Archive for February, 2015

Catatan Perlintasan Ke Pontianak 1

Posted: February 2, 2015 in Puisiku

Catatan Perlintasan Ke Pontianak 1

Beginilah malam yg lewat
di gajahmada,
sepi mendekat
dan terbunuh pada cangkir kesekian kopi uap.
Di kaki cahaya lampu yg membias
ke jalananan,
disitu peradaban pernah di pancang
dan mereka ?,
ialah para pelintas yg memilih tinggal.

Pada Kapuas yang membelah kota
pada dua keping harap
berabad mereka datang dan pergi
dengan berkantung-kantung lelah
pada akhirnya muara sungai ini
adalah buku cerita bisu
sementara riaknya yang mendaki ke hulu
mengantar lagu para perantau yang rindu
di kerapatan belantara tengkawang
sulur-sulur
nada itu membatu

Gajahmada Pontianak 13 Maret 2010

Andiko Sutan Mancayo

Advertisements

Waktu Kita

Posted: February 2, 2015 in Puisiku

Waktu Kita

Kepada : Amirah Cahya Andiko

Sebagaimana pedang
waktu telah memangkas waktu
dekat seketika ayah ada
dan akan terhempas pada rindu
pada hari-hari dan pelintasan
demikian panjang.

Mungkin tak banyak waktu
sebagai penyaksi
ketika keindahan pada ujung tumbuh
begitupun kau anakku
akan tergolek menunggu
menunggu waktu pada botol susu.

Sebagaimana pelintas
telah ayah titi setiap pinggiran waktu
dari kota-kota yang tiba-tiba lengang
angan terhampar di beranda rumah kita

Tapi begitulah,
segala yang ada telah ada penentu
hingga kita titi pematang pada senja
tidak beberapa
tetapi ayah kira, kita telah bicara
tentang esensi pada sesedikit waktu.

Suatu waktu nanti
ketika kau tanyakan, kenapa waktu teramat jauh
hingga tak ada jawabku
pada senja yang akan menikam teluk didepan rumah kita
disana akan kau temukan jawaban
sebuah kata yang akan menjadi biasa
ketika terlalu fasih ayah lafaskan
hingga keheningan senjakala
akan menjadi wakil
mengantarmu pada buaian, melepas hari.

Amirah,
suatu kali di kota yang hilang, rindu telah meracun
tetapi langkah harus ayah ayun,
mungkin terlalu banal ketika itu ayah katakan
untukmu
tetapi begitulah jalan yang tertempuh
sebagai kalam
telah menari ayah di kertas, pada baris yang telah ditentukan
tak lebih tak kurang
sampai kemudian, sekali lagi waktu
membawa pulang.

Batam
2 April 2010


Pulang dan Keindahan : Catatan Perjalanan Ke Pontianak

May 7, 2010 ·
Dari ketinggian restoran terbuka Hotel Peony, di kejauhan Jembatan Kapuas seperti naga bercahaya. Jembatan ini serangkaian besi yang menghubungkan potongan Pontianak Kota dengan Tanjung Hulu, disanalah pada potongan kedua tanah ini berdiri keraton dan mesjid Sultan Pontianak. Didepannya melintang Sungai Landak yang berjembatan ke potongan ke tiga yang bernama Siantan.

Di ketinggian ini pula lampu-lampu jalan Gajah Mada seperti laron-laron yang mengerubungi malam, “layok dan lindok”. Temaram cahayanya tak hendak menyapu muram yang terbawa gerimis sore, ada sedikit angin dingin mendaki, dari lantai ke lantai, sampai kemudian mendinginkan secangkir soup tomyam dan teh brown sugar di meja.

Seperti tape recorder, sepasang pemain gitar dan penyanyi, berusaha mengantarkan nuansa syahdu kepada pelintas. Musik yang sama dengan nada dan dentingan yang sama, mengiringi fokal dengan irama yang sama saban malam. Lagu-lagu telah ditentukan hingga buku lagu yang terhampar telah menguning dan lusuh. Keindahan itu akan hadir pada pelintas pertama, tetapi akan seperti menggedor dan mendoktrin bagi pelintas yang telah duduk dibangku dan meja ini berkali-kali. Suasana hampir sebangun dengan camp konsentrasi atau barak militer yang selalu memompakan doktrin yang sama dari menit ke waktu, hingga para tentara yang tersebar mulai dari kamboja, sampai ke Siberia, percaya akan pesannya.

Betapa menderitanya pasangan penyanyi dan pemain gitar yang harus menyanyikan lagu yang sama dengan nada dan partitur yang sama saban malam. Jari-jari dan suara seperti hantu berjalan sendiri lepas dari pikiran yang mengembara kemana-mana. Satu keinginan yang selalu terbersit, cepatlah berakhir keindahan semu dan mekanik ini, karena ia menyanyi bukan untuk dirinya, tetapi bagian dari kontrak untuk para pelintas di hotel itu. Mungkin itulah dinding yang memisahkan antara seniman dan buruh lagu.

Begitu pula pelintas, datang dengan segenap beban, pada setiap kota, keindahan lewat seperti iklan televisi yang membosankan dan tiba-tiba terjatuh pada kelengangan ditengah hiruk pikuknya keramaian. Tak ada keindahan dan situasi yang paling mendebarkan ketika matahari setiap senja menggulung waktu, hingga hari untuk pulang itu menjelang.

Pulang, ya pulang !. Bagi sebagian orang kata pulang kadang membawa beban, sehingga waktu habis dari warung ke kafe atau di persimpangan. Tapi tidak bagi para pelintas, hanya da dua pilihan, pulang atau tidak pulang, tidak ada kata setengah pulang yang secara fisik pulang, tapi jiwa tersesat dalam pengembaraan tak berujung.

Pulang pada keindahan adalah impian, impian yang akan terwujud ketika waktu terajut diberanda atau di teras rumah. Terasa cinta mengalir pada secangkir the atau kopi sore, ketika si kecil berlarian mengejar kupu-kupu dan ibunya sibuk menyiram tanaman, antara anyelir dan melati, bunga bakung dan kembang sepatu, lengkap dengan beberapa pokok bonsai yang hampir meranggas. Di titik itu waktu ingin dihentikan, agar tak ada lagi perjalanan, menyisir jalan dan memintas kota demi kota. Di senja itu, ketika matahari jatuh ke teluk di depan rumah, cinta sederhana yang kadang seolah biasa, menjadi permata yang begitu menakjubkan. Pada akhirnya, keluarga adalah energy yang membakar hingga petani mengolah bebatuan menjadi jagung dan pisang, tetapi sekaligus oase, pada dahaga musafir yang tak tertanggungkan. Keluarga adalah anugrah.

Salam

Andiko Sutan Mancayo
Dari Ketinggian Hotel Peony Pontianak

Pulang Amirah

Posted: February 2, 2015 in Puisiku

Pulang Amirah

Pulang menghampiri masa depan
Maka akan aku kumpulkan senyum kecil
yang bertebaran antara halaman dan beranda
ketika senja mengetuk pintu.

Mari kita urai
segenap penat dan letih
di teras di beranda rumah
memaknai waktu yang terlewat
diantara lintasan kota demi kota

Amirah, duduklah diam
mari kita titi beningnya hening
ketika kata tak cukup,
dan kerap kali mendistorsi makna

Jakarta, 04 Maret 2011


Bagaimana Senja Kita Perabukan Diantara Palma-Palma

Ode untuk 100 tahun Sawit di Indonesia

Andiko Sutan Mancayo

Tolong ceritakan padaku
Lengang yang asing,
sepi memedih
ketika azan magrib
membelah kesadaran,
mengantar berita
sepertinya pesta
kunang-kunang
tak datang

Senja itu berbisik
“Jelutung dan Nibung
tak ada lagi
tak pula perigi dan
lubuk kecil,
bahkan ikan-ikan
tak lagi berbubu,
tiada rimba nan sati”

Lihatlah deretan simetris
palma-palma itu
untuk siapakah
ia berbaris
seragam tak berirama
dan menelan semua tanya

Kemanakah segenap tembawang
berikut dengan keagungan ulayat,
Rimba raya hiruk pikuk
mengantar sesat
di baris tambo dan terombo

Maka marilah kita susun
setiap pal batas nagari,
batin, marga-marga,
kampokng-kampokng yang berjatuhan,
hamburkan ke perapian
biar hangat yang tersisa

menjadi bait-bait pengantar
rasa kantuk, bagaimana
segenap sesal akan menjadi dongeng
pengantar tidur.

Biarlah segenap cerita
tentang warisan para leluhur
menghantu !
sebab tak ada sekeping tanah
ia berpijak dan tumbuh.

Sebagaimana arwah
ia akan melayang,
diantara janji-janji tentang tulah
atau bala yang tak tertanggungkan
ketika tiba masanya
sebuah bangsa pupus

Maka ketika itu tiba
palma-palma akan menjadi keranda
mengusung
berlembar-lembar papyrus
tentang suku-suku yang hilang
di anak-anak sungai sejarah
yang sebentar mengering,
sebentar membanjir
diantara
Siak dan Sambas
Atau Batanghari dan Mahakam
Sekayam, Kahayan dan Kapuas.

Bagaimanakah senja
kita perabukan diantara
palma-palma
pada hari-hari panjang.
Hanya menunggu
waktu berlari
menemui penghujung
dan aku ragu
dalam sepiku….
Entah kau.

Jakarta, 2 April 2011

Pada Sebuah Ziarah Ke Kumango

Posted: February 2, 2015 in Puisiku

Pada Sebuah Ziarah Ke Kumango

Untuk kawan masa sekolahku

Ke Kumango kawan, aku datang
Mencari pertalian
pada sasak-sasak rumah tua
disana ranji melapuk
dipalun tanaman rambat.

Angin kering siang
berhembus menyapa
pada jalan menurun yang membelah
perkampungan
Dari titik balai tua Rao-Rao
hingga bermuara di simpang Gudang
Se simpang ke Sumanik,
disitu aku hilang

Pada lesung-lesung tua
air tergenang menghijau
waktu tertinggal bergenerasi

OiiiiiIi lengang
telah melapuk jenjang kayu
tak hendak ada yang menjejak
hingga aku tersesat.
Katakan padaku kemana kawan senda gurau
ketika sekolah dulu ?
pernahkah ia kembali ?

Keladang mana segala rindu
akan ditanam, hingga berbuah
menanti dagang lalu
parak-parak telah merimba
dan sekali lagi aku hilang disemaknya.

Ke Kumango aku merindu
Dalam diam ziarahku mendaki
Mungkin secarik do’a bagi
seorang syeh Nagari ini
akan sampai dan menggetarkan
tonggak surau tuanya
Atau sepi tak beresonansi
sampai waktu memanggil
anak nagari pulang.

Sementara aku menua dipenantian.

Sungai Tarab 20 Agustus 2O11

Andiko Sutanmancayo


10696326_10205603469470916_1531721429551349010_n

Frankfurd September 12, 2011 at 7:56pm
Dalam aku berkelana
Tiada yang tahu ke mana ‘ku pergi
Tiada yang tahu apa yang kucari
Gunung tinggi ‘kan kudaki
Lautan kuseberangi
Aku tak perduli

Dalam aku berkelana
Tiada yang tahu ke mana ‘ku pergi
Tiada yang tahu apa yang kucari

Suara empuk Haji Rhoma Irama mengalun syahdu dari HP, mengusir rasa bosan menunggu connecting flight yang panjang ke Latino America. Di sisi kiriku bergelimpangan para pelintas dari berbagai ras mencoba menghabiskan waktu dengan meluruskan badan yang kaku di bangku-bangku ruang tunggu. Setelah melewati guncangan diatas Asia, seketika keteka terbang dari Changi Singapore, memintas terus dipinggiran benua besar itu, negara demi negara, peradaban demi peradaban dan budaya demi budaya berlarian di bawah. Akupun memilih untuk sejenak meluruskan kaki sembari sesekali memasuki box tempat merokok di terminal B Frankfurt International Airport ini. Sejenak kemudian mencari tahu tentang tempat ini di Google, tertulis :

” Bandara Rhein-Main adalah bandara pertama dengan sistem pengurusan bagasi setengah otomatis dan merupakan hub lalu lintas udara terbesar Jerman. Berbeda dengan Bandara Schiphol Amsterdam yang di sedikit lebih kecil, bandara ini tidak memiliki enam landas pacu namun hanya tiga saja. Dua landasan paralel sepanjang 4.000 meter dan selebar 60 meter (landasan selatan lebarnya 45 meter serta ada dua bahu masing-masing berukuran 7,5 meter) dan landas pacu di barat sepanjang 4.000 meter, dengan lebar 45 meter serta masing-masing bahu jalan selebar 7,5 meter. Berbeda dengan Amsterdam ketiga landasan tidak bisa digunakan secara mandiri satu sama lain, namun paling tidak pada waktu yang bersamaan. Landas-landas pacu yang memiliki jarak 518 meter satu sama lain hanya bisa digunakan secara estafet saja, karena dengan turbulensi yang terjadi setiap pendaratan, pesawat-pesawat tidak bisa digunakan satu sama lain. Kapasitas bandara (Agustus 2006) adalah 82 gerakan penerbangan setiap jam antara pukul 6.00 sampai 14.00 dan 83 gerakan penerbangan antara pukul 14.00 sampai 22.00.Bandara Frankfurt adalah salah satu bandara dunia yang menggunakan sistem pengurusan bagasi otomatis mulai pada tahun 1972″.
Ah…sejenak menghela nafas lelah, terbayang dibenakku, aku saat ini ada ditengah kerumunan manusia berbagai ras dan bangsa yang hendak terbang ke tempatnya masing-masing, sejauah apakah ? dan bagaimanakah tempat yang mereka tuju ?. Disisi kiriku serombongan orang-orang Tiongkok berbicara riuh dengan bahasanya. Aku semakin tenggelam di persimpangan selasar terminal ini.
Kawan seperjalananku sibuk membaca Tabloit Bola yang jujur membuatku senyum-senyum sendiri. Dia merasa aneh ketika aku katakan, aku tidak terlalu mengikuti perjalanan bola kaki, tetapi tanyalah padaku tentang sejarah, akan kuceritakan apa yang kau tak tahu, kataku. Tahukah kau, jikalah kita bisa keluar dari kota ini, maka tempat yang pertama aku datangi adalah Bastogn Forest yang terbentang diantara Prancis dan Jerman. Jikalah musim dingin yang berat mengalahkan Easy Company di hutan itu, maka Amerika tidak akan pernah bisa masuk Berlin kawan….sanggahku.
Ah, jika kau ingin mendalami sejarah, kau harus mengerti bola, lihatlah bukuku ini, sergah temanku sambil mengeluarkan buku yang berjudul “Memahami Dunia Lewat Bola”…dilemparkannya buku itu padaku sambil terseyum menang. Aku mengangguk-angguk takzim. Memang teman seperjalananku ini penggila bola yang tak pernah melewatkan apapun tentang bola, bahakan SBY yang pulang duluan dari senayan kemarin waktu Indonesia main, habis dia kupas sejak diatas India ke Eropa. Terpaksalah aku mendengar kotbah bolanya. Aku masih ketawa-ketawa geli membayangkan dia membawa tabloit bola dari Jakarta ke Amerika Latin ini…he..he..

Dari kerumunan lalu lalang bangsa Aria ini, terbayang olehku tim panser Jerman. Di otakku melintas nama-nama seperti
1 Lothar Matthäus 1980-2000
2 Jürgen Klinsmann 1987-1998
3 Jürgen Kohler 1986-1998
4 Franz Beckenbauer 1965-1977
Sedang apakah mereka saat ini, apakah masih berdekatan dengan dunia bola. Kegagahan mereka masih berkesan bagiku ketika menonton piala dunia waktu kecil dulu. Seiring dengan itu terbayang olehku juga Herman Goering panglima angkatan udara Jerman yang legendaris dan Jendral Rommel yang menundukkan Africa.
Ah…ok dech…sebentar lagi boarding, didepanku telah antri barisan panjang Latino yang akan memasuki Lufthansa ke Amerika Latin. Kembali terbayang olehku nama-nama melegenda seperti Pele dan tentunya Jendral Panco Vila yang eksentrik.

Nanti disambung lagi….., lantunan Bang Haji masih mengiringiku

Mungkin hatimu bertanya
Apakah kiranya yang sedang kucari
Dalam berkelana hai selama ini
Oh baiklah kukatakan
Yang kucari adalah
Cinta yang sejati

Dalam aku berkelana
Tiada yang tahu ke mana ‘ku pergi
Tiada yang tahu apa yang kucari

Salam

andiko sutan mancayo


Topos

Topos, disudut dapur

Kepada : Erwin Basrin

…..tahukah kau….

ketika api melentik,

di segitiga tungku batu ibu…

hangat menjalar,

dari pokok-pokok kopi yang terpanggang.

Sebentuk ikan sungai,

berenang di minyak kelapa,

menanti adonan cabe,

yang baru saja di petik disudut rumah.

Senja mulai turun,

di punggung perbukitan,

yang mengepung,

sinarnya membias,

pada jalan-jalan,

seperti bilur,

di tengah kampung Topos.

Para tetangga ,

saling sapa,

sepulang dari kebun,

anak-anak…

berlarian pulang,

dan aku termangu

di dapur itu

…..ah…waktu….

Jakarta 30 Januari 2015


Dapur….Kepada Erwin Basrin.


Kincia

Dapur

Kepada Erwin Basrin

Dapur…..wahai saudaraku Erwin Basrin,

barangkali

pada hamparan tikar rotan nenekku,

sebentuk kebajikan terserak,

dalam diam di liukan Telong,

pelita kecil minyak tanah,

pikiranku bermain.

Bayangan meliuk seiring dengan irama tarian apinya,

yang tertiup hembusan angin tipis dari sela papan lantai,

tak jauh diatas kolong rumah.

Nenekku sedang sibuk mengatur perapian yang menghangatkan sebelanga gulai Jangek,

atau kulit sapi yang telah berhari-hari diolah dalam cinta akan takdirnya,

hingga nanti akan menjadi suguhan yang sulit dilupakan siapapun.

Beberapa butir keringat,

jatuh meniti putih berkilau rambutnya yang telah jauh memintas waktu.

Kami memiliki kenangan yang sama tentang seorang lelaki,

yang berstatus ayahku dan berstatus anaknya.

Kenangan itu bermain pada petromax tua,

yang tak kami hidupkan,

karena ia akan terang benderang dan ada banyak cerita pada kepergiannya….

dia itu tiang dari keluarga besar matrilinial ini.

Nenekku….

perempuan tua dari masanya…

dengan bahasa yang kadang sulit aku mengerti…..

namun kalimat itu tak penting…..

diamnya adalah alkitab tentang hidup

dan tatapannya telah menyihir kesadaran pada kenangan kami yang sama,

tapi tersesat pada sudut yang berbeda.

Detak-detik jam tangan Mido pamanku,

tak kami hiraukan,

sebab asap perapian teramat hangat,

ketika pikiran kecilku,

mencoba memahami kesetiaannya,

sebagai penjual gulai Jangek.

Barangkali terlalu banyak masa hilang,

diantara perkawinan cabe dan lengkuas,

serta tumpukan bawang merah,

yang terlalu mengurai air mata….

namun ia setia…

Jakarta 30 Januari 2015