Archive for June, 2011


Dan Lelaki Kecil Itu Menikah Sudah : Catatan Kecil untuk Direktur LBH Padang

 

Andiko Sutan Mancayo

 

Sepuluh tahun lalu, ketika dingin berlari menuruni lereng perbukitan yang menyangga Gunung Talang, aku pernah berdiri, dilapangan kecil ini, dimana jalannya berujung pada sebuah rumah, disitulah kuantar seorang lelaki kecil kepada Ibunya. Malam ini, setelah memintas palunan kabut, jalan mendaki dan berliku, kemudian menurun dikelokan, dengan segala kabut menyergap, pada tiap tikungan antara Sitinjau Lauik, Sukarami, Guguak dan akhirnya mobil itu berhenti di “Lapau” tua yang lengang di ujung jalan itu. Dadaku bergemuruh. Yach….mungkin sepuluh tahun sudah kenangan terbentang dan ia tunggangi waktu berlari dan aku kembali. Seorang laki-laki kecil dulu itu telah ada di pintu dewasanya. Aku gugup. Dia menikah hari ini dan aku terlambat datang!.

 

Aku tidak tahu, bagaimana masa mempertemukan kami. Kemudian malam-malam panjang terlewati ditengah ladang-ladang tanah sengketa atau berkaparan di sebuah bilik yang juga ruang kerja yang didindingnya terpajang potret orang-orang desa yang berjuang untuk tidak kalah dan seperti mendoktrin hingga kebatas kesadaran dimana mimpi tentang keadilan kemudian terbangun.

 

Bertahun kami bertanya pada sejarah kecil yang tergoreskan, siapakah kami diantara hiruk pikuk bangsa ini. Pada suatu masa, ketika negeri ini tergagap-gagap dengan gempa yang menggelincirkan manisnya kekuasaan pada ketelanjangan segala ketidak adilan, hingga batas antara kebenaran dan kesalahan demikian absurd dan kerapkali harap akan kebenaran yang didamba semakin menjauh, di situlah, beberapa kepompong mulai menetas, menetas dan menetas lagi dan ia percaya, harus ada yang berubah untuk generasi suatu hari nanti. Seperti hantu segala kemarahan dan kesedihan merasuk dan membolak-balikkan duka menjadi perlawanan, diantara barisan para petani yang murka. Lelaki kecil itu ada di antara langkah berderap dan kami sumringah melangkah.

 

Ketika itu, sungguh tak kami mengerti tentang apa itu aktivis dan kami jengah. Karena sebagaimana Gramschi katakan, suatu waktu nanti akan sampai ketika bahasa menghegemoni, hingga terbentanglah jarak antara sipejuang dan sikorban, karena hegemoni membangun posisi, sementara kami, lahir dari kesederhanaan harapan yang terpancar di tatapan suram orang-orang yang kehilangan tanahnya dan pada sisi serta level yang berbeda, kami semua adalah juga korban.

 

Pernah ada masa, ketika mimpi berlari diantara orang-orang yang di teorikan akan menumbangkan kelas elit yang ada diujung pedang sejarah, karena begitu dalamnya penghisapan seperti yang Marx katakan, meskipun pada akhirnya, kitalah penyaksi ketika kelas yang dimimpikan menumbangkan para elit, kerapkali justru merangkak naik dan berusaha menjadi bagian dari mereka sebagaimana apa yang dikatakan oleh Thorstein Veblem sejak lama dan berkali igauan merusak mimpi.

 

Masih teringat olehku, disuatu malam di padang pengorganisasian, ketika spirit telah mengabaikan keterbatasan fisik dan kami tumbang. Diantara gumaman mantera para tabib desa, diantara baluran segala dedaunan tepi hutan yang mulai dirambah dan diantara batas kesadaran kita berdialog tentang Tuhan, apakah ia ada diantara kita ?. Apakah segala apa yang telah kita buat akan berimbal pahala yang mengantarkan ke surge ataukah itu sebuah pamrih yang akan melemparkan kita pada lobang-lobang penuh api, jauh di kedalaman neraka ?. Dan dalam igauan yang makin menjauh, seperti angin dingin sebait kalimat mengalir, kita berbuat karena kita cinta, cinta pada kemaha agung yang menebarkan kasihnya pada manusia dan segala mahluk dan kita ada pada barisan orang-orang yang mencoba menghadirkan bias cahaya keberadaannya diantara peradaban bangsa.

 

Sepuluh tahun masa telah habis, dan lelaki kecil itu sampai sudah pada titik ketakutan paripurna tetapi sekaligus menawarkan berbait-bait sajak indah tentang cinta yang menemukan perhentian, dan ia telah memutuskan. Sebagaimana para pendahulu, barangkali kita telah dipalun kebingungan pada teka-teki ketuhanan tentang perjanjian pertama di rahim ibunda, tentang sebuah pertemuan, jodoh, rizki dan kematian dan kita lompati segala gamang dan menyibak sampai kemudian di pintu ketika sesuatu yang selama ini dihukum haram kemudian segera menjadi halal dengan sebait kalimat yang mengikat dua insan di sebuah mahligai, begitu para pujangga merawikan.

 

Hari ini setelah sepuluh tahun yang lalu, aku urai segala kesadaran dan kenangan, tentang seorang lelaki kecil yang kini telah dewasa dan lelaki kecil itu, menikah sudah !.

 

Jakarta, 7 Juni 2011

Advertisements