Archive for the ‘Uncategorized’ Category


Advertisements

Banjir Penasehat Menteri di KLHK

Posted: February 4, 2018 in Uncategorized

Struktur Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) yang sudah gemuk akibat penggabungan ternyata makin tambun dengan sejumlah pos baru, namun nonstruktural. Setidaknya, ada puluhan orang penasehat senior menteri (PSM) dan tenaga ahli menteri (TAM). Dari mana Kementerian membayar honor mereka dan apa manfaat keberadaan tenaga yang mayoritas mantan pejabat itu?

Gabungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan memang membuat struktur organisasi yang gemuk. Berdasarkan Perpres No. 16 Tahun 2015 tentang Kementerian LHK, pasal 4, ada 13 pejabat eselon I yang terdiri dari sekjen, ditjen, kepala badan dan itjen, plus 5 orang staf ahli menteri. Di samping itu, sesuai Perpres No.7 tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian Negara, Menteri LHK juga mengangkat tiga orang staf khusus, yang tugasnya memberi saran dan pertimbangan ke menteri dan bukan merupakan bidang tugas unsur-unsur organisasi kementerian.

Namun, dengan jumlah anak buah yang sudah besar itu, ternyata Menteri LHK Siti Nurbaya masih merasa kurang. Setidaknya, ada 9 orang yang diangkat menjadi penasehat senior menteri (PSM). Selain mantan pejabat kehutanan seperti Wahyudi Wardojo dan Efransjah, ada juga sosiolog UI Dr Imam B Prasodjo, Guru besar IPB Profesor Hariadi Kartodiharjo, pengamat kebijakan publik Dr Agus Pambagio, Dr Suryo Adiwibowo, bahkan aktivis lingkungan, Chalid Muhammad.

Cukup? Belum, ternyata. Menteri diketahui juga mengangkat sejumlah orang, baik orang luar maupun PNS dan pensiunan, sebagai tenaga ahli menteri (TAM). Untuk posisi ini, jumlahnya juga tak tanggung-tanggung: 17 orang. Berbeda dengan PSM, TAM masuk dalam buku data dan informasi pejabat LHK.

Menteri Siti Nurbaya, yang dikonfirmasi menyatakan, PSM dibutuhkan untuk mengubah cara kerja birokrasi Kementerian LHK. Loh? Maksudnya? Kementerian Kehutanan ternyata sejak dulu dicap sebagai bagian dari mafia hutan dan perizinan. “Kritik yang dialamatkan kepada Kementerian ini adalah eksklusif, tidak terbuka. Bahkan disebut sebagai mafia hutan, mafia perizinan,” kata dia, Jumat (19/1/2018). Itu sebabnya, untuk mengubah stempel buruk itu adalah dengan mendengar apa yang dikatakan oleh ‘orang luar’.

Yang jadi soal, dari mana dana untuk membayar honor mereka, mengingat jabatan PSM ataupun TAM berbeda dengan staf khusus, misalnya, yang punya payung hukum? Ini yang luar biasa. Menteri menegaskan dana diambil dari UNDP (Program PBB untuk Pembangunan). “Anggaran saya carikan dari luar, UNDP. Tapi mereka tidak melapor ke UNDP,” ujar Menteri. Kabarnya, pembebasan pembuatan laporan ini membuat marah UNDP karena mereka dibayar sebagai expert alias pakar dan berarti harus buat laporan.

Yang menarik, PSM ini juga kerap dipilih menjadi panitia seleksi (Pansel) untuk menguji calon pejabat eselon I dan II Kementerian LHK. Dengan posisi strategis tersebut, tidak aneh jika ada pihak yang merasa asing ikut membentuk kebijakan lingkungan dan kehutanan nasional. “Jangan-jangan mereka menjadi antek asing. Jika kemudian ditugaskan untuk merekrut pejabat eselon I dan II, apakah tidak perlu dipertanyakan, jangan-jangan mewakili negara pemberi honor,” kata pengamat hukum lingkungan dan kehutanan, Dr Sadino. AI

http://agroindonesia.co.id/2018/01/banjir-penasehat-menteri-di-klhk/


Sya’ir Perang Siak

Kelopak Biduanda

شــــــــــعــيـــــــــــر

سـيك سـري إنـدرڤـور

دار الـسـلام الـقـيـام

SYAIR

SIAK SRI INDRAPURA DÃR AL-SALÃM AL-QIYÃM

Oleh SPN. DRS. AHMAD DARMAWI, M.Ag.

A. MUQADDIMAH

001. Dengan Bismillah sebermula kata

Membasahi lidah semogalah pokta

Limpah Rahmat-Nya ke alam semesta

Taufiq dan Hidayah-Nya nan hamba pinta

002. Dengan Bismillah syair dimanqul

Hikayat dan kisah riwayat berqaul

Merangkai peristiwa sejarah dibuhul

Berdasar kenyataan fakta disimpul

003. Hikmah Bismillah sejarah dibayan

Berkat kalimah Malik al-Dayan

Rahman dan Rahim-Nya sepanjang zaman

Cantik Indah-Nya sungguhlah hasnan

View original post 14,236 more words


Perdebatan izin penambangan PT. Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng Jawa tengah, telah memasuki babak yang menentukan. Salah satu poin kunci adalah upaya pemerintah untuk menjalankan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLS) di daerah tersebut. Dokumen hasil KLHS ini akan menjadi rujukan bagi pengmbilan keputusan terhadap kasus ini.

Link Dokumen KLHS : Laporan KLHS Tahap 1 120417


…….Saat izin usaha perkebunan kelapa sawit dan sertifikat HGU diterbitkan, status lahan seluruh PSB sudah bukan merupakan kawasan hutan, namun sebagian besar perkebunan (7 dari 8 PSB) mengajukan alih fungsi kawasan hutan menjadi non kawasan hutan melalui proses pelepasan kawasan hutan sebelum izin usaha perkebunan diperoleh. Akan tetapi, alih fungsi kawasan hutan pada 1 PSB diantaranya diajukan oleh pemilik/pengelola PSB sebelumnya. Jika dilihat berdasarkan luasan seluruh areal PSB yang diamati (46,372.38 ha), sebanyak 68.02% status lahan yang dialihfungsikan berasal dari hutan produksi konversi/areal penggunaan lain, 30.01% berasal dari hutan produksi terbatas, dan 1.97% berasal dari hutan produksi……

LINK : ringkasan eksekutif new untuk pak wicak-1

Screen Shot 2017-04-02 at 10.10.51 PM


Disampampaikan dalam side event Huma-Badan Restorasi Gambut (BRG) pada Konggres V Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) di Tanjung Gusta Medan, Sumatera Utara, Tanggal 15 Maret 2017

Screen Shot 2017-03-16 at 10.20.21 AM

Link Presentasi : Andiko

Foto Kegiatan :

 

IMG_3963


SK-Bupati-Sigi-ttg-PPMHA_-To-Kulawi-dan-To-Kaili



Surat Serat Jati Wa Ode Kepada Paman Yones Koanfora Pellokila; Sebuah Catatan Pembuka Perjalanan Ke Kontu

Paman Yones, aku tulis surat ini jauh pada tempat yang hampir terlupakan, ketika ada temanmu datang. Lelaki sipejalan yang gelisah itu datang dari jauh, tempat siang tertikam malam, membawa senja ketika kapal merapat hanya untuk beberapa menit dan kemudian peluit keberangkatan segera berbunyi. Tiang-tiang pelabuhan dan tumpukan pohon jati tak bernama, menyapanya. Mungkin saja ada cinta yang memanggilnya pada bumi gersang tempat darah pernah tumpah, karena dia juga datang dari negeri yang tanahnya terampas. Aku tak peduli !.

Kerinduanku padamu mengalahkan segalanya, meskipun ada lagi perempuan asing disisinya, mukanya mengelupas terpanggang matahari. Perempuan yang bersilat demi kami di antara rimba hukum, aku tak peduli. Karena hukum bagi kami telah berubah berwajah polisi, satuan polisi pamong praja, para preman dan penjara. Betapa mengerikannya paman. Adakah lagi masa ketika aku berlindung pada bingkai kacamatamu dan lautan kata-kata yang menyadarkan dan membangunkan yang tertidur.

Paman Yones, ingatkah padaku, aku Wa Ode yang menatap asing ketika kau datang. Aku bukanlah “Perempuan Berbaju Biru” yang menyihir kesadaran akan penindasan, perempuan berbaju biru yang memekik, seperti mantera di masa lalu, kita orang tak bertanah !. Tetapi aku hanyalah gadis kecil yang tersipu penuh rasa ingin tau, muka merah padam terbakar matahari, karena tidak ada lagi tajuk-tajuk jati yang menyaring mentari ditanah Kontu.

Paman, aku tulis surat diatas pokok-pokok bekas pohon jati, berharap sampai padamu meskipun pak pos tidak akan pernah datang, karena hampir seribuan lebih yang tinggal bersamaku, tidak tercatat di kabupaten sebagai penduduk Kontu. Aku bertanya-tanya, kenapa kami dianggab tidak ada. Aku mencuri-curi dengar pembicaraan ibu dengan paman-paman yang lain, didalam peta tempat tinggalku adalah kawasan lindung yang harus kosong dari ladang-ladang kami, katanya.

Paman Yones, aku ingin sampaikan, aku telah naik kelas dengan nilai PPKN delapan lebih, nyaris sembilan. Sebagai anak orang-orang bermandi keringat, para pengolah karang dan batuan menjadi jagung, ubi dan pisang, kukira aku teramat pancasilais. Aku hapal sekali sila pertama sampai sila kelima, sehingga guru memberikan padaku angka itu. Tetapi sila nyaris tak bermakna ketika berada pada posisiku. Meskipun aku terlalu kecil untuk paham bagaimana wajah kekuasaan, tetapi akulah penyaksi ketika rumah-rumah kami dibakari, pagar-pagar ladang direbahkan dan pohon-pohon pisang kami bertumbangan ditebas. Ketika ibu, bapak dan yang lain berusaha mempertahankan pokok-pokok jagung dan tanaman lainnya, aku juga penyaksi pukulan-pukulan aparat singgah ditubuhnya.

Sebenarnya pada saat itu aku ingin tertawa paman, melihat kepala ibu benjol-benjol, tetanggaku pingsan dan kepala Paman Ihlas mengucurkan darah dipukuli. Semua terasa lucu bagiku, kenapa ibu tidak mengajak “Power Ranger” atau “Dora Emon” atau “Satria Baja Hitam”, membantunya menghadapi para penyerang. Katanya “Power Ranger” atau “Dora Emon” atau “Satria Baja Hitam” sering bertandang kerumah-rumah aman dan hangat ditempatmu. Ia membantu yang lemah melawan kezaliman disoraki tawa senang anak-anak yang lebih beruntung dariku. Sayangnya aku tidak seperti mereka.

Seperti yang paman pernah lihat, rumahku hanyalah berdinding anyaman bambu, beratap ilalang dengan lobang-lobang besar tempat angin lalu lalang, tidak ada listrik dan kamar mandi yang wangi. Tidak ada televisi yang dapat mengundang “Power Ranger” datang. Bahkan komik pertama yang aku miliki, paman tau judulnya ?. Judul komikku “Hukum Kami Hukum Adat” yang setiap sore ketika menanti ibu pulang dari ladang, aku baca berulang-ulang. Aku akan bercerita pada semua orang di kota, bahwa aku juga punya komik, meskipun bukan komik jepang dan korea yang katanya banyak di kerubungi anak-anak di toko buku.

Tetapi dirumah itulah harap terbangun dan hidup bertarung. Kami tidak mengeluh meski kami diantara ada dan tiada. Kami makan apa yang diberikan tanah ini dan kami tertawa, bercanda, berlarian hingga pokok-pokok Jati membuatku terguling. Begitu juga kami lewati malam-malam panjang meski tak ada kepastian, seperti malam ini paman, saat ini bulan merangkak naik, dengarlah sayup tembangku. Berangkai-rangkai doa membubung ke awan, seperti bintang-bintang yang berarak mengantarkan harap pada tuhan. Aku lagukan tentang masa depan yang indah sebagai pengantar tidur adikku La Ode “sibajingan kecil”. Lagu itu menelisik malam diantara pokok-pokok jagung, kacang tanah dan rumpun pisang. Sesaat keheningan terusik lirih suaranya, seperti mantera mengundang kantuk.

Malam ini paman, teramat dingin, angin malam menembus bilik bambu, adikku menggeliat kedinginan. Kami hanya punya kain lusuh yang pernah mengendong generasi demi generasi sebagai pembungkusnya. Beberapa jam yang lalu, sore jatuh ditekuk teluk Raha. Dari ketinggian potongan jati pagar ladang, aku menatap jauh kelautan. Inginnya aku berlayar, seperti penumpang kapal yang hilir mudik dan aku akan bertanya pada setiap orang kenapa api membakar gubuk-gubuk kami dan menjadi mimpi buruk yang tak pernah usai. Mengapa ibu dan bapak mesti diusir ?.

Salahkah aku paman ketika menyimpan rasa ingin pada tunggul-tunggul jati dan hamparan ladang, tentang sekolah impianku. Tentang rasa aman dan makan yang cukup. Mungkinkah paman, aku yang dibesarkan dengan nasi jagung dan sayur daun kelor, tanpa televisi, komik dan mainan bisa melihat kota. Aku ingin bersekolah tinggi, katanya dengan bersekolah tinggi dapat menolong saudara-saudaraku. Tetapi katanya hari ini sekolah itu hanya untuk orang kaya.

Untuk itu aku ingin menabung paman, di celengan bambu ?. Bukankah menurut ibu guru hemat itu pangkal kaya. Tetapi ibu jarang sekali memberikan uang jajan, karena ibu dan bapak tidak berladang dengan aman, hingga tidak ada yang bisa dijual dari tanah kami. Bahkan kalaupun ada, tidak ada yang berani membeli sayur-sayur kami, sayur-sayur yang tumbuh diatas konflik, sayur-sayur yang disiram dengan air mata para pembangkang.

Paman, pada temanmu yang ”merana” bersama saudara-saudaraku di halaman, aku titipkan bulan yang berhenti mendaki dan tergantung diatas kontu. Segala luka dan kesakitan terpanggang pada bara ”tunuha”. Begitulah nenek moyang kami mengajarkan berbagi dalam desau angin. Kalaulah ada air mata menetes diantara mereka, tapi ia melentik, bukanlah karena kesedihan orang-orang yang tak diinginkan, tetapi kasih perjuangan menebar seperti jala.

Paman Yones, sejak pagi aku diajak ibu ke pengadilan. Inilah pengadilan duniawi dimana sejarah sedang bertarung dengan kekuasaan. Meski kami sadari sejarah adalah milik pemenang, bahkan kelaliman telah sampai pada titik penistaan, aku tetap mimpi tentang kebenaran. Seperti itu juga mimpi satu orang dari enam paman-pamanku yang hari ini menjadi pesakitan. Mereka para peladang di kawasan hutan menurut dakwaan dan itu kriminal !. Ketahuilah paman, jauh sebelum pengadilan di negeri merdeka ini berdiri, kami tidak terusik.

Paman, di nadiku mengalir darah panglima pemenang yang menukar kekuasaan dengan kearifan, yang mengganti mahkota dengan dengan tanah. Kamilah La Kundofani si Kino Watoputhi, si penolong itu. Karena itulah raja Muna bertitah, hingga terbentanglah dari Watoputeh sampai ke Wakadia tempat mentari tenggelam di pangkuan malam, dari Labunti di Utara sampai di pesisir pantai Laino yang melahirkan fajar. Disalah Kontu, Patu-patu, Lasukara dan Wawesa dari generasi ke generasi melahirkan kami dan ditanah itu kami berkubur.

Pagi itu, setelah berkali-kali kami mesti keluar dari tanah ini, berkali pula kekuasaan berganti, La Ode Enda dengan bahasa yang tidak kami mengerti menanamkan bibit pertama yang akan menjadi petaka. Pagi itu tanggalan sampai pada angka tahun 1956, satu tetumbuhan bernama Jati berderap maju seperti pasukan meneriakkan “kultir” (kultur), memaksakan hak tumbuh di tanah kami. Beriring tahun ia membesar, membesar dan memaksa kami keluar. Sampai kemudian La Kundofani si Kino Watoputhi kami minta bangkit, mengembalikan kami pada tanah ini.

Paman Yones, ini adalah lembar keempat suratku, kukira tintanya telah mengabur, ini pena terakhir dan satu-satunya yang aku miliki. Jika matamu lelah membaca, berjalanlah keluar Warung Cekermu, pandanglah awan hitam polusi yang menyelubungi kotamu, seperti itulah hari yang kulewati. Tapi aku tetap tersenyum paman, setiap pagi kesekolah dengan kaki berkabut karena debu kering tanah Kontu dan mata berbinar-binar seperti dulu. Baiklah paman, aku persingkat saja surat ini.

Paman, apakah yang disebut dengan kawasan hutan itu, kenapa tiba-tiba membuat kami semua menjadi kriminal dan kalaulah benar 80 % kawasan itu belum tuntas tata batasnya dengan hampir 20 juta saudaraku yang hidup didalam dan diluar kawasan hutan, tidak akan muat penjara untuk kami. Paman, bukanlah kami takut akan penjara, karena di penjara kami tidak lagi berpikir bagaimana mencari makan dengan aman hari ini. Tetapi yang memberati pikian kami, apakah konstitusi telah kehilangan makna, sehingga ia telah menjadi tumpukan kertas tua yang memuat pasal demi pasal, buah kegenitan intelektual. Sehingga hak kami sebagai pemilik syah negeri ini hanya sebagai pemanis pidato para politisi dan birokrasi. Apalah jadinya kami ini paman, ketika tenurial hutan belum jelas penguasa membuat RUU Illegal Logging. Kepada siapa kami mesti bertanya mana yang legal dan illegal, ketika hak hanya ada di kertas dengan pasal saling menikam.

Paman Yones, sekali-sekali kirimkanlah kami ceker presto, akan aku bagikan pada para terdakwa perambah hutan negara ini. Sejak pagi ia belum makan, hingga dengan tubuh layu itu tak sanggub dengan tegak menjawab teriakan hakim yang bertanya apakah ia akan keluar dari kontu atau tidak. Kirimkan juga kami ceker dimsum agar bisa berucap seperti orang Jakarta, hingga kami bisa membela diri atas pengusiran atas nama hukum. Sekalian dengan Wine pengganti komeko, air kata-kata yang tumbuh di tanah kami.

Paman, mataku nanar dan telingaku telah berhenti mendengar. Sungguh tak kupahami persidangan ini, tapi persidangan terus berjalan dari tahun ke tahun. Apakah perempuan cantik berjubah hitam yang datang jauh dari pulau siaw itu memantik kemurkaan jaksa, hingga menjadikan tuntutan teramat tinggi pada kami. Apakah salahnya paman ?. Kenapa hukum mesti pilih kasih.

 

Paman, malam telah larut dan tangan telah penat. Sepertinya surat ini tidak akan pernah selesai. Karena itu biarlah aku lukis langit sehingga kau akan membacanya, bukankah kita masih satu langit ?. Sampaikanlah seluruh tanyaku pada orang-orang, tentang keadilan hingga sejarah kembali milik kami.

Sebagai penutup surat ini paman, meskipun aku tidak juara kelas kali ini, karena aku sering bolos untuk menjaga La Ode adikku, ketika ibu, bapak, paman, dan para tetangga sibuk mempertahankan lahan kami dari pengusiran, aku tetap ingin meminta hadiah. Aku tidak ingin ke Dufan, aku tidak inginkan tas baru berwarna pink, tapi kuingin kembalikan masa kecilku yang hilang, karena kami terpaksa dewasa menghadapi ancaman, bawakanlah aku rumah hangat, penuh rasa aman. Ketika kau datang membawa itu, akan aku bagi semuanya pada anak-anak tak bernama di kawasan hutan negara lainnya, mereka hanyalah berarti sampai pada tingkat angka-angka statistik. Kirimkanlah juga buku paman, karena dengan itu kami akan merubah dunia.

Paman, jika kau lihat sebongkah karang di pelabuhan Raha, berdiri tegak menatap lautan, ketika suatu saat kau datang, itulah aku Wa Ode, gadis kecil dari Kontu, membatu menunggumu membawa keadilan dan rasa aman.

Jangan tinggalkan kami paman, kami mimpi seperti anak-anak yang lain.

Jakarta, 14 Juli 2006

Catatan;

Merana : Berdiang/memanaskan tubuh di sekeliling api unggun

Tunuha : Ubi yang dimasak dalam batangan bambu didalam tumpukan batu yang dipanaskan

La Ode Enda : Kepala Dinas Kehutanan pada tahun 1956


Katiagan….kenapa Katiagan ?. Itulah pertanyaan kecil yang muncul dibenak saya ketika diminta memberikan sedikit kesan terhadap sebuah buku puisi yang ditulis seorang ahli sertifikasi produk….ya puisi ditangan ahli sertifikasi produk !….sungguh kejutan dimalam-malam pelintasan saya…

Kata dalam rangkaian puisi adalah sebilah Keris “Ganjo Erah”, keris maha sakti Bangsa Minangkabau. Dia menikam bayangan kesadaran, menggentarkan keyakinan, jangankan berdarah, tergorespun tidak, namun tujuh hari dagang berjalan, meskipun jejaknya saja yang ditikam, namun orangnya mati juga. Sebangun dengan itu, kata dalam puisi adalah juga sebuah palu yang menggedor kemapanan dari waktu kewaktu, baik itu kemapanan politik, social dan bahkan kemapanan perasaan, karena itu dia dicinta dan sekaligus dibenci.

Kami bangsa Minangkabau, berladang di kata-kata, dimana rasa dan periksa dirawikan sehingga disitu garis pembeda telah ditorehkan, karena itulah hanya yang “Lurus Dimakan Pahat, yang “Bengkok Dimakan Siku”, disitu pula “Manusia Menahan Kias”-“Kerbau Menahan Lecutan”. Kata pulalah penentu bangsa, karena “Kata Dahulu-Kata Ditepati, Kata Kudian-Kata Dicari”. Disitulah Dwi mentahbiskan diri menjadi bagian dari perawi itu.

Lalu Katiagan, barangkali ialah kampong yang hilang itu, dimana angin kerinduan membias dari laut Hindia dan tempat dimana pokok-pokok nyiur menari. Padanya malam-malam kosong adalah sebuah tafakur, akan waktu yang lewat dan disana Insan menguliti diri, “Sauak Aia – Mandian Diri”, hingga “Tegak Berdiri Alif ”. Dari situ pulalah mungkin Syara’ mendaki dan Adat Menurun, begitu pituah dua orang datuk. Hingga pada akhirnya memaksa kita bertanya, kemana kita akan pergi, pada sisa waktu yang tak banyak, pada tebaran pasir pantai Katiagan.

Saya lihat itulah seorang Dwi dan orang-orang sejenis lainnya. Merekalah para pertapa dalam gemuruh pembangunan yang menghadirkan sebuah tragedy dalam ironi sebuah kebenaran, namun indah, dimana hidup kerapkali bukan soal menang dan kalah, tapi perjalanan yang mesti disematkan makna, dimana hanya kehalusan jiwa saja yang dapat meresonansi. Sebuah perpaduan eksentrik transedental dengan sesuatu yang begitu mekanik.

Nah, dibuku ini, saya berenang pada lautan kata, dimana gemuruh ombak Pantai Katiagan adalah panggilan akan pencarian diri, sebagaimana perintah pertama turun di Gua Hira. Bacalah….bacalah dengan nama Tuhanmu…ketika ayat-ayat bertebaran pada helai demi helai dedaunan yang gugur di rimba raya, begitu pula sebentuk teguran terkirim dan mengawang pada asap pekat yang memalun gambut yang berbara….karena itu, buku ini akan menenggelamkan pada penemuan, gugusan kebesaran itu.

Batam, 19 Oktober 2015 Andiko Sutan Mancayo