Archive for July, 2006


cerpen Surat Serat Jati Wa Ode Kepada
Paman Yones Koanfora Pellokia

; sebuah catatan pembuka perjalanan ke Kontu
Andiko

Paman Yones, aku tulis surat ini jauh pada tempat yang hampir terlupakan, ketika ada temanmu datang. Lelaki si pejalan yang gelisah itu datang dari jauh, tempat siang tertikam malam, membawa senja ketika kapal merapat hanya untuk beberapa menit dan kemudian peluit keberangkatan segera berbunyi. Tiang-tiang pelabuhan dan tumpukan pohon jati tak bernama, menyapanya. Mungkin saja ada cinta yang memanggilnya pada bumi gersang tempat darah pernah tumpah, karena dia juga datang dari negeri yang tanahnya terampas. Aku tak peduli!

Kerinduanku padamu mengalahkan segalanya, meskipun ada lagi perempuan asing disisinya, mukanya mengelupas terpanggang matahari. Perempuan yang bersilat demi kami di antara rimba hukum, aku tak peduli. Karena hukum bagi kami telah berubah berwajah polisi, satuan polisi pamong praja, para preman dan penjara. Betapa mengerikannya paman. Adakah lagi masa ketika aku berlindung pada bingkai kacamatamu dan lautan kata-kata yang menyadarkan dan membangunkan yang tertidur.

Paman Yones, ingatkah padaku, aku Wa Ode yang menatap asing ketika kau datang. Aku bukanlah “Perempuan Berbaju Biru” yang menyihir kesadaran akan penindasan, perempuan berbaju biru yang memekik seperti mantera di masa lalu, kita orang tak bertanah! Tetapi aku hanyalah gadis kecil yang tersipu penuh rasa ingin tau, muka merah padam terbakar matahari, karena tidak ada lagi tajuk-tajuk jati yang menyaring mentari di tanah Kontu.

Paman, aku tulis surat di atas pokok-pokok bekas Pohon Jati, berharap sampai padamu meskipun pak pos tidak akan pernah datang, karena hampir seribuan lebih yang tinggal bersamaku, tidak tercatat di kabupaten sebagai penduduk Kontu. Aku bertanya-tanya, kenapa kami dianggap tidak ada. Aku mencuri-curi dengar pembicaraan ibu dengan paman-paman yang lain, didalam peta tempat tinggalku adalah kawasan lindung yang harus kosong dari ladang-ladang kami, katanya.

Paman Yones, aku ingin sampaikan, aku telah naik kelas dengan nilai PPKN delapan lebih, nyaris sembilan. Sebagai anak orang-orang bermandi keringat, para pengolah karang dan batuan menjadi jagung, ubi dan pisang, kukira aku teramat Pancasilais. Aku hapal sekali sila pertama sampai sila kelima, sehingga guru memberikan padaku angka itu. Tetapi sila nyaris tak bermakna ketika berada pada posisiku. Meskipun aku terlalu kecil untuk paham bagaimana wajah kekuasaan, tetapi akulah penyaksi ketika rumah-rumah kami dibakari, pagar-pagar ladang direbahkan dan pohon-pohon pisang kami bertumbangan ditebas. Ketika ibu, bapak dan yang lain berusaha mempertahankan pokok-pokok jagung dan tanaman lainnya, aku juga penyaksi pukulan-pukulan aparat singgah ditubuhnya.

Sebenarnya pada saat itu aku ingin tertawa paman, melihat kepala ibu benjol-benjol, tetanggaku pingsan, dan kepala Paman Ihlas mengucurkan darah dipukuli. Semua terasa lucu bagiku, kenapa ibu tidak mengajak “Power Ranger” atau “Dora Emon” atau “Satria Baja Hitam” membantunya menghadapi para penyerang. Katanya “Power Ranger” atau “Dora Emon” atau “Satria Baja Hitam” sering bertandang ke rumah-rumah aman dan hangat ditempatmu. Ia membantu yang lemah melawan kezaliman disoraki tawa senang anak-anak yang lebih beruntung dariku. Sayangnya aku tidak seperti mereka.

Seperti yang paman pernah lihat, rumahku hanyalah berdinding anyaman bambu, beratap ilalang dengan lobang-lobang besar tempat angin lalu lalang, tidak ada listrik dan kamar mandi yang wangi. Tidak ada televisi yang dapat mengundang “Power Ranger” datang. Bahkan komik pertama yang aku miliki, paman tau judulnya?. Judul komikku “Hukum Kami Hukum Adat” yang setiap sore ketika menanti ibu pulang dari ladang, aku baca berulang-ulang. Aku akan bercerita pada semua orang di kota, bahwa aku juga punya komik, meskipun bukan komik Jepang dan Korea, yang katanya banyak di kerubungi anak-anak di toko buku.

Tetapi dirumah itulah harap terbangun dan hidup bertarung. Kami tidak mengeluh meski kami diantara ada dan tiada. Kami makan apa yang diberikan tanah ini dan kami tertawa, bercanda, berlarian hingga pokok-pokok Jati membuatku terguling. Begitu juga kami lewati malam-malam panjang meski tak ada kepastian, seperti malam ini paman, saat ini bulan merangkak naik, dengarlah sayup tembangku. Berangkai-rangkai doa membubung ke awan, seperti bintang-bintang yang berarak mengantarkan harap pada tuhan. Aku lagukan tentang masa depan yang indah sebagai pengantar tidur adikku La Ode “si bajingan kecil”. Lagu itu menelisik malam diantara pokok-pokok jagung, kacang tanah dan rumpun pisang. Sesaat keheningan terusik lirih suaranya, seperti mantera mengundang kantuk.

Malam ini paman, teramat dingin, angin malam menembus bilik bambu, adikku menggeliat kedinginan. Kami hanya punya kain lusuh yang pernah mengendong generasi demi generasi sebagai pembungkusnya. Beberapa jam yang lalu, sore jatuh ditekuk teluk Raha. Dari ketinggian potongan jati pagar ladang, aku menatap jauh kelautan. Inginnya aku berlayar, seperti penumpang kapal yang hilir mudik dan aku akan bertanya pada setiap orang kenapa api membakar gubuk-gubuk kami dan menjadi mimpi buruk yang tak pernah usai. Mengapa ibu dan bapak mesti diusir ?.

Salahkah aku paman ketika menyimpan rasa ingin pada tunggul-tunggul jati dan hamparan ladang, tentang sekolah impianku. Tentang rasa aman dan makan yang cukup. Mungkinkah paman, aku yang dibesarkan dengan nasi jagung dan sayur daun kelor, tanpa televisi, komik dan mainan bisa melihat kota. Aku ingin bersekolah tinggi, katanya dengan bersekolah tinggi dapat menolong saudara-saudaraku. Tetapi katanya hari ini sekolah itu hanya untuk orang kaya.

Untuk itu aku ingin menabung paman, di celengan bambu? Bukankah menurut ibu guru hemat itu pangkal kaya. Tetapi ibu jarang sekali memberikan uang jajan, karena ibu dan bapak tidak berladang dengan aman, hingga tidak ada yang bisa dijual dari tanah kami. Bahkan kalaupun ada, tidak ada yang berani membeli sayur-sayur kami, sayur-sayur yang tumbuh diatas konflik, sayur-sayur yang disiram dengan air mata para pembangkang.

Paman, pada temanmu yang ”merana” bersama saudara-saudaraku di halaman, aku titipkanbulan yang berhenti mendaki dan tergantung diatas kontu. Segala luka dan kesakitan terpanggang pada bara ”tunuha”. Begitulah nenek moyang kami mengajarkan berbagi dalam desau angin. Kalaulah ada air mata menetes diantara mereka, tapi ia melentik, bukanlah karena kesedihan orang-orang yang tak diinginkan, tetapi kasih perjuangan menebar seperti jala.

Paman Yones, sejak pagi aku diajak ibu ke pengadilan. Inilah pengadilan duniawi dimana sejarah sedang bertarung dengan kekuasaan. Meski kami sadari sejarah adalah milik pemenang, bahkan kelaliman telah sampai pada titik penistaan, aku tetap mimpi tentang kebenaran. Seperti itu juga mimpi satu orang dari enam paman-pamanku yang hari ini menjadi pesakitan. Mereka para peladang di kawasan hutan menurut dakwaan dan itu kriminal! Ketahuilah paman, jauh sebelum pengadilan di negeri merdeka ini berdiri, kami tidak terusik.

Paman, di nadiku mengalir darah panglima pemenang yang menukar kekuasaan dengan kearifan, yang mengganti mahkota dengan dengan tanah. Kamilah La Kundofani si Kino Watoputhi, si penolong itu. Karena itulah raja Muna bertitah, hingga terbentanglah dari Watoputeh sampai ke Wakadia tempat mentari tenggelam di pangkuan malam, dari Labunti di Utara sampai di pesisir pantai Laino yang melahirkan fajar. Disalah Kontu, Patu-patu, Lasukara dan Wawesa  dari generasi ke generasi melahirkan kami dan ditanah itu kami berkubur.

Pagi itu, setelah berkali-kali kami mesti keluar dari tanah ini, berkali pula kekuasaan berganti, La Ode Enda dengan bahasa yang tidak kami mengerti menanamkan bibit pertama yang akan menjadi petaka. Pagi itu tanggalan sampai pada angka tahun 1956, satu tetumbuhan bernama Jati berderap maju seperti pasukan meneriakkan “kultir” (kultur), memaksakan hak tumbuh di tanah kami. Beriring tahun ia membesar, membesar dan memaksa kami keluar. Sampai kemudian La Kundofani si Kino Watoputhi kami minta bangkit, mengembalikan kami pada tanah ini.

Paman Yones, ini adalah lembar keempat suratku, kukira tintanya telah mengabur; ini pena terakhir dan satu-satunya yang aku miliki. Jika matamu lelah membaca, berjalanlah keluar Warung Ceker-mu, pandanglah awan hitam polusi yang menyelubungi kotamu, seperti itulah hari yang kulewati. Tapi aku tetap tersenyum paman, setiap pagi kesekolah dengan kaki berkabut karena debu kering tanah Kontu dan mata berbinar-binar seperti dulu.  Baiklah paman, aku persingkat saja surat ini.

Paman, apakah yang disebut dengan kawasan hutan itu, kenapa tiba-tiba membuat kami semua menjadi kriminal dan kalaulah benar 80 % kawasan itu belum tuntas tata batasnya dengan hampir 20 juta saudaraku yang hidup didalam dan diluar kawasan hutan, tidak akan muat penjara untuk kami. Paman, bukanlah kami takut akan penjara, karena di penjara kami tidak lagi berpikir bagaimana mencari makan dengan aman hari ini. Tetapi yang memberati pikian kami, apakah konstitusi telah kehilangan makna, sehingga ia telah menjadi tumpukan kertas tua yang memuat pasal demi pasal, buah kegenitan intelektual. Sehingga hak kami sebagai pemilik syah negeri ini hanya sebagai pemanis pidato para politisi dan birokrasi. Apalah jadinya kami ini paman, ketika tenurial hutan belum jelas penguasa membuat  RUU Illegal Logging. Kepada siapa kami mesti bertanya mana yang legal dan illegal, ketika hak hanya ada di kertas dengan pasal saling menikam.

Paman Yones, sekali-sekali kirimkanlah kami ceker presto, akan aku bagikan pada para terdakwa perambah hutan negara ini. Sejak pagi ia belum makan, hingga dengan tubuh layu itu tak sanggub dengan tegak menjawab teriakan hakim yang bertanya apakah ia akan keluar dari kontu atau tidak. Kirimkan juga kami ceker dimsum agar bisa berucap seperti orang Jakarta, hingga kami bisa membela diri atas pengusiran atas nama hukum. Sekalian dengan wine pengganti komeko, air kata-kata yang tumbuh di tanah kami.

Paman, mataku nanar dan telingaku telah berhenti mendengar. Sungguh tak kupahami persidangan ini, tapi persidangan terus berjalan dari tahun ke tahun. Apakah perempuan cantik berjubah hitam yang datang jauh dari pulau siaw itu memantik kemurkaan jaksa, hingga menjadikan tuntutan teramat tinggi pada kami. Apakah salahnya paman? Kenapa hukum mesti pilih kasih.

Paman, malam telah larut dan tangan telah penat. Sepertinya surat ini tidak akan pernah selesai. Karena itu biarlah aku lukis langit sehingga kau akan membacanya, bukankah kita masih satu langit? Sampaikanlah seluruh tanyaku pada orang-orang, tentang keadilan hingga sejarah kembali milik kami.

Sebagai penutup surat ini paman, meskipun aku tidak juara kelas kali ini, karena aku sering bolos untuk menjaga La Ode adikku, ketika ibu, bapak, paman, dan para tetangga sibuk mempertahankan lahan kami dari pengusiran, aku tetap ingin meminta hadiah. Aku tidak ingin ke Dufan, aku tidak inginkan tas baru berwarna pink, tapi kuingin kembalikan masa kecilku yang hilang, karena kami terpaksa dewasa menghadapi ancaman, bawakanlah aku rumah hangat, penuh rasa aman. Ketika kau datang membawa itu, akan aku bagi semuanya pada anak-anak tak bernama di kawasan hutan negara lainnya, mereka hanyalah berarti sampai pada tingkat angka-angka statistik. Kirimkanlah juga buku paman, karena dengan itu kami akan merubah dunia.

Paman, jika kau lihat  sebongkah karang di pelabuhan Raha, berdiri tegak menatap lautan, ketika suatu saat kau datang, itulah aku Wa Ode, gadis kecil dari Kontu, membatu menunggumu membawa keadilan dan rasa aman.

Jangan tinggalkan kami paman, kami mimpi seperti anak-anak yang lain.
***
Jakarta, 14 Juli 2006

Catatan;
Merana : Berdiang/memanaskan tubuh di sekeliling api unggun
Tunuha : Ubi yang dimasak dalam batangan bambu didalam tumpukan batu yang dipanaskan
La Ode Enda : Kepala Dinas Kehutanan pada tahun 1956

Advertisements