Archive for October, 2013

Senja itu di Ulele

Posted: October 30, 2013 in Karya Fotoku

Senja itu di Ulele

Ingatkah kau pada sepotong senja di Ulele. Siang telah berpulang ke peraduan, ketika keindahan kau tikamkan ke dada, hingga tak bangkit lagi

Advertisements

Di Pantai Panjang

Posted: October 27, 2013 in Perenungan Sastrawi

Di Pantai Panjang

Andiko Sutan Mancayo

dan di pantai Panjang
senja jatuh
desau angin
bersiul di antara
pokok-pokok cemara
rindu luruh menebar
menghampar lembut
putih pasir,
disitu ombak mengantar buih,
menjilatinya

cerita
lelaki kalah itu
telah mengartefak
di Fort Marlborough
diantara tangsi-tangsi serdadu kosong
dan meriam melompong
yang menyonsong para pelintas,
ia menatap lara.

Oh ya, ketika ku sambangi kau
di St Mary Churchyard Hendon Greater London
kita bincangkan luka yang menunggang waktu
meskipun telah bertukar Bengcoolen dengan Singapura
tetapi sedu sedan tak pernah lewat.

Nah, kali ini
kukirimkan harum semerbak
kopi Muara Aman
diantara tenda-tenda
pantai itu
dan anak negeri
melepas hari.

Bengkulu 28 Oktober 2013


Senjakala Positifisme Hukum : Sebuah Pidato Politik di KTT Hukum Rakyat

Pidato ini dipersembahkan untuk Rakyat yang terus memperjuangkan keadilan, para pendamping hokum rakyat serta PHR yang telah mendahului kita semua yaitu Prof. Soetandyo, Hedar Laujeng & Edison R. Gyai

Saudara-saudaraku para Pendamping Hukum Rakyat.

Minggu-minggu terakhir ini, adalah minggu perkabungan dunia hukum di jagad negeri, dimana benteng kepercayaan terakhir atas keadilan yang disediakan oleh Negara dihancurkan. Dimana, dengan ditangkapnya Ketua MK, kita seperti dipertontonkan dengan sebuah panggung Machiavelian yang telanjang, menggoncangkan rasa keadilan rakyat, dan semakin menunjukkan seperti apa roda kekuasaan berputar.

Ketika angin Negara Bangsa berhembus dari utara dan menyapu Kolonialisme, dengan gegap gempita para elit bangsa berusaha mentransformasikan secara radikal sendi-sendi Negara bekas jajahan menuju apa yang dianggab sebagai kemajuan dengan sebuah jalan hukum. Hukum dalam arti Undang-Undang menjalankan perannya sebagai alat yang sedemikian rupa berusaha merekayasa situasi social menuju nusantara baru. Pada titik itu Hukum adalah satu-satunya alat yang diyakini paling efektif untuk mengarahkan prilaku meskipun terdapat sejumlah system pengaturan lain yang bekerja ditengah-tengah rakyat untuk melahirkan keteraturan dan harmoni sebuah Negara bangsa yang sedang tumbuh.

Saudara-saudaraku para Pendamping Hukum Rakyat.

Perjalanan dunia hokum kita mengajarkan betapa anomalinya menanamkan sebuah rule of law, kepada masyarakat yang tumbuh tradisi Rule Of The Man yang meletakkan ukuran pada tata nilai dan moralitas pemimpinnya. Namun seiring waktu berjalan, kita semakin kehilangan pemimpin itu sehingga seiring dengan itu, karena Hukum hanyalah apa yang dibuat oleh penguasa, maka standar moralitas, kebenaran dan keadilan hanya bersumber dari kekuasaan yang tentunya akan mengabdi kepada penguasa itu pula. Berbagai penyimpangan terjadi dengan massif, pada akhirnya mengaburkan standar kebenaran Bangsa, sehingga teramat sulit untuk menarik batas antara apa yang salah dan apa yang benar.

Saudara-saudaraku para Pendamping Hukum Rakyat

Salah satu output dari dunia pendidikan hokum kita adalah menghasilkan pada “tukang hukum”. Sebagaimana para tukang, merekalah para teknokrat yang menjadi user/pemakai hokum yang menopang sebuah system yang semakin jauh dari jangkauan rakyat. Maraknya produksi berbagai peraturan perundang undangan menunjukkan resistensi para pembuat hokum terhadap evaluasi kritis terhadap kegagalan berbagai peraturan. Ambisi untuk mempercepat transformasi sosial atau yang didasari oleh keyakinan bahwa hukum bisa memaksa orang untuk berperilaku seperti yang dihekendaki, tidak diikuti oleh pemberlakukan hukum yang efektif.

Maka dari pada itu, sudah saatnya positifisme merunduk dari kepongahannya, dan sesegera mungkin dengan takzim kembali menikam jejak esensi moral dari hukum rakyat yang menjadi fondasi keadilan bangsa. Mari kembali ke “kampung” menemu kenali lagi moralitas hukum yang hilang dari hiruk pikuk industry hukum yang mekanik. Sebab kepastian hukum tampa moralitas akan menghasilkan keadilan mekanik dan procedural yang menjauhkan keadilan dari esensinya, disitu para “tukang hukum” berpesta pora.

Maka hari ini, Kami para Pendamping Hukum Rakyat, menyerukan “Kembalikan Hukum Menjadi Milik Rakyat Indonesia”. Hukum rakyat adalah hokum yang lahir dari Rahim rakyat yang telah ditempa oleh ujian panjang logika dan moralitas kerakyatan.

Wahai saudara-saudaraku para Pendamping Hukum Rakyat, mari kita kembalikan hokum ke bawah panji cita-cita kenapa Negara ini didirikan yaitu untuk mencapai rakyat yang adil dan makmur. Pada jalan itulah hukum sejatinya mesti mengabdi.

Jakarta, 8 Oktober 2013

Andiko Sutan Mancayo

Sunset di Tanjuang Jomba

Posted: October 3, 2013 in Karya Fotoku

Sunset di Tanjuang Jomba

Pacu Jawi di Kampungku

Posted: October 3, 2013 in Karya Fotoku

Pacu Jawi di Kampungku.

Kopi Lampung

Posted: October 3, 2013 in Uncategorized

Kopi Lampung.

Kopi Lampung

Posted: October 3, 2013 in Karya Fotoku

Kopi Lampung

Sumberjaya

Senja Di Singkarak

Posted: October 2, 2013 in Karya Fotoku

Senja Di Singkarak

Pacu Jawi di Kampungku

Posted: October 2, 2013 in Karya Fotoku

Pacu Jawi di Kampungku

Pacu Jawi di Nagari Gurun Tanah Datar

Padang Gantiang

Posted: October 2, 2013 in Karya Fotoku

Padang Gantiang

Nagari Padang Gantiang, Tanah Datar-Minangkabau