Archive for January, 2010


Seorang Begawan Telah Mangkat : Catatan Kecil Untuk Prof. Satjipto Rahardjo.

Seorang Begawan Telah Mangkat : Catatan Kecil Untuk Prof. Satjipto Rahardjo.

Andiko

Satjipto Rahardjo, namanya. Sebuah nama seperti yang di rawikan orang pandai adalah sebuah do’a. Begitu juga dia, sepenggal namanya dimulai dari kata cipta, cipta dalam pengertian sederhana, adalah mengadakan yang tak ada atau lebih dalam harfiahnya manusia, menemukan tanda-tanda tuhan yang tersembunyi di alam semesta dan jalan itulah yang ia titi. Tanda itu bernama keadilan.

Seperti ungkapan hiperbola orang Minangkabau, seorang Tjip telah “berdaun mulutnya” membahasakan sebuah keadilan hokum dari perspektif orang kebanyakan, orang-orang yang kerapkali harus kalah, sebuah keadilan yang banyak sekali terlanggar sehingga pelanggaran itu hampir menjadi biasa dan me ritual pada sebuah panggung hokum, mekanik dan statik.

Manisnya kekuasaan telah melahirkan banyak sekali penghamba-penghamba di jalannya, tapi Tjip tidak, kadang seperti bagawan yang sepi, ia berdiri dalam resah dipersimpangan tempat orang lalu-lalang, selokanya dinikmati, tapi tak lagi merasuk pada inti, karena ketika itu yang memandu, maka segala kemegahan kekuasaan akan runtuh dan Tjip menyampaikan, bahwa itu adalah kepastian, sebuah marka sejarah yang tidak akan tertolak, beratus dinasti runtuh karena itu.

Para positifistik yang ia kritik, mengambil sebagian kecil saja dari kepastian alam, hitungan kasar dari apa yang sesungguhnya tersembunyi, menangkap ukuran mekanik yang sejatinya tidaklah se-mesin itu. Karena itulah ia kemudian tergelincir, dipenjara oleh symbol-simbol harfiah dan kepastian bendawi.
Prof. Tjip atau Cip, mengantarkan sebuah kepastian yang lain yaitu bahwa pada hukumnya segala paraturan perundang-undangan itu mengabdi kepada manusia, ialah alat untuk mencapai ke adiluhungan manusia sebagai kafilah dimuka bumi, bukan sebaliknya, segala kalimat undang-undang itu mengabdi kepada hokum itu sendiri, sehingga hokum dalam kesendiriannya, terasing, buta dan teramat jauh dari jangkauan manusianya. Ia indah sekaligus racun peradaban.

Pak Cip mengajarkan kepada kita bagaimana membaca apa yang tersirat dari apa yang tersurat dari seloka-seloka undang-undang yang pastinya akan dimakan waktu dan akan segera menjadi artefak pengisi museum dan perpustakaan raja-raja. Karena undang-undang sebagai sebuah kalimat terumus dalam kertas buram, akan termakan waktu. Tetapi ketidak adilan terus berlangsung mengasah rasa keadilan para jelata, ia tumbuh, berkembang dan pada akhirnya berlari meninggalkan bait-bait itu.

Seorang bagawan telah mangkat. Tak ada yang berurai airmata, ataupun tembang seloka puja puji, tak ada juga parade militer dengan segenap dentuman senapan dan tentara berbaris memanggul jenazahnya. Kepulangannya tampa rasa hilang adalah kehidupan baru bagi benih-benih pengajaran dan itulah garis seorang mahaguru. Raga yang memenjara, itu saja yang dimakan waktu, tetapi semua apa yang dikatakan dan apa yang pernah ditoreh akan hidup, membiak dan akan menggelincirkan status quo hokum itu. Karena kefanaan jasadnya tak perlu di puja, tapi apa yang ia pancangkan pada ladang peradaban, akan membiak, dari pohon ilmu itu kita memandang, bagaimana keadilan undang-undang sudah demikian jauh dari kedailan para sudra, diantaranya, telah ia bentang jembatan itu.
Selamat jalan professor, selamat jalan bagawan. Sungguh aku kehilangan kata untuk sebuah jasa.

Pasar Minggu, 16 Januari 2010

Advertisements