Archive for the ‘Catatan Perjalanan’ Category

Sambal Andaliman

Posted: March 22, 2018 in Catatan Perjalanan, Karya Fotoku

Sambal Andaliman, adalah titik kumpul pusaran kerinduan akan Tano Batak dengan segala kemagisannya…. — di Lumban Silintong.

20245349_10214116439609849_7894955901134657421_n

Advertisements

Pelintasan ini, kujumpai cita rasa mistis Tano Batak — di Porsea, Sumatera Utara, Indonesia.

22554810_10214936573352680_1126303926790402773_n


Saya pikir tak ada lagi yg lebih simbolik untuk mewakili ketakjuban saya pada tempat dimana Mentari pagi bermula di Nusantara, melainkan persandingan susunan Ikan Roa buah karya peradaban Sulawesi, bersisian dengan Sambal Luat, hasil dari perenungan panjang para Tetua tanah Timor, yang bersimpuh takzim di Meja Kayu Eboni, hitam teksturnya, menceritakan tentang abad-abad kejayaan Tanah Kaili yang pernah ada — di Palu (Sul-Teng).

23517495_10215146104030816_935799140822695079_n

Ikan Roa

Posted: March 22, 2018 in Catatan Perjalanan, Karya Fotoku

Tahukah kau, kenapa saya begitu mencintai Sulawesi ?, selain karena orang-orangnya yang bersahaja, juga karena ikan mistis yang lahir dari tangan gadis-gadis nelayan dari pantai-pantai penuh nyiur disetiap lekukan pulau ini.

Tahukah kau, ketika Ikan Roa ini, mengikat janji dengan cabe gunung yg tumbuh Di Lereng lembah-lembah dataran tinggi Lore, maka terbentanglah cita rasa kelas para Raja, disitu lidah seperti diukir kalimat rindu, mantra-mantra tetua tanah Lindu, itu sudah….. — di Pasar Masomba.

23472841_10215136231023997_7829452240142615944_n


Salah satu yg selalu mengusik kerinduan atas Tanah Korintji adalah Nasi Beras Payo. Beras ini berasal dari padi lokal yang ditanam di rawa-rawa tepian Danau Kerinci yang permai. Butuh 10 bulan untuk bulir-bulir kuning emas Padi menggayuti tangkai nan gemulai, menari ritmis dihembus semilir angin senja yang berlari dari pelukan perbukitan yg memagari Sungai Penuh.

Soal rasanya, jangan ditanya…hanya para Dewata yg bisa mendeskripsikannya #RM Danau Kaco — bersama Harry Oktavian, Syafrizaldi Aal dan Yance Arizona di Sungai Penuh, Jambi, Indonesia.

24993604_10215389248069265_4199813741678678850_n


Setengah dari memori masa kecil saya tentang Tapanuli Selatan yang permai, terbingkai indah dipiring gulai Ikan Salai ini — di Kota Tebing Tinggi.

28276653_10216033165246792_8740932475435327604_n

Kabau

Posted: March 22, 2018 in Catatan Perjalanan, Karya Fotoku

Berdasarkan kacamata Aroma, Kabau adalah saudara dekatnya Jengkol, mustikanya rimba raya. Bagi saya Kabau adalah belati yg mencabik-cabik kenangan akan Muara Aman, kota kecil tua yang bersembunyi pada irisan Bukit Barisan ditanah orang Rejang.

Aromanya menghempaskan segala kesombangan ke-kota-kotaan lidah yang kerap tersesat digerai-gerai makanan cepat saji pada setiap pelintasan saya. Pada Kabau saya rekonstruksi hangatnya senyum ibu penjualnya, pada pagi yang berpalunkan dingin, dimana bara mengirim hangat dijerangan kopi Bengkulu. Pada derajat titik didih, saya mengaku, kalau saya sedang merindu, akan tikungan jalan kesitu. — bersama Rahmat Hidayat Wahid, Syafrizaldi Aal, Harry Oktavian, Rudi Syaf, Erwin Basrin dan Kopi Akar di Hang Nadim Airport.

28059320_10216060071159423_6089617939597281858_n_2


Tiada yang lebih syahdu selain, hamparan kuliner asli, meningkahi harumnya nasi Beras Payo, ketika hujan membasahi gugusan perbukitan Korintji, mengirim dingin lembut yang damai ke hati.

— di Sungaipenuh, Jambi, Indonesia.

28660908_10216155537826030_5514093694250123264_n

Mie Sagu Riau

Posted: March 22, 2018 in Catatan Perjalanan, Karya Fotoku

Ratusan tahun Mie Sagu adalah tonggak budaya pesisir timur Riau. Sejak zaman Hang Tuah bertandang ngopi ke Siak, sampai ke zaman now. Itu satu alasan kenapa hamparan Sagu harus dilindungi

— di Laris, Jl. Karet Pekanbaru.

29025725_10216202629443291_8544861465734021120_n


Ramilah rami yo pasa Talu,

rami dek anak si urang Kajai.

Dimalah hati ndak ka rindu,

sadang basayang,

badan bacarai…

yooo rang…Talu….

dan Bujang langsung menghamparkan oleh-oleh Kopi Arabika Talu, lengkap dengan Kacang Goreng dari Pasar Talu. Rindunya saya dengan

kota kecil tua, persinggahan para pelintas zaman dulu itu…..

Yo rang Talu….yo Rang Talu….den takana yo Rang Taluuuuuu….

— di Batam, Riau, Indonesia.

29196184_10216248204182631_6073114508509839360_n