Archive for the ‘Puisiku’ Category

Lebaran

Posted: June 23, 2017 in Puisiku

Lebaran

dan waktu semakin berkejaran

ada kenangan telah jadi angan

Ada rindu bisu

pada sudut rumah ibu

 

duhai pematang….

ketika hari beranjak petang

tandanya takbir akan segera datang

bapa terkenang, nenekanda terkenang

masa kanak demikian riang

 

Lebaran

terkubur badan dagang yang rawan

di tanah rantau tanah tak bertuan

manalah sanak dan handai taulan

tinggallah langkah jauh berjalan

 

Selat Malaka, 24 Juni 2017

Andiko Sutan Mancayo

 

Advertisements

Pulang

Posted: June 18, 2017 in Puisiku

Pulang…

Bagaimana aku menyapa

Simpang yang telah lengang

Ketika waktu telah lama lupa

menyemak jalan di pematang

 

Duh,

Tak ada yang menanti

Ketika Idhul Fitri kali ini

 

Selat Malaka, 19 Juni 2017

Andiko Sutan Mancayo

Derak-Derak Ranting Kota

Posted: October 5, 2016 in Puisiku

Derak-Derak Ranting Kota

 

Kepada para pemanggul takdir

 

Derak-derak ranting adalah sembilu

ketika hening teracun rindu,

begitu pula deru mesin melintas

membelah ibu kota

pada malam mendaki sepi

sesekali sirine mobil

entah polisi atau ambulan

bahkan mungkin para pemadam kebakaran

mencabik syahdu malam luruh

pada samar bias lampu

jatuh

lourong-lorong kotamu

Derak-derak ranting mencabik

menanti pagi sampai

disudut bilik

wahai…nenekanda…

betapa “kuduk” dalam pasangan

mencari damai menyembul

pada ritme partitur

derak-derak ranting yang terserak

pada pendakian yang menyentak

 

Jakarta 3 Oktober 2016

 

Andiko Sutan Mancayo

Magrib Adalah

Posted: May 6, 2015 in Puisiku, Uncategorized

Magrib Adalah
Kepada : Nenekanda di Pusara

Magrib…adalah
Angan akan gelegak jerangan
Pada tungku bara melentik
Air nasi membuih wangi
Magrib adalah
Nenekanda memintas perigi
Menjelang jauh, surau kami
Magrib adalah….
Suara paman melengking tinggi
Memanggil sholad anak nagari
Khatib siap berdiri rapi
Menunggu kami anak mengaji
Magrib adalah…
Waktu bertahun lewat
Ketika rindu akan sejawat
Angan jauh mengenang diri
rantau sati menggantang hati
Magrib adalah…
Air mata hendak jatuh
Badan diri hendak luluh
Terkenang tapian tempat mandi
Balai dan masjid mengasah diri
Magrib adalah…
Tangan mencerabut tinggi
Seperti elang terbang sendiri
Ketika kenangan menyiksa hati
Jati Padang, 26 Januari 2015


Sumba : Tolong Sematkan Rinduku

Melepas angan terbang

ketika jiwa berangkat

pada malam yang sakral

mendaki

tiang-tiang kapal

dan tali-temali

di pelabuhan kecil

Waingapu

Duhai Rambu

ceritakanlah padaku tentang

lautan yang berangkat naik

hingga karang-karang

bahkan siput

menyembah bulan di perbukitan

Begitu pula kau Umbu

lecutlah kuda sampai batas

horizon

mari sisiri sepinya kampung-kampung tua

maju berderap

hingga padang-padang savana

kemudian hiruk pikuk

Duduklah disini

wahai saksi peradaban

mari kita bentang

ketika para raja kembali

pada setiap ikatan tenunan

dan tetesan jelaga

mewarnai panggung sejarah

Ajaklah jiwaku terbang

memintas padang-padang

bawalah segala sukma

menari pada pucuk-pucuk

rerumputan

Sumba, tolong sematkan segala rindu

dan teriakkan pada

para lelaki berkuda

di arena Pasola

Jakarta, 18 Maret 2011

Dalam Hening Senyap

Posted: May 5, 2015 in Puisiku

Dalam Hening Senyap

Tuhan
dalam hening senyap
helaan nafas merayap
tiada kata terucap
ketika aku lenyap

Ini antara aku dan kau
di padu padan itu
kukira kulimah telah sesak
pada permulaan
segenap takut
yang menghentak

Sungguh kerapkali
aku curiga
karena semesta
berkarang teka teki
hendak ku duga
dalam lubukmu
hendak aku takar
luasnya hamparanmu

pada kesenyapan
ketika ludah mengggigil
menjalankan sunnahnya
hilir mudik di kerongkongan
tercekat aku..
sungguh..

aku duduk diam
dalam nana
dan terpana
dan malam makin mendaki
segala do’a
tersendat
ketika rasa tiada
kata telah bercerai dengan makna

Tuhan
ketika segala hal tiada
dan saat entah dimana bermula
apabila segala hal moksa
saat telah sampai
hukum segala yang fana
bersemayamlah di dadaku

Dalam senyap merayap
ketika Insan senyap
hanya aku dan kau
tiada kata itu

Damai Musyawarah Cilandak, 6 Mei 2015

Bengkulu

Posted: May 2, 2015 in Puisiku

Bengkulu….

Pantai Panjang Senja
adalah senja menyejarah
ketika merah masa memintas mega
adalah gelegak kopi membuka hari
ketika orang dusun mandi di perigi
adalah belati
terkirim pada angin pantai di petang ini
memburai rindu
para pelintas,
datang dan pergi….

Splash Hotel Bengkulu, 30 April 2015

Pada sebuah Magrib

Posted: April 29, 2015 in Puisiku

10914368_365019730360082_392305339_n

Pada sebuah magrib…
aku ada di simpang
ketika pasar terkurung lengang
ada gaung yang menggaib
menjelang jalan akan pulang
banyak hal jadi buah kenang
Sebenarnya bukanlah waktu yang khianat
hanya jarum tak tahan uji
adalah teruka membawa amanat
meski pelintas menjual beli
Dimana arti seorang sahabat
selain diri membawa berkat
dimana arti seorang kawan
selain ada di hati yang rawan
Duhai…nenekanda
jauh jalan banyak dilihat
teringat kaji di surau kita
adat gelanggang tikam bunuh
adat pasar timbangan kurang
tegak di gelanggang berdiri teguh
tegak di pasar berbudi dagang
Jati Padang, 29 April 2015

Catatan Perlintasan Ke Pontianak 1

Posted: February 2, 2015 in Puisiku

Catatan Perlintasan Ke Pontianak 1

Beginilah malam yg lewat
di gajahmada,
sepi mendekat
dan terbunuh pada cangkir kesekian kopi uap.
Di kaki cahaya lampu yg membias
ke jalananan,
disitu peradaban pernah di pancang
dan mereka ?,
ialah para pelintas yg memilih tinggal.

Pada Kapuas yang membelah kota
pada dua keping harap
berabad mereka datang dan pergi
dengan berkantung-kantung lelah
pada akhirnya muara sungai ini
adalah buku cerita bisu
sementara riaknya yang mendaki ke hulu
mengantar lagu para perantau yang rindu
di kerapatan belantara tengkawang
sulur-sulur
nada itu membatu

Gajahmada Pontianak 13 Maret 2010

Andiko Sutan Mancayo

Waktu Kita

Posted: February 2, 2015 in Puisiku

Waktu Kita

Kepada : Amirah Cahya Andiko

Sebagaimana pedang
waktu telah memangkas waktu
dekat seketika ayah ada
dan akan terhempas pada rindu
pada hari-hari dan pelintasan
demikian panjang.

Mungkin tak banyak waktu
sebagai penyaksi
ketika keindahan pada ujung tumbuh
begitupun kau anakku
akan tergolek menunggu
menunggu waktu pada botol susu.

Sebagaimana pelintas
telah ayah titi setiap pinggiran waktu
dari kota-kota yang tiba-tiba lengang
angan terhampar di beranda rumah kita

Tapi begitulah,
segala yang ada telah ada penentu
hingga kita titi pematang pada senja
tidak beberapa
tetapi ayah kira, kita telah bicara
tentang esensi pada sesedikit waktu.

Suatu waktu nanti
ketika kau tanyakan, kenapa waktu teramat jauh
hingga tak ada jawabku
pada senja yang akan menikam teluk didepan rumah kita
disana akan kau temukan jawaban
sebuah kata yang akan menjadi biasa
ketika terlalu fasih ayah lafaskan
hingga keheningan senjakala
akan menjadi wakil
mengantarmu pada buaian, melepas hari.

Amirah,
suatu kali di kota yang hilang, rindu telah meracun
tetapi langkah harus ayah ayun,
mungkin terlalu banal ketika itu ayah katakan
untukmu
tetapi begitulah jalan yang tertempuh
sebagai kalam
telah menari ayah di kertas, pada baris yang telah ditentukan
tak lebih tak kurang
sampai kemudian, sekali lagi waktu
membawa pulang.

Batam
2 April 2010