Archive for October, 2015


Katiagan….kenapa Katiagan ?. Itulah pertanyaan kecil yang muncul dibenak saya ketika diminta memberikan sedikit kesan terhadap sebuah buku puisi yang ditulis seorang ahli sertifikasi produk….ya puisi ditangan ahli sertifikasi produk !….sungguh kejutan dimalam-malam pelintasan saya…

Kata dalam rangkaian puisi adalah sebilah Keris “Ganjo Erah”, keris maha sakti Bangsa Minangkabau. Dia menikam bayangan kesadaran, menggentarkan keyakinan, jangankan berdarah, tergorespun tidak, namun tujuh hari dagang berjalan, meskipun jejaknya saja yang ditikam, namun orangnya mati juga. Sebangun dengan itu, kata dalam puisi adalah juga sebuah palu yang menggedor kemapanan dari waktu kewaktu, baik itu kemapanan politik, social dan bahkan kemapanan perasaan, karena itu dia dicinta dan sekaligus dibenci.

Kami bangsa Minangkabau, berladang di kata-kata, dimana rasa dan periksa dirawikan sehingga disitu garis pembeda telah ditorehkan, karena itulah hanya yang “Lurus Dimakan Pahat, yang “Bengkok Dimakan Siku”, disitu pula “Manusia Menahan Kias”-“Kerbau Menahan Lecutan”. Kata pulalah penentu bangsa, karena “Kata Dahulu-Kata Ditepati, Kata Kudian-Kata Dicari”. Disitulah Dwi mentahbiskan diri menjadi bagian dari perawi itu.

Lalu Katiagan, barangkali ialah kampong yang hilang itu, dimana angin kerinduan membias dari laut Hindia dan tempat dimana pokok-pokok nyiur menari. Padanya malam-malam kosong adalah sebuah tafakur, akan waktu yang lewat dan disana Insan menguliti diri, “Sauak Aia – Mandian Diri”, hingga “Tegak Berdiri Alif ”. Dari situ pulalah mungkin Syara’ mendaki dan Adat Menurun, begitu pituah dua orang datuk. Hingga pada akhirnya memaksa kita bertanya, kemana kita akan pergi, pada sisa waktu yang tak banyak, pada tebaran pasir pantai Katiagan.

Saya lihat itulah seorang Dwi dan orang-orang sejenis lainnya. Merekalah para pertapa dalam gemuruh pembangunan yang menghadirkan sebuah tragedy dalam ironi sebuah kebenaran, namun indah, dimana hidup kerapkali bukan soal menang dan kalah, tapi perjalanan yang mesti disematkan makna, dimana hanya kehalusan jiwa saja yang dapat meresonansi. Sebuah perpaduan eksentrik transedental dengan sesuatu yang begitu mekanik.

Nah, dibuku ini, saya berenang pada lautan kata, dimana gemuruh ombak Pantai Katiagan adalah panggilan akan pencarian diri, sebagaimana perintah pertama turun di Gua Hira. Bacalah….bacalah dengan nama Tuhanmu…ketika ayat-ayat bertebaran pada helai demi helai dedaunan yang gugur di rimba raya, begitu pula sebentuk teguran terkirim dan mengawang pada asap pekat yang memalun gambut yang berbara….karena itu, buku ini akan menenggelamkan pada penemuan, gugusan kebesaran itu.

Batam, 19 Oktober 2015 Andiko Sutan Mancayo

Advertisements