Archive for April, 2019


56990404_10219492108958223_3319978907712618496_o

Sejak 5 tahun terakhir saya merawat tanaman eksotik ini, dengan sepenuh jiwa dan karsa hingga Tuhan memberikan buah yang saya tunggu-tunggu. Seiring dgn itu, bibit perubahan ditanam dan saya mendedikasikan diri menjadi bagian dari orang-orang yang merawatnya, saya ingin jadi bagian dari solusi bangsa pula, dgn segenap kemampuan yang saya punya. Dalam perjalanan, Tuhan mengirim putik-putik perubahan itu, pada hampir tiap dahan-dahan dimana energi positif meramu diri.

Memang banyak gulma dan serangga kemudian terganggu, dimana sebagian datang dgn kebencian, namun sebagian besar lainnya datang karena psikologi kerumunan dimana komunikasi massa diproduksi sedemikian rupa, hingga seolah menjadi kebenaran.

Pendekatan pertanian organik yg saya lakukan memang tidak menghasilkan sesuatu yang instan, namun ia kemudian berdampak, memulihkan. Diatas tanah yang telah menyehatkan, disitu hukum Tuhan kembali berjalan, bunga-bunga bermekaran, hingga buah bermunculan.

Pagi ini, demi merawat putik-putik perubahan, saya ayun langkah, sebagai bagian dari perjuangan untuk bangsa harapan, merawat dan menjaga perubahan yang sedang berjalan.

Ketika segala daya telah saya curahkan, maka otoritas memberikan hasil, kembali kepada Tuhan pemilik kekuasaan. Karena itu “SAYA TIDAK MEMILIH GOLPUT ! ” — di Batam, Riau, Indonesia.

Advertisements

Hikayat Bubur Padas

Posted: April 16, 2019 in Photo Essay

53649975_10219227158094617_2701440798896947200_o

Urai Sabaruddin, pengusaha kedai di muara Sungai Sambas terlihat tergopoh-gopoh menyambut serombongan pria kulit putih yang kapalnya baru saja sandar. Saat itu Sang Kala sampai pada angka 1609 dan kerjaan itu sedang mendaki puncak kejayaan dibawah pemerintahan ratu yang arif dan bijaksana.
Serombongan lelaki itu memapah Kapten Kapal yg telah demikian lemas muntah-muntah dgn pandangan nanar dan kepala kliyengan. Beberapa kelasi kapal itu menyangka, kaptennya diserang oleh Jihin penguasa Selat Karimata, dan mereka minta pemilik restoran itu mencari penyembuhan.
Setelah diperiksa, ternyata Sang Kapten kena Masuk Angin, sebuah jenis penyakit tropis yang tdk pernah dikenal dlm kazanah kedokteran barat. Singkatnya setelah dikerok ala Jawa, si Kapten disuguhi, Bubur Padas khas Sambas, sembari diiringi sedikit bualan bahwa bubur ini adalah resep rahasia penyembuh penyakit paling dasar.
Ketika bule ini kembali sehat, dgn sedikit memaksa ia membawa sisa bubur dimangkok utk menjadi sample dagang yang akan dibawa ke Eropa, pastilah makanan Dewata ini akan laku keras sebagai teman pengusir dingin di pelabuhan tua Amsterdam.
Lalu kapal siapa sebenarnya yang merapat itu, ternyata itulah kapal VOC, kongsi dagang Belanda yang hendak menuju Banten. Konon menurut sebagian hikayat yg sulit dibuktikan kebenarannya, Bubur Padas inilah yang menjadi jembatan perjanjian dagang pertama antara VOC dgn kerajaan pesisir ini.
Salah satu alasan kenapa kemudian anak buah Pangeran Orange meneguhkan pemerintahan administratif kolonial setelah era VOC di Borneo, salah satunya adl karena mereka tidak mau kehilangan monopoli langsung terhadap resep rahasia istana, mengenai bagaimana Bubur Padas dilahirkan.
Pagi menjelang siang ini, saya tundukkan gejolak Gula Darah dgn semangkuk Bubur Padas yang nikmat, tepat dijantung kota ini. — bersama Syafrizaldi Aal di Sintang Regency.


57210662_10219484949859250_873601300103692288_o

Pekanbaru…apa yang saya kenang tentang Pekanbaru ?.
Dulu zaman sekolah, betapa hebatnya kawan yang liburan dikota ini. Ketika ia pulang liburan dgn sepatu Spotex & ikat pinggang Dunhill yang dibawa dari kota ini, rasanya ia langsung naik kelas sosial, krn selain terkesan tajir, ia seperti baru kembali dari episentrum sebuah kota Metropolis, pusat modernitas. Pokoknya hebatlah…
Bertahun kemudian, krn pekerjaan, kerapkali saya singgahi kota ini. Saya sambangi berbagai tempat yang menjadi buah cerita kawan sekolah yang pulang liburan dulu. Namun seluruh ekspektasi saya yang berasal dari cerita-cerita kawan sekolah dulu, menjadi biasa. Saya harus menemukan satu cerita lain tentang kota ini, sehingga rasa asing tidak menerkam saya.
Cerita tentang beberapa mantan pacar yang kemudian memilih hidup bersama Cintanya dikota ini, tentu akan menjadi satu alasan yang berbahaya digunakan utk memintas sebagai “Panggaleh Babelok” ke kota ini.
Akhirnya setelah sekian lama, saya kemudian menemukan Icon-Icon kota ini, sebagai pemantik kerinduan. Selain tentang sebuah perkawanan produktif dgn beberapa “Parewa” kota ini, saya kemudian menemukan deretan penjual komoditi Iconic yang sekian lama terabaikan dlm gemuruh industri Migas, Pulp & Oil Palm.
Komoditi itu adl KERUPUK JENGKOL alias JENGKI & KERUPUK “LEWAS” UBI.
Komoditi ini sungguh sejalan dengan ide Green Economic yang sedang digadang-gadang oleh banyak kalangan kali ini. Akibatnya, saya mengimajinasikan, bagaimana kalau kita “Jengkol”-kan sebuah Kabupaten yang mendeklarasikan diri sebagai daerah lestari. Mungkin dengan mengkonversi produk perkebunan yang telah jatuh harganya dipasar internasional, dgn pokok-pokok Jengkol yang menghampar permai, dan valuasi ekonominya mungkin akan dapat menggerakkan ekonomi sektor rill didaerah itu (ah…ketinggian ngomongnya).
Tapi intinya begini, tidak lengkap rasanya kalau anda ke Pekanbaru, jika tidak membeli dua jenis kerupuk, mutiara peradaban ini. Kapan perlu, anda bayar satu site di pesawat utk meletakkannya agar tidak remuk dibagasi, namun jika anda cukup nekat, maka baik kalau anda meminta tolong Pramugari untuk memangkunya, karena mereka begitu telaten mengamankan kerupuk yang baru anda beli disatu ruas jalan menuju Pasar Bawah ini. — di Pantai Nongsa Beach.