Sambal Luat Timor


Saya pikir tak ada lagi yg lebih simbolik untuk mewakili ketakjuban saya pada tempat dimana Mentari pagi bermula di Nusantara, melainkan persandingan susunan Ikan Roa buah karya peradaban Sulawesi, bersisian dengan Sambal Luat, hasil dari perenungan panjang para Tetua tanah Timor, yang bersimpuh takzim di Meja Kayu Eboni, hitam teksturnya, menceritakan tentang abad-abad kejayaan TanahContinue reading “Sambal Luat Timor”

Ikan Roa


Tahukah kau, kenapa saya begitu mencintai Sulawesi ?, selain karena orang-orangnya yang bersahaja, juga karena ikan mistis yang lahir dari tangan gadis-gadis nelayan dari pantai-pantai penuh nyiur disetiap lekukan pulau ini. Tahukah kau, ketika Ikan Roa ini, mengikat janji dengan cabe gunung yg tumbuh Di Lereng lembah-lembah dataran tinggi Lore, maka terbentanglah cita rasa kelasContinue reading “Ikan Roa”

Nasi Beras Payo Kerinci


Salah satu yg selalu mengusik kerinduan atas Tanah Korintji adalah Nasi Beras Payo. Beras ini berasal dari padi lokal yang ditanam di rawa-rawa tepian Danau Kerinci yang permai. Butuh 10 bulan untuk bulir-bulir kuning emas Padi menggayuti tangkai nan gemulai, menari ritmis dihembus semilir angin senja yang berlari dari pelukan perbukitan yg memagari Sungai Penuh.Continue reading “Nasi Beras Payo Kerinci”

Kabau


Berdasarkan kacamata Aroma, Kabau adalah saudara dekatnya Jengkol, mustikanya rimba raya. Bagi saya Kabau adalah belati yg mencabik-cabik kenangan akan Muara Aman, kota kecil tua yang bersembunyi pada irisan Bukit Barisan ditanah orang Rejang. Aromanya menghempaskan segala kesombangan ke-kota-kotaan lidah yang kerap tersesat digerai-gerai makanan cepat saji pada setiap pelintasan saya. Pada Kabau saya rekonstruksiContinue reading “Kabau”