Archive for the ‘Catatan Perjalanan’ Category

Spirit Warisan

Posted: July 7, 2017 in Catatan Perjalanan

Screen Shot 2017-07-07 at 7.03.10 AM

Advertisements

Pantai Kaluku, Limboro,

disini Lelaki seliat cemara angin itu tetirah,

mungkin disini pula,

diantara angin yg menelisik pokok-pokok kelapa,

ia temukan Ujang dgn kambing dan Pak Tua dari Puntana,

pada komik yg melegenda, komik “Hukum Kami Hukum Adat”.

Ya…Puntana…

kemudian saya tahu, itu adl sebuah dusun di dunia nyata, dimana beliau menjadi Kepala Desa dimasa mudanya.

Seperti Soekarno menemukan ilham perekat bangsa dibawah pohon sukun ditepian pantai Ende dalam pembuangannya,

seorang Hedar Laudjeng menemukan ilham pembelaan terhadap Masyarakat Adat dan orang marjinal lainnya,

jauh sebelum itu semua menggegap gempita dipodium kekuasaan.

Karena itu saya ingin menemukan esensinya disepi senyap riak Pantai Kaluku di Limboro, diantara bayangan lelaki yg pada akhir waktunya, tidur berbantalkan Konstitusi.

#Napak tilas menikam jejak Hedar Laudjeng. — at Dongala.

17190596_10212659933998119_421172023730539098_n17021958_10212616320987821_5419374232065407562_n


Haedar Laujeng, Filsuf Bertopi

haedar-laujeng

Beberapa hari lagi seseorang telah pergi menunggangi waktu tepat di angka ke seratus hari. Tanah basah di kelengangan perbukitan Limboro, jauh di pesisir jantung Sulawesi sana, akan mengering, kemudian akan tertiup angin pantai dan menebarnya pada kedalaman hati dimana kenangan bertahta dan terkunci.

Tidak banyak yang kuketahui tentangnya, selain cerita-cerita mistis perihal seorang lelaki terakhir yang tersisa di hiruk-pikuk zaman, yang merambah desa demi desa, hingga berjatuhan, seperti cemara-cemara hutan yang berguguran ketika angin beku musim gugur menelisik dalam dari kutup utara di sebuah desa kecil bernama Falkland, di pinggir laut utara Scotlandia, di situ aku mematung di antara kastil-kastil tua.

Seperti cemara, lelaki itu bertahan di puncak keyakinan akan desa dan orang-orang mereka yang bersahaja menjaga peradaban dan alam serta mengantarkannya ke generasi masa datang. Karena itulah ia kemudian memilih karir monumental awal sebagai Kepala Desa, seorang lawyer muda yang kembali ke pangkuan budaya dari darah Kaili yang membakar setiap pembuluh arteri dan nafasnya yang berhenti seratus hari lalu.

Seratus hari lalu, seperti bayangan seorang “British Knight” dengan kuda hitam kukuh bergerak perlahan menuruni perbukitan Cotswold. Ladam kudanya berdebam perlahan pada hentakan lemah di antara pokok-pokok pinus. Angin mendesau, menghipnotisku, hingga mematung dipintu pada panggung kecil di pintu belakang “ranch” tua di sisi punggung bukit sebelahnya.

Meskipun terlihat kukuh, huyungan tubuhnya mengabarkan sebuah lelah peradaban yang tak tertanggungkan, perjalanan jauh dari pertempuran besar di “Holly Land”, yang seperti tungku di pemanggangan. Kesatria itu mengantar sebuah berita, seseorang telah pergi. Ya seseorang telah pergi! Seketika lelaki kusut masai dengan kacamata minus itu hadir lengkap dengan helaan kretek evolusion merah yang melentik melawan masa.

Saya kira, hanya diamlah yang akan dapat memaknai sebuah hubungan panjang namun terasa sangat cepat dimana waktu yang terentang seperti dipenggal paksa, sebab kata telah menumpang pergi bersamanya. Pada setiap kelokan jalan berliku yang menyisiri tahun demi tahun, di situ tercecer setiap jejak dan tapaknya, dimana keringat telah menggarami, hingga lidahnya menjadi asin, hanya untuk rakyat yang ia cinta dan aku penyaksi itu.

Sungguh aku tak pernah tahu, kekuatan mistik apa yang memanggilnya ke dataran tinggi Lindu. Hingga pekatnya malam tak berbintang ia perkuda menembus rimba mengantar sepercik api yang akan menerangi jalan setapak orang-orang Lindu. Sejatinya sebilah sangkur, pembangunan adalah titik berangkat pada apa yang didefinisikan sesuatu yang lebih baik dari sebuah situasi yang lebih buruk, tetapi ia membawa kutukan yang akan menikam balik dan melukai ketika pemaknaan baik atau buruk itu dimonopoli dan menghantu orang-orang di desa. Dan itupun berhenti.

Sama tidak tahunya aku, suanggi apa yang membawa lelaki itu menyambangi orang-orang yang terlupakan hanya untuk merawikan bahwa hukum telah tersesat dan ia membawa harapan akan keadilan yang akan tumbuh dan menggurita dari pelosok-pelosok tanah-tanah yang dinyatakan tak bertuan dimana kadangkala segala rasa, karsa dan budaya kerapkali digilas untuk sebuah tujuan yang mengendarai mekanikal dingin positifisme hukum sebagai tools of social enginering yang memporak-porandakan segala sendi kehidupan.

Suatu kali lelaki itu teramat galau dan seperti orator ia berpidato tentang makna ke Indonesiaan. Seperti palu, setiap kata yang terlompat memukul kesadaran akan kebersamaan ketika bangsa ini mencoba merekonstruksi persamaan dan melupakan perbedaan untuk sebuah martabat dan berdiri gagah berwibawa di panggung dunia.

Bahwa betul pada masanya ada banyak kelompok, golongan dan lapisan rakyat yang tertindas, tetapi segala perjuangan itu tidak diabdikan untuk merangkak naik ke panggung kuasa untuk kemudian berprilaku sama dengan penindas itu. Karena itulah di hari-hari terakhirnya, lelaki itu tidur berbantalkan konstitusi.

Andiko Sutan Mancayo, Direktur HuMa Jakarta

________________________

Andiko Sutan Mancayo —– Original Message —–
From: Dwi Rahmad Muhtaman
To: rimbawan-interaktif@yahoogroups.com
Cc: fkkm@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, October 16, 2012 12:04 AM
Subject: [fkkm] Re: [rimbawan-interaktif] Di Seratus Hari Keberangkatan : Catatan Pertama Untuk Hedar Laujeng

Kawan-kawan,

Rasanya bukan sekali ini saya membaca esai puitik Andiko. Saya sepenuhnya setuju dengan penggambaran yang hidup, indah dan penuh semangat dari Andiko untuk “..seorang lelaki yang tidur berbantalkan konstitusi” ini. Saya tidak hendak memberi tambahan apapun untuk “..seorang lawyer muda yang kembali kepangkuan budaya dari darah Kaili yang membakar setiap pembuluh arteri…” Tulisan Andiko yg padat puitik telah cukup merangkum kehidupan panjangnya.

Dalam tubuh Andiko, saya percaya, telah mengalir darah Buya Hamka, atau Taufiq Ismail atau Gunawan Mohamad, atau Hamid Jabbar, atau barangkali juga Chairil Anwar… tetapi dengan ketajaman humanis intelektual seorang Sudjatmoko. Membaca tulisan Andiko terasa kita dibawa pada imajinasi yg hidup dan mampu merasakan apa yg dituangkan dalam metafora-metafora dan rima tulisannya.

Membaca kalimat ini saja terasa merinding: “Seperti cemara, lelaki itu bertahan dipuncak keyakinan akan desa dan orang-orang mereka yang bersahaja menjaga peradaban dan alam serta mengantarkannya kegenerasi masa datang.” Metafora yg luar biasa. Cemara adalah pohon yg tahan segala cuaca. Iya selalu tegak diterba badai, angin dingin atau kemarau. Mgkn ia akan terbakar, pada kemarau yg panjang. Tetapi akan hidup kembali kala musim semi tiba.

Tulisan bernas yg digoreskan Andiko nampaknya merupakan hasil dari renungan yg mendalam. Pilihan kata dan metaforanya dipikirkan betul. Membaca tulisan pendek gaya Andiko ini memberi kenikmatan tersendiri. Tidak hanya menyentuh pikiran tetapi juga perasaan.

Terima Kasih kawan Andiko. Ditunggu tulisan berikutnya.

Salam,

Dwi Rahmad Muhtaman

Devi Anggraini
Devi Anggraini aku suka tulisan nya Bang Andiko, thanks ya sudah disertakan. Aku menikmati banget

Andiko Sutan Mancayo
Andiko Sutan Mancayo Thank mba devi, nanti saya bikinkan satu
Sandra Moniaga
Sandra Moniaga indah, ko… semoga hedar sudah mendapatkan kedamaian abadi ya…
Jepu Nes
Jepu Nes bang hedar makin sumringah dalam keabadiaanya baca tulisan ini… 😉

Pulang dan Keindahan : Catatan Perjalanan Ke Pontianak

May 7, 2010 ·
Dari ketinggian restoran terbuka Hotel Peony, di kejauhan Jembatan Kapuas seperti naga bercahaya. Jembatan ini serangkaian besi yang menghubungkan potongan Pontianak Kota dengan Tanjung Hulu, disanalah pada potongan kedua tanah ini berdiri keraton dan mesjid Sultan Pontianak. Didepannya melintang Sungai Landak yang berjembatan ke potongan ke tiga yang bernama Siantan.

Di ketinggian ini pula lampu-lampu jalan Gajah Mada seperti laron-laron yang mengerubungi malam, “layok dan lindok”. Temaram cahayanya tak hendak menyapu muram yang terbawa gerimis sore, ada sedikit angin dingin mendaki, dari lantai ke lantai, sampai kemudian mendinginkan secangkir soup tomyam dan teh brown sugar di meja.

Seperti tape recorder, sepasang pemain gitar dan penyanyi, berusaha mengantarkan nuansa syahdu kepada pelintas. Musik yang sama dengan nada dan dentingan yang sama, mengiringi fokal dengan irama yang sama saban malam. Lagu-lagu telah ditentukan hingga buku lagu yang terhampar telah menguning dan lusuh. Keindahan itu akan hadir pada pelintas pertama, tetapi akan seperti menggedor dan mendoktrin bagi pelintas yang telah duduk dibangku dan meja ini berkali-kali. Suasana hampir sebangun dengan camp konsentrasi atau barak militer yang selalu memompakan doktrin yang sama dari menit ke waktu, hingga para tentara yang tersebar mulai dari kamboja, sampai ke Siberia, percaya akan pesannya.

Betapa menderitanya pasangan penyanyi dan pemain gitar yang harus menyanyikan lagu yang sama dengan nada dan partitur yang sama saban malam. Jari-jari dan suara seperti hantu berjalan sendiri lepas dari pikiran yang mengembara kemana-mana. Satu keinginan yang selalu terbersit, cepatlah berakhir keindahan semu dan mekanik ini, karena ia menyanyi bukan untuk dirinya, tetapi bagian dari kontrak untuk para pelintas di hotel itu. Mungkin itulah dinding yang memisahkan antara seniman dan buruh lagu.

Begitu pula pelintas, datang dengan segenap beban, pada setiap kota, keindahan lewat seperti iklan televisi yang membosankan dan tiba-tiba terjatuh pada kelengangan ditengah hiruk pikuknya keramaian. Tak ada keindahan dan situasi yang paling mendebarkan ketika matahari setiap senja menggulung waktu, hingga hari untuk pulang itu menjelang.

Pulang, ya pulang !. Bagi sebagian orang kata pulang kadang membawa beban, sehingga waktu habis dari warung ke kafe atau di persimpangan. Tapi tidak bagi para pelintas, hanya da dua pilihan, pulang atau tidak pulang, tidak ada kata setengah pulang yang secara fisik pulang, tapi jiwa tersesat dalam pengembaraan tak berujung.

Pulang pada keindahan adalah impian, impian yang akan terwujud ketika waktu terajut diberanda atau di teras rumah. Terasa cinta mengalir pada secangkir the atau kopi sore, ketika si kecil berlarian mengejar kupu-kupu dan ibunya sibuk menyiram tanaman, antara anyelir dan melati, bunga bakung dan kembang sepatu, lengkap dengan beberapa pokok bonsai yang hampir meranggas. Di titik itu waktu ingin dihentikan, agar tak ada lagi perjalanan, menyisir jalan dan memintas kota demi kota. Di senja itu, ketika matahari jatuh ke teluk di depan rumah, cinta sederhana yang kadang seolah biasa, menjadi permata yang begitu menakjubkan. Pada akhirnya, keluarga adalah energy yang membakar hingga petani mengolah bebatuan menjadi jagung dan pisang, tetapi sekaligus oase, pada dahaga musafir yang tak tertanggungkan. Keluarga adalah anugrah.

Salam

Andiko Sutan Mancayo
Dari Ketinggian Hotel Peony Pontianak


10696326_10205603469470916_1531721429551349010_n

Frankfurd September 12, 2011 at 7:56pm
Dalam aku berkelana
Tiada yang tahu ke mana ‘ku pergi
Tiada yang tahu apa yang kucari
Gunung tinggi ‘kan kudaki
Lautan kuseberangi
Aku tak perduli

Dalam aku berkelana
Tiada yang tahu ke mana ‘ku pergi
Tiada yang tahu apa yang kucari

Suara empuk Haji Rhoma Irama mengalun syahdu dari HP, mengusir rasa bosan menunggu connecting flight yang panjang ke Latino America. Di sisi kiriku bergelimpangan para pelintas dari berbagai ras mencoba menghabiskan waktu dengan meluruskan badan yang kaku di bangku-bangku ruang tunggu. Setelah melewati guncangan diatas Asia, seketika keteka terbang dari Changi Singapore, memintas terus dipinggiran benua besar itu, negara demi negara, peradaban demi peradaban dan budaya demi budaya berlarian di bawah. Akupun memilih untuk sejenak meluruskan kaki sembari sesekali memasuki box tempat merokok di terminal B Frankfurt International Airport ini. Sejenak kemudian mencari tahu tentang tempat ini di Google, tertulis :

” Bandara Rhein-Main adalah bandara pertama dengan sistem pengurusan bagasi setengah otomatis dan merupakan hub lalu lintas udara terbesar Jerman. Berbeda dengan Bandara Schiphol Amsterdam yang di sedikit lebih kecil, bandara ini tidak memiliki enam landas pacu namun hanya tiga saja. Dua landasan paralel sepanjang 4.000 meter dan selebar 60 meter (landasan selatan lebarnya 45 meter serta ada dua bahu masing-masing berukuran 7,5 meter) dan landas pacu di barat sepanjang 4.000 meter, dengan lebar 45 meter serta masing-masing bahu jalan selebar 7,5 meter. Berbeda dengan Amsterdam ketiga landasan tidak bisa digunakan secara mandiri satu sama lain, namun paling tidak pada waktu yang bersamaan. Landas-landas pacu yang memiliki jarak 518 meter satu sama lain hanya bisa digunakan secara estafet saja, karena dengan turbulensi yang terjadi setiap pendaratan, pesawat-pesawat tidak bisa digunakan satu sama lain. Kapasitas bandara (Agustus 2006) adalah 82 gerakan penerbangan setiap jam antara pukul 6.00 sampai 14.00 dan 83 gerakan penerbangan antara pukul 14.00 sampai 22.00.Bandara Frankfurt adalah salah satu bandara dunia yang menggunakan sistem pengurusan bagasi otomatis mulai pada tahun 1972″.
Ah…sejenak menghela nafas lelah, terbayang dibenakku, aku saat ini ada ditengah kerumunan manusia berbagai ras dan bangsa yang hendak terbang ke tempatnya masing-masing, sejauah apakah ? dan bagaimanakah tempat yang mereka tuju ?. Disisi kiriku serombongan orang-orang Tiongkok berbicara riuh dengan bahasanya. Aku semakin tenggelam di persimpangan selasar terminal ini.
Kawan seperjalananku sibuk membaca Tabloit Bola yang jujur membuatku senyum-senyum sendiri. Dia merasa aneh ketika aku katakan, aku tidak terlalu mengikuti perjalanan bola kaki, tetapi tanyalah padaku tentang sejarah, akan kuceritakan apa yang kau tak tahu, kataku. Tahukah kau, jikalah kita bisa keluar dari kota ini, maka tempat yang pertama aku datangi adalah Bastogn Forest yang terbentang diantara Prancis dan Jerman. Jikalah musim dingin yang berat mengalahkan Easy Company di hutan itu, maka Amerika tidak akan pernah bisa masuk Berlin kawan….sanggahku.
Ah, jika kau ingin mendalami sejarah, kau harus mengerti bola, lihatlah bukuku ini, sergah temanku sambil mengeluarkan buku yang berjudul “Memahami Dunia Lewat Bola”…dilemparkannya buku itu padaku sambil terseyum menang. Aku mengangguk-angguk takzim. Memang teman seperjalananku ini penggila bola yang tak pernah melewatkan apapun tentang bola, bahakan SBY yang pulang duluan dari senayan kemarin waktu Indonesia main, habis dia kupas sejak diatas India ke Eropa. Terpaksalah aku mendengar kotbah bolanya. Aku masih ketawa-ketawa geli membayangkan dia membawa tabloit bola dari Jakarta ke Amerika Latin ini…he..he..

Dari kerumunan lalu lalang bangsa Aria ini, terbayang olehku tim panser Jerman. Di otakku melintas nama-nama seperti
1 Lothar Matthäus 1980-2000
2 Jürgen Klinsmann 1987-1998
3 Jürgen Kohler 1986-1998
4 Franz Beckenbauer 1965-1977
Sedang apakah mereka saat ini, apakah masih berdekatan dengan dunia bola. Kegagahan mereka masih berkesan bagiku ketika menonton piala dunia waktu kecil dulu. Seiring dengan itu terbayang olehku juga Herman Goering panglima angkatan udara Jerman yang legendaris dan Jendral Rommel yang menundukkan Africa.
Ah…ok dech…sebentar lagi boarding, didepanku telah antri barisan panjang Latino yang akan memasuki Lufthansa ke Amerika Latin. Kembali terbayang olehku nama-nama melegenda seperti Pele dan tentunya Jendral Panco Vila yang eksentrik.

Nanti disambung lagi….., lantunan Bang Haji masih mengiringiku

Mungkin hatimu bertanya
Apakah kiranya yang sedang kucari
Dalam berkelana hai selama ini
Oh baiklah kukatakan
Yang kucari adalah
Cinta yang sejati

Dalam aku berkelana
Tiada yang tahu ke mana ‘ku pergi
Tiada yang tahu apa yang kucari

Salam

andiko sutan mancayo


Catatan Harian di Oxford : Memintas pagi Ke Shipping Campden

Andiko St. Mancayo

Chipping

Oxford pagi baru saja mengetuk pintu. Tanggalan berlari ke angka tiga puluh Juni dan aku harus mengejar kereta ke sebuah desa kecil yang indah bernama Sipphing Campden. Kota ini menggeliat malas melemparkan selimut malam yang dihantarkan matahari yang teramat lambat turun ke peraduan. Waktu demikian panjang di musim panas.

Sepanjang jalan lurus dari Roseehill ke Oxford City Center, pintu demi pintu tak juga terbuka. Angin dingin yang berangkat dari kutub seolah irisan halus, tapi menggigit dan mengkuliti sekujur tubuh. Agaknya si Giovanotto-Manifattura Italiana, jubah kulit Italy-ku tak cukup ilmu membungkus seorang pria dari Katulistiwa yang hidup di gelimangan sinar mentari, dari terkaman angin pagi.

Seketika sarung hand made, tenunan para mama-mama dari pedalaman Lanrantuka-Flores yang teramat setia menemaniku mengukur jalanan dari hutan ke desa, dari kota ke titik episentrum negara-negara, dari Asia ke Eropa, hingga ke tanah para Indian dan kali ini “janjian” membawa singgah di tanah para ksatria emporium teramat besar dan tua, itulah tanah Inggris, dan sarung itu kemudian membebat erat leherku.

Tak lama kemudian, seorang pria dari balik box kemudi dengan sebuah senyum termanis pertamanya pagi ini mengucapkan Thank You Sir, ketika aku selesai menempelkan tiket elektronik merahku pada mesin pemindai disisi kirinya dan kakiku melangkah mencari sebuah bangku kosong dekat pemanas disisi kanan bangku-bangku yang dikhususkan untuk kaum difabel. Beberapa penumpang larut dengan rencana paginya.

Di kota ini, Kapitalisme tumbuh dengan standar kesopanan dingin para aristokrat. Dimana hampir semua orang memiliki senyum yang berlebih dan dengan ucapan terima kasih yang melimpah ruah dan kadang terasa tak biasa mendengar seorang sopir bus mengucapkan terima kasih setelah kita menumpang di busnya yang nyaman, hangat, wangi dan tentu saja anti copet. Seharusnya kita yang berterima kasih, tetapi lelaki itu yang lebih dulu, seolah tak ingin kehilangan kesempatan beramal, karena senyum saja sudah ibadah, apalagi kalau diiringi dengan ucapan terima kasih dengan aksen British yang sangat Fluend sekali.

Tetapi pada sisi mata uang yang berbeda, sesopan itu pula harga-harga dipatok, dingin tampa daya tawar, anda suka, maka anda bayar. Secangkir kopi dipatok antara satu setengah hingga dua pounsterling, kopi seperti itu yang sanggup anak sekolah beli, jika tidak juga, maka disarankan anda mengaduk kopi sendiri dan menentengnya sepanjang hari.

Namun demikian, ibarat lampu temaram di teras rumah, sejak Afred the Great memancang kota ini, selayaknya anai-anai, kota ini telah berubah menjadi cahaya yang mengundang anai-anai merubung, hingga gemerlapnya berakhir pada masa ketika sayapnya telah berguguran. Itulah para siswa yang menghadirkan dunia kecil yang plural, antara kaum samurai yang mengantar matahari mendaki, hingga ke Magribi, tempat mentari pulang diantar dinasti Shalih bin Mansur.

Tak jauh dari Oxford City Center, dimana Bus Nomor 3 berakhir, sebentuk jalan menurun dan landai berakhir di Oxford Railway Station. Angin dingin masih saja menyapa di stasiun tua ini. Pada titik dimana jalanan berakhir disebuah pelataran parkir Oxford Bus Company, anak tangga bersusun rapi mengantar para pelintas pada pintu utama otomatik, disitu sejak lama banyak cerita tercecer, terserak sampai di pelataran peron dimana deretan cafe menyapa dengan harum hangat kopi pagi dan sepotong sanwich, jauh sejak pertama kali Great Western Railway pada 12 Juni 1844 membangun tempat, dimana segala emosi tumpah pada setiap keberangkatan dan perpisahan yang dihadirkan oleh peluit kereta. Rasa yang memalangi sepanjang jalur antara London dan Edimburg.

Sebatang Dji Samsoe malu-malu terbakar dan melentik, sebab tak mudah baginya mengekspresikan diri pada banyak tempat di kota ini dan hidupnya akan berakhir dengan mengenaskan pada kotak kecil, asbak resmi yang dilegalisasi oleh Oxford City Council. Ada banyak mata elektronik menggantung, mengawasi dengan stiker yang melekat strategis yang berbunyi “Disini Ada CC TV yang Bekerja”, kira-kira begitulah ancaman yang dibungkus dengan sempurna.

Di sisi kanan, berderet rapih tiga box dengan antrian nyaris seperti terakota, para petugas dengan mikrophon kecil berbicara kepada pengantri tiket. Kereta yang penuh setiap akhir minggu, akan menguras manusia seisi kota dan menyebarkannya pada stasiun-stasiun kecil dipedesaan dan kota-kota kecil, dimana itulah masa ketika seorang anak beserta cucu mengunjungi nenek dan kakeknya diakhir pekan dan dimana para bujangan menyebar seperti kupu-kupu yang terhambur dari kepompongnya, memintasi tanah Inggris membunuhi waktu. Kota ini akan lengang semati kuburan tua yang tersebar hampir disemua gereja uzur di kota ini.

Di sisi kiri, pada deretan meja-meja dengan kopi yang mengepul para pelintas tampak bergerombol. Wangi jerangan kopi pada cofee maker, cafe kecil ini menguap, kemudian merambat pada deretan koran, buku-buku, serta permen dan kue-kue, deretan botol demi botol Wine yang hampir saja mengembun seperti tersentak, terjaga dari barisan rapih di rak toko kelontong kecil itu, pada akhirnya wangi kopi pagi terjerambab di meja bundar ditengah-tengah peron stasiun kereta itu.

Dan disitu, diantara perbincangan pagi hari para perempuan tua, sebuah cahaya hangat, tetapi pedang menembus, menyapa dari kedalaman dua mata biru seseorang yang mewarisi dengan sempurna keindahan pegunungan Alpen Switzerlan. Segala perumpamaan Melayu tentang seorang perawan yang akan menjadi pintu segala dinasti, runtuh sudah !. “Where do you want to go, sir……..?”, ah mati sudah…..

Pada sebaris kalimat pertama, suara lembut seperti dentingan harpa yang dipetik oleh para dewi dalam mitologi Yunani berdenting, menghamparkan sebuah negeri kecil namun kaya diantara kepungan Jerman, Itali dan Austria, yaitu Switzerlan. Mungkin saja ia berdarah Aria pada garis geneologis aristokrat Jerman dan Austria, tetapi romantisme Italiano telah mengakhiri keindahan kecil di pagi itu pada adi karya terhebat seorang maestro. Mungkin saja ia adalah sintesis antara Monalisa dengan Cleopatra-Queen of Egypt, ataukah ia adalah reinkarnasi antara Zenobia-Queen of Palmyra dengan Hellen of Troy. Akan tetapi kata Sir dengan sedikit aksen penuh tekanan diakhir kalimat itu telah mengubahnya menjadi Joan of Arc lengkap dengan Zirah dan pedang terhunus, seperti menghadiahkan cermin kepada seorang pemuda yang mengirimkannya surat cinta kepadanya. Indah sekaligus tragis !.

Aku akan ke sebuah tempat yang dicantumkan Kitab Domesday di penghujung 1086, dimana ladang-ladang gandum sedang tumbuh dan padang rumput dimana kuda-kuda terbaik berlari. Desa kecil dimana Baptist Hicks (1551 – 1629) membawa dukanya dari London yang rusuh dan berkubur bersamanya di St James Curch, gereja berpagar pusara-pusara masa lalu didesa itu.

Tahukah kau bangaimana matahari musim panas perlahan merambat turun hampir di ujung puncak waktu dan berhenti pada secangkir English Tea di Bantam Cafe yang berdindingkan deretan bebatuan berderet rapi sejak 1693, setiap seginya adalah sejarah yang terhampar sebatas pandang pada pasar tua diseberang jalan. Disitu Market Hall dengan lengkungan yang menakjubkan, berdiri tegak menaungi pedagang wol sejak 1627.

Sepertinya didesa ini, di Shipping Campden aku temukan jawaban kenapa Emporium Britania Raya begitu perkasa mengirim seorang Sir Thomas Stamford Bingley Raffles memintasi bayang-bayang matahari tropis, membiduki Singkarak, memancang The Union Jack di ketinggian puncak Simawang, dan berdiri termangu di Pagarruyung menyaksikan puing-puing sebuah dinasti aristokrati pula.

Aku tahu, mereka dibesarkan dengan memahat gunung batu dan merekalah para penyihir peradaban yang jejaknya berbaris di desa ini.

Chipping Campden, Gloucestershire, Cotswold countryside-United Kingdom.


3151382974505805

Cerita pagi ke dua di Oxford : Pada Secangkir Kopi
Andiko Sutan Mancayo

Ini adalah pagi kedua di Oxford. Cuaca musim panas jatuh dibawah angka 20 derajat Celcius dan sedang terus menuruni tangga menuju titik angka 10 dan tentunya dingin telah demikian sukses menelisik dan menembus tiap lipatan pakaian dan hampir tak mengacuhkan lapisan demi lapisan, diantara jaket, tshir dan underware. Gigilnya telah menggetarkan hampir semua organ yang tersembunyi.
Jendela kaca di sisi kanan ranjang, telah mengembun, seperti menyampaikan salam dari hujan pagi pertama ini. Tetesan air bergerak perlahan, malas dari kanopi kecil, lalu menggurat lembut kaca dan berakhir di sisi bawah yang membingkai kaca itu. Sekitar sepuluh meter diantaranya, sebatang pohon yang baru saja aku kenal, seperti penari, anggun melambai disapa angin dan mengingatkanku pada Chairil Anwar, penyair kesukaanku yang berhasil membungkus indahnya kesendirian luruh pada cemara yang ditiup angin pada bait-bait sajaknya yang “Derai Derai Cemara”.
“Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam”
Aku tidak tahu apa yang disumpahkan pertama kali oleh Alfred the Great ketika “meneruka” pertama kali tanah ini di awal abad ke 9 itu. Pada saat yang sama, jauh di Timur sana, di ujung sebuah pulau yang pernah dipintasi Ibnu Batutah, petualang asal Maroko pada tahun 1345, yang kemudian ia lafalkan menjadi “Samatrah”, sebuah kerajaan sedang tumbuh pula, itulah kerajaan Perlak.
Dua abad setelah Alfred the Great memancang kota ini, sebuah kampus berdiri, itulah Oxford yang kukenal pertama kali dari sebuah nama English Dictionary yang pada masa itu tak mungkin berhasil aku lobby para pamanku untuk membelikannya, karena menurutnya, cukuplah belajar bahasa Inggris dengan kamus yang berjudul 50.000 kata dan yang terpenting adalah, kamus 50.000 kata itu dijual oleh temannya sipedagang buku keliling dari pasar ke pasar yang salah satu jualannya yang paling laris adalah komik legendaris yang memfisualkan kejadian di sorga dan neraka nanti, sebuah komik yang berhasil menanamkan secara halus diotakku “Jadilah Orang Yang Rajin Sembahyang”, jika tak mau seperti di komik itu !.

Oxford…..ya Universitas Oxford. Sebagai sebuah benteng pengetahuan dan sebagaimana layaknya tempat yang sama, selain nama ini penuh kegemilangan ketika segala macam rahasia alam diperbincangkan dan ia kemudian menjadi ilmu yang mengantarkan manusia pada kemudahan, namun takdirnya tetap membawa kutukan yang menimpa hampir semua tempat yang sama di dunia, itulah dia “ketinggian menara gadingnya”. Sehingga dalam legenda kampus ini tercatat, pernah terjadi gesekan berdarah-darah dengan penduduk diantara tahun 1228, 1236, 1238, 1248, 1272, 1298, dan memuncak 1355 karena hak istimewa dari raja.
Pagi ini mentari teramat malu-malu menyingkap selimut mega-mega. Di ujung dedaunan, embun kesekian menetes malas dan lambat, waktu seolah tak bergerak. Di dapur kecil rumah ini, harum kopi terjerang di kompor, seperti menggila, menggaruk dan merayu selera, seperti sebuah godaan yang dibisikkan setan-setan untuk minum siang hari ketika bulan puasa.
Yach….bulan puasa…
Lamunanku tersentak, ketika kenangan akan bulan puasa di nagari menyentak kesadaran, sebentar lagi Ramadhan datang dan setengahnya akan ku lewati di kota ini. Sungguh tak ku tahu bagaimana menjalaninya diantara waktu yang sepertinya enggan mengantarkan sahur pada pintu berbuka. Tentunya tak akan ada alunan mendayu lantunan kalimat-kalimat indah mendesis keluar dari sela bibir para gadis pingitan pada malam-malam tadarusan di surau tua nenekku, jauh di kaki gunung Marapi di Minangkabau sana.
Kopi ini telah menggelegak dan harus dituang. Aku tak tahu ini kopi dari mana, tetapi itu tak penting bagiku, kopi sebagai sebuah tumbuhan yang lahir dari senyum para dewa, telah memintasi zaman sejak ia pertama kali ditemukan seorang penggembala jauh dipedalaman Afrika sana. Seperti angin, kopi terbang jauh memintasi Jazirah Arabia, memintasi kota demi kota, menyeberang English Channel dan sekarang mengepul dihadapanku untuk merusak kesadaran dan inginku mencomot sebatang lintingan hasil perkawinan Tembakau Temanggung dengan Cengkeh Tomohon yang begitu susahnya aku bakar di rumah perantau Caribia yang aku tinggali ini. Inginnya aku teriakkan padanya bahwa Kopi, Tembakau dan Cengkeh ini telah menorehkan sejarah hitam, putih, abu-abu atau gemilang dari ujung Magribi sampai ke ujung Tanah Papua. Dan inginnya aku ceritakan tentang tamsil “Melayu Kopi Daun”, hingga ia akan seperti ada diantara Kopi Lampung dan Toraja, Kopi Bengkulu dan Mandahiling, kemudian akan seperti ada dipintu surga pada seruputan pertama kopi Aceh.
Ah…pagi sepertinya telah dimulai, desa ini mulai menggeliat, mungkin akan ada banyak cerita, tetapi seperti Spaghetti yang kuguyur dengan Sambal Makasar pagi ini, cerita itu harus dilekatkan makna dengan peristiwa, sehingga pada titik dimena timur dan barat bertemu, disana sebuah peradaban yang bernilai akan berdiri dalam kesetaraan yang anggun, dan aku harapkan akan bertemu di lidah yang tak biasa ini.

Oxford, 24 Juni 2012