Archive for December, 2013

Cinta

Posted: December 24, 2013 in Perenungan Sastrawi

Cinta
_______________________
Oleh : Andiko Sutan Mancayo
 
Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu
menitikan air mata dan masih peduli terhadapnya,
adalah ketika dia tidak memperdulikanmu dan
kamu masih menunggunya dengan setia. (Cinta dari khalil Gibran)
Lelaki itu bernama Y dan ia seorang pecinta yang bisu. Begitulah siang itu lewat di sebuah rumah makan kecil disudut kota LS, ibukota kabupaten kaya Sawit, bertahun-tahun lalu. Diantara kami, terpisahkan oleh sebuah meja dengan menu makan siang yang menggugah selera, lapar dan dahaga sehabis bertarung di hadapan persidangan, yang semestinya terlampiaskan, telah dirusak oleh lelaki itu. Ya..lelaki pecinta yang menyimpan rapat semua kata-kata di dadanya.
Lelaki itu tidak pernah membayangkan akan jungkir balik dalam pusaran peristiwa yang bermula dari pertarungan tanah ulayat dengan pengusaha yang kemudian mengirimkannya ke penjara di kota itu. Ketika jengkal-demi jengkal tanah seharga emas, dimana palma-palma raksasa itu mulai menggusur peladangan dan baginya, itu berarti penggusuran terhadap kehidupan dan ia melawan, ringkasnya begitu.
Dan aku……, sungguh tak kutahu apa yang membawa langkah ke kerumunan rakyat yang ketakutan, marah dan sekaligus menyimpan harapan akan masa depan yang bermula dari hamparan tanah itu. Hari-hari selepas kuliah habis dari kampung ke kampung, kemudian berpredikat sebagai pengacara yang menyandangkan urusan yang kadang terlalu cepat di kebeliaan waktu itu. Dan…siang itu ketika terik memanggang, berusaha menghanguskan, aku dan dia, duduk pada sisi meja yang berbeda, dilamun rasa yang sungguh ku tak tahu kemana ujungnya. Aku terlalu muda untuk paham semua.
Diseberang meja itu, barangkali sebuah melodrama kolosal tentang cinta sedang dipertontonkan. Tetapi ini tidak tentang birahi yang meletup dari sepasang remaja yang kerapkali menghampiri bahaya ala Romeo dan Juliet, tetapi tentang kekudusan sebuah ikatan sacral antara suami dan istri, dimana ditengahnya telah lahir seorang anak yang akan menyambung sejarah mereka dan simpulnya di tanah rebutan itu.
Y menangis…..
Barangkali airmata adalah satu jenis bahasa yang dianugrahkan tuhan ketika makna yang berkecamuk di dada tak terwakili lagi oleh kata-kata. Kata sebagai sebuah symbol tentang rasa dan keinginan, terlalu kering untuk mewakili gemuruh yang membuncah di dadanya hingga hendak rengkah dan aku disihir, untuk tetap diam mematung, sembari memalun erat pula rasaku, agar airmata juga tak jatuh. Dan segala macam hidangan di meja telah menghambar.
Ketika Y harus dipenjara untuk kasus tanah itu dan menghadapi persidangan criminal yang terlalu dipaksakan, sehingga menjadi panggung keadilan yang norak dimana semua actor berusaha serius untuk mencoba meyakinkan bahwa sidang ini beneran, anaknya kritis karena kecelakaan dan harus dirawat di ibukota propinsi. Dan hari itu, untuk kali kedua si pengacara belia itu mendapat tugas yang tak mudah yakni memintakan penangguhan penahanan agar Yulisman bisa menjenguk anaknya.
Penangguhan penahanan sejatinya adalah sebuah fasilitas yang secara normative ketika prasyarat terpenuhi, akan mudah didapatkan si terdakwa dan sebagai pokrol yang saban hari berbantalkan Kuhap, tentu terlalu ajeg untuk sekedar memindahkan klausul Pasal 31 ayat (1) yang berbunyi atas permintaan tersangka atau terdakwa, penyidik atau penuntut umum atau hakim, sesuai dengan kewenangan masing-masing, dapat mengadakan penangguhan penahanan dengan atau tanpa jaminan uang atau jaminan orang, berdasarkan syarat yang ditentukan.
Akan tetapi, peraturan memberikan otoritas paripurna kepada Majelis Hakim untuk memutuskan persetujuan penangguhan penahanan itu berikut dengan fasilitas subjektif yang berangkat dari ke adi luhungan pertimbangan si wakil tuhan dimuka bumi. Disitulah pertarungan kolosal dan tak pernah selesai antara kepastian dan keadilan berkecamuk sehingga sejatinya pertempuran itu akan berujung pada kemanfaatan, tapi kerapkali tersesat dan jatuh kepada kefakiran kemanusiaan.
Itu yang terjadi pada Y….dengan alasan normative yang di gagah-gagahkan, permohonan penangguhan penahanan atas alasan menjenguk anak yang kritis karena kecelakaan untuk pertama kali harus ditunda yang itu berarti memaksanya masuk pada perjudian nasip, apakah akan melihat anaknya untuk terakhir kali atau tidak. Ia akan melewati malam-malam panjang kesidang berikutnya dimana permohonan yang sama akan diajukan sekali lagi, timana tembok-tembok dingin penjara itu tak akan sanggup memenjara anggannya terbang memintasi jarak ke pembaringan anaknya.
Siang itu, opera kecil yang melodramatic tentang bagaimana bahasa cinta telah mengkristal dan bertiwikrama kebuliran air mata yang jatuh dipipi Y berawal dari diterimanya penangguhan penahanannya untuk menjenguk sibuah hati yang kritis di rumah sakit propinsi. Sulit aku bahasakan apa arti sorotan matanya yang basah menatap dalam ke relung mata istrinya yang sederhana disisinya. Kedua bibir suami istri itu terkatup rapat, tampa kata dengan jemari saling bertautan. Barangkali tsunami maha dahsyat telah memisahkan mereka, seolah beratus tahun saling mencari dan barangkali seperti inilah potongan kecil roman ketika adam dan hawa dipertemukan lagi di Bukit Kasih Sayang, di timur Padang Arafah. Jujur, aku lenyap dan menjadi debu dihadapan mereka. Hingga semua kata hilang, berganti buliran Kristal air mata.
Pada titik itu aku telah terhipnotis demikian paripurna. Sepertinya mantra-mantra para resi dan mahaguru yang disepuh kekuatan kata para pujangga telah menghunjamkan sebentuk cinta dalam bentuk lain, cinta berbeda yang membawa kekuatan perlawanan dan persaudaraan, sehingga dalam diam, dengan berani si pengacara belia itu membaptis dirinya sendiri, bahwa aku adalah bagian dari kalian, bagian dari orang-orang yang tanahnya terampas, dimana untuk itu banyak orang harus melewati masa dibalik dinginnya dinding-dinding penjara. Sungguh aku tak mengerti bagaimana sebuah keadilan, namun dengan telanjang aku menyaksikan pentas ketidak adilan itu.
Dan siang itu….si pengacara belia, telah jatuh cinta.

Jati Padang, 24 Desember 2013

Advertisements

Mak…Lidahku Kelu

Posted: December 23, 2013 in Perenungan Sastrawi

Mak…Lidahku Kelu

Kepada : Ibuku

Oleh : Andiko Sutan Mancayo

Mak

Semakin tinggi lelaki itu mendaki puncak
Semakin menukak rindunya pada nasi kerak
Saban senja menjelang mengaji
Disudut dapur menunggu air taji
Ketika umur menjelang baya hilang rasa, hilang makna
Selain tentangmu yg menunggang lelah,
menanggung segala liku

Mak
Tunjukkan jalan ke tangga arras
Dimana katanya tuhan punya tahta
Inginku banding segala waktu
Hingga ia tak akan ada yang menjemputmu

Mak
Lidahku kelu, di hari puja-puji pada ibu

22 Desember 2013