nikmatnyo minum ayia ko, teh es kato rang Padang, Te Obeng kato rang batam, esteh manis kato rang jao.

Lamo bana ayia ko sampai, alah indak saba dji sam soe dib aka. Manggabubu asok ka parabungan, lantiak-malantiak api rokok. Di isok ka tigo datang angin mambelai, bahambuih baputa dari suduik lapau, angin manalisik ka baliak kerah baju, jatuah manimpo batang tubuah, kipeh angin kato rang Lawang. Sakatiko kantuakpun tibo. Mungkin karano itu nabi bapasan, janlah makan balepoh bana, sebab kakanyangan dakek jo mangantuak, kaduonyo induaknyo maleh. Yo bana maleh tagak dari lapau rang lintau ko.
Jikoklah sanak ka Pakanbaru, cubolah bel pak JP dan tanyokan dima lapau rang Lintau ko. Manih jauah, padehpun indak, sabana saukua masakannyo. Jikok di ambo, antahlah jo apo dibaleh jaso pak JP, urangnyo ramah kucindan murah, suko badiskusi jo bacarito, tapi dilua itu sadonyo, makan kito nyo bayia pulo…he..he.. (Tarimo kasih Pak JP, sagan ambo deknyo).

Salam

Andiko Sutan Mancayo


Seri Dendang Kuliner II : Karupuak Ubi Sungai Tarab
Friday, December 25, 2009 5:40:21 AM
Seri Dendang Kuliner II : Karupuak Ubi Sungai Tarab

Iko dendang Karupuak Ubi, parintang jariah di hari patang. Batahun badan marantau, dek indak mako coiko. Baitu bana parasaian, gadang dek bareh rang ba anduak, coga dek baju palosoran.

Kok pintak lai kabuliah, talangkahkan kaki ka kampuang, sabalun mataohari makin sanjo, sabalun bumi mamintak pulang. Yo nan takaninan karupuak ubi, kuah balepoh diatehnyo. Ondeh, jatuah kadalam aia mato, baitu bana paiknyo karinduan.

Kok ubi nan ka di kaji, tumbuhan parumpamaan mandeh kanduang. Jiko anak pai marantau, usahlah manjadi kayu gadang, baguluang-guluang badai manimpo, kok iyo lai iman taguah, salamaik badan kasubarang, jiko tarambau dek kileknyo batiah, kandang situmbin janjian diri. Jadilah nak batang ubi, ditanah kareh iduik juo, urek kadimakan urang banyak, pucuaknyo sabana paguno, manjadi panando warung Padang.

Kok sanak ka nagari ambo, tanyolah ka urang dima urang mambuek karupuak ubi. Disinan tanago jo raso manyatu, sagalo cinto basitumpu. Baa mangko mode itu sanak. Cukuik tujuah bulan ubi ditanam, tibolah maso dibangkik urang ladang. Barangguik mangkonyo jadi, diputuih kasiah jo bumi Allah. Dek ladiang tajam alang kapalang, buatan tukang titik rang Rambatan, bacarai kulik dari badan. Indak cukuik jo itu sanak, timpo batimpo kaki tibo, bakucatak badan didalam karuang, aia tabek sato pulo.

Alah janiah rasonyo badan, tibolah maso api jo baro manjadi rajo. Tigo jam badan diabuih, badendang dorom jo kayu api. Manggulagak aia di tungku, mahao badan diri. Tibolah maso badan ancua, mode hujan datangnyo alu. Alang kapalang hancuanyo tulang. Urang manumbuak bak cando berang.

Tibo maso badan digiliang, dilindi istilahnyo. Jo cinto badan di bantang, manunggu cetakan tibo. Cetak bulek buatan tukang pati, bulek bak cando bulan purnamo. Jo ibo-ibo sayang anjok panjamuran mananti.
Indak salasai disinan sanak. Katiko badan masiak lakang, badan managang dek matoari nan batantang. Mananti pulo minyak angek, kok angeknyo ngilu-ngilu kuku, raso ka di kaca jo jari ampu. Tapi disinan namo baganti, jikok ketek rang sabuik ubi, kinilah gadang bagala karupuak. Minyaknyo dari karambia santiang, bapiliah rang rando mambueknyo. Elok ka minyak rambuik patang jo pagi.

Mandasia minyak di balango, tabang maraok ka bawah paran. Dek badan bak cando si kuduang dapek cincin, kambang marakah dipalun minyak. Mananti pulo kuah sate, sate ajo dari pariaman.

Kuah sate dari Piaman, buatan nak rang Nareh, aia jo lado bagulincam, bacupak tapuang bareh. Ko padehnyo indak talalu, lamak taraso dirangkungan. Tapi lain pulo bakuah saka, titiak manitiak diatehnyo. Manih jo lamak lidah manari, daruak bada ruak masuak muncuang. Karupuak kuah urang namokan, sakupang bakuah kacang, sabenggo bakuah lado.

Bak lamak marintang ari, makanlah karupuak sambia mairuik kopi. Sanda basanda badan tuo, manggarutu gigi guraman, babilang maso bapaloso.

Urang padang marantang banang, dipunta mangko dilipek, dilipek lalu dipatigo, Kok dirantang namuah panjang, elok dipunta nak nyo singkek, singkek sakadar ka paguno.
Yo laaaaaaaaaaaa……….oiiiiiiiii……… Ladang Koto, ba Surau Parik’, galilah sumua di Tanjuang Jomba, badan tuo, iduiklah sarik, manga umua taruih batambah……………kamalah badan ka batenggang………la…ooiiiiiiiiiii…. (post power sindrom kawan ko…he..he..).

Sakian dulu sanak, dendang Karupuak Ubi Sungai Tarab ko. Kok marekan nan tasampaikan, tolonglah disutokan. Iko carito parintang-rintang ari.
Salam

Andiko Sutan Mancayo


Seri Dendang Kuliner III : Katupek Pitalah
Friday, December 25, 2009 5:42:06 AM
Seri Dendang Kuliner III : Katupek Pitalah

Marintang-rintang hari, malakik Garudo tibo. Raso ma hampia badan ka Batam, sakali lompek ka pintu rumah. Di kambang lapiak pandan lusuah, di suduik executive lounge ko. Disentak rabab tampuruang, paragiahan tukang tuo, gesek digesek tali rabab, malangkiang geso ka pintu sarugo.

Samtangpun basusun Coca Cola jo Pepsi, tagak manjangua sagalo juice, masin pambuek kopi disuoknyo. Basusunlah bana jamba nan ado, sagalo macam, raso ka mungkin, aia diminum saraso sakam, nasi dimakan saraso baro, hanyuik badan dek pangana.

Nan takana nagari Pitalah, baliku tajun jalan kasinan. Kok Pitalah ba Kubu Karambia, Tanjuang Barulak jo Batu Taba, kasinan kudo diarahkan. Sanang hati indak takiro, lompek malompek di tangah jalan, bairama rantak kudo, batingkah bunyi gantonyo. Kok kudonyo katurunan si Gumarang, pamenan Dang Tuangku jo Cindua Mato.

Katupek Pitalah…., iko dendang nan ka dibaco. Katupek basagi ampek, basiku kampek suduiknyo. Bareh nan dari padi si sayang, padi abuan pangulu pucuak. Putiah nan alang mangupalang, hiasan rangkiang si Tinjau Lauik. Putiah basarang katupek, sarang di anyam kambang nagari. Rila pucuak ndak kajadi daun, asa lai sato manambah raso.

Katupek bakawan gulai cubadak, cubadak sati dari bukik tampuo, basarang naniang dipangkanyo. Kok gatahnyo alang kapalang, mode hujan darah mancucua, bak cando rando ditingga laki. Cubadak dikinca jo sakalian pamasak, tandaiang batandiang lingkueh jo lado, mamadeh santan pilihan, datang kunik manguniangkannyo. Ko harumnyo alang kapalang, di bao angin kapalang, maurak puaso hari partamo. Kok balangonyo, Balango tanah dari Galo Gandang, hitam bakilek dimakan api. Disinan santiangnyo hitam arang, manta raso sampai ka hati.

Dibalah katupek diserakkan, tajun manimpo gulai cubadak. Bukannyo hanyo katupek nan mangundang, tapi harumnyo nan manggilo. Sasendok katupek dimakan, tahujam lamak ka jantuang raso. Di cubo sendok kaduo, minyak malepoh tapi bibia, kiro-kiro disendok katigo, disinan kasiah sarik diungkai, bak cando anak kabau arek manyusu, indak baranti sendok jo gurapu.

Di baco lai kaji satonggak, dek Garudo ka datang maraok. Ikolah pasan untuak dunsanak, nagari Pitalah sabana harok. Datanglah…datanglah…kami nanti jo balai rami, kureta api mambalah ditangahnyo. Langkiang-malangkiang bunyi pupuiknyo, danguih mandanguih kapalo kudo, parasaian urang rantai nan nyo kabakan.
Sakian sanak, imbauan ka tibo, malangkah pulo kaki ka janjang kapa. Ikolah untuang urang manggaleh babelok, dima pasa lapak dibukak, digeso rabab tampuruang tuo. Kok lai ibo urang nan lalu, tacampak juo kapiang benggo.

Salam

Andiko Sutan Mancayo


Seri Dendang Kuliner VI : Gulai Jangek jo Bungo Juha Balimbiang
Wednesday, January 6, 2010 3:21:42 AM
Seri Dendang Kuliner VI : Gulai Jangek jo Bungo Juha Balimbiang

Pisang si kalek-kalek hutan
Pisang timbatu nan bagatah
Koto Piliang inyo bukan
Bodi Caniago inyo antah

Padiah tasansam pagi nangko, mananti Garudo maraok ka landasan. Dipandang-pandang sajo deretan kapa, malintang-lintang di parantian. Kamalah pangana manguok pagi nangko, yo ka Balimbiang sanak, ka sinan jajak ditikam, takana ranah bako. Itulah nagari Balimbiang, batang bangkaweh nan mambalahnyo, lareh nan panjang manjadi pilihan, ka nagari tuo sangketo di bao.

Bagamuruah batang bangkaweh
Ditundo hujan dari hulu
Rusuah datang manjadi uweh-uweh
Takana maso jo niniak dahulu

Dawi namo niniak ambo,
manggaleh gulai ka pakan-pakan,
kasiahnyo bukan si padi ampo,
tapi sungguah dalam mancukam.

Kalaulah sanak pernah ka pasa Batusangka, toko batingkek di imbauan urang. Toko tuo ba abih maso, ba tujuan urang ka sinan. Hari Kamih hari pasanyo, banyaklah urang manggaleh lamang, manggaleh gulai jangek jo bungo kayu juha. Itu dendang nan ka di baco.

Gulai jangek, gulai jangek jawi tabungan, dilapeh angok mangkonyo tangga. Disinan bacarai kasiah jo urang gubalo, jatuah manitiak aia mato, jawi kasayangan dijua bapak, mati di dabiah si tukang bantai. Sakatiko angok tabang, mode manari pisau si rauik manangga kulik, jangek bacarai jo badan diri. Katiko jangek tangga, alah manunggu si matohari, masiak tagang kajadinyo. Itulah nan jadi pokok galeh niniak ambo.

Jangek bajapuik ka pasa Ombilan
Kadai banamo si kumbang jati
Jangek di katam manjadi licin
Baru disinan unggunan mananti

Sahari jangek di kuduang, dibaka manghitam di unggunan, ndak lamo arang dikikih, barulah di anok di parandaman, disinan jangek manguniang, jajak nyalo si lidah api. Cukuik hari ka tigo, disinan kancah alah di tungku, dijarang sagalo pamasak jo lado, cukuik sarato jo santan pilihan. Antahlah bara karambia nan hilang, asa gulai indak manjadi jalang.
Bialah den tanam mumbang
Mumbang kok lai ka jadi kalapo
Bialah den tanam kasiah jo sayang
Sayang kok lai ka manjadi cinto

Jo kasiah niniak kadapua, sajak sanjo ka tangah malam. Bia nak dalam raso dalam mancugam, disinan gulai jangeknyo manjadi kaninan. Dek di balango tanah gulai di kincah, disinan santan jo bumbu manjadi padu. Kok jangeknyo, jangeknyo layuah-layuah tagang, taba saukua cukuik pangganja gigi, lidah sato mamalunnyo. Dek gulai yo sabana santiang, batahun urang mambali, manjadi karinduan patang jo pagi.

Sa iriang jo gulai jangek, disinan bungo juha sato di gulai. Antahlah apo namo latinnyo, kayu juha urang imbauan, tumbuah tinggi elok ka sarang alang, tampek manyuruakkan di buluah parindu. Kayunyo kareh elok di takiak, bahan ramuan rumah gadang tuo. Kok bungonyo, bungonyo kuniang ketek-ketek, dikarang tampuak mangkonyo ndak baserai.

Katiko juha alah digulai, paik manjala di ujuang lidah, paik dan babedo jo paik kambeh, ampia badakek jo paik bungo sirangak. Tapi usah maludah dek paiknyo, paik ka paubek si damam kuro. Lamak batimpo santan jo pamasak. Banyak urang nan manjadi suko.

Gulai jangek jo bungo juha
Di gulai nak urang Balimbiang
Lado pagi tabali maha
Galak baserai si urang sumbiang

Sakian dulu sanak dendang gulai jangek jo gulai bungo juha, kapa alah maraok, diansua masuak ka ruang tunggu.

Salam
Andiko Sutan Mancayo

Dendang Kuliner : Melestarikan Resep Makanan Khas sambil Mempertahankan Seni Bertutur Ranah Minangkabau


Seri Dendang Kuliner VII : Baluik Kariang Baka
Wednesday, January 6, 2010 3:24:00 AM
Seri Dendang Kuliner VII : Baluik Kariang Baka

Malam mandaki langik Jakarta, ditanah Jao badan takapa. Hangek udaro raso mahao, raso matoari jalang mandaki, marangkak hangek ka pangka kuduak, raso di tangah sawah Tanjuang Barulak.

Tanjuang Barulak mangkonyo Padang Gantiang
Baliku jalan kelok galoga
Nasi lamak mangkonyo sendok badantiang
Kalalu badan dek padeh samba

Baitu bana sanak dendang ka dibaco, baluik kariang baka ba sambalado, nasi angek uok taruang, lado ba abuih ka kawannyo. Baa bana barih nyo baluik, bakalang tanah mangkonyo iduik. Dek berkat bumi Allah, paguno badan ka urang nagari. Tapi disinan mulo darito, jo caciang urang umpan, basi bakaik didalamnyo. Lain pulo si tukang lukah, pinjaro saga nannyo buek. Tarambau badan dek manih umpan, takuruang malah kasudahannyo. Indak salasai disinan sanak.

Dek taguah paga diri, mangguliciak sajo si mato pisau, pisau nan dari basi kursani, bajanji arek mangkonyo jadi. Tapi dek cadiak panggaleh ikan, jo sambilu badan nyo sonsong, barangkek nyao dari badan, panuah sudah sagalo janjian. Sakatiko badan diatua, digantuang badan bamandi cahayo, masiak ditimpo si mato hari.

Dek gadang indak ba piaro, kasiah tuhan sajo nan manjago. Tabao manih pati bumi, badan coklat cacat tido. Katiko badan dib aka, ka manjadi saraik sajo sigulambai, dek fitrah api mambaka. Baun bak cando pakasiah, mamanggia mode talang parindu.

Apo lai mancaliak gulimang lado ba uok, buah kasiah si batu lado. Tumbuak raso ka indak, gaca nan bukan dek banyak aia, iyo lado-lado rancak, lado katampang tahun dimungko. Jo itu dunie di sonsong, jo itu pulo gadai di japuik, lado nan bukan sumbarangan, bapiliah mangkonyo jadi.

Bapancuang palapah pisang rajo, disinan nasi tahampa. Uok manggabubu ka parabungan, mangguguah salero urang nan sakik. Bakaja angek jo padeh, raso ka baranti mamakan lado, tapi itulah tobat si sambalado, kini manyasa, bisuak kaninan tibo.

Manjalang suok katigo, dipiuah taruang abuih diteh nasi, dilepoh silado mudo, datang manimpo si baluik baka. Bia cukuik raso mambunuah, janlah lupo si jariang panggang, bia nak barubek badan nan seso.

Sapuluik dari Pincuran Puti
Barandam kuah karambia mudo
Muluik baraso dibaka api
Disinan tuah si Sambalado

Jikok padeh raso ka mambunuah, daruak baluik raso ka mambaok lalu, iruiklah the angek agak sagaleh, angek indak ka mambuek laleh. Padamlah padeh bak cando lampu, lamak tadorong ka karangkungan. Disinan badan disanda ka tiang talaok, mananti angin siang nan maraok. Di patiak pulo Gudang garam merah, rokok dukun dari tanah jao. Mato baraso kantuak tangguang, lalok ayam mananti sanjo.
Tanjuang Barulak jalan mandaki
Jalan taruih ka pondok mamak
Disuduik tapancang bandera tuo

Jantuang rarak hati manangih
Badan kuruih angoklah sasak
Nan baluik panggang takana juo

Salam

Andiko Sutan Mancayo