Archive for the ‘Perenungan Sastrawi’ Category

Bukit Pagie

Posted: February 9, 2019 in Perenungan Sastrawi

35522458_10217046725185157_2004983165763977216_n

Anak Talu ka Batang Biyu,

Mati ditinggam biso Pari.

Nak tahu jo padiahnyo “Sambilu”,

pandanglah Bukik Pagi di sanjo hari

 

— di Padangganting, Sumatera Barat, Indonesia.

Advertisements

Mustika Rimba

Posted: February 9, 2019 in Perenungan Sastrawi

44504884_10218068590891161_4600894191541682176_n

Pagi ini saya mulai dgn English Breakfast, tampa Bacon tentunya.

Senyum gadis Denmark menyambut dipintu restauran, seiring dgn bunyi lonceng penanda waktu dari gedung kota tua disamping hotel, yang menelisik melewati para-para, membuat senyumnya begitu dramatis di dinginnya pagi.

Hari ini saya akan menerabas lebih ke utara, ke sebuah desa nelayan kecil dgn perahu-perahu Skandinavia, sandar. Barangkali saya akan menjumpai peradaban viking yang gigantik, sehingga mengantarkan saya pada berabad lampau.

Saya berimajinasi menjadi seorang Moor, jauh dari Minangkabau sana, mempersembahkan mustika rimba raya Sumatera kepada raja lokal sebagai tanda hubungan dagang, mustika itu tak lain dan tak bukan adalah Petai dan Jengkol

— di First Hotel Twentyseven.


44597590_10218085573515716_7558710620653092864_n

Dulu saya bermimpi ke Jakarta, lalu naiklah bus NPM ekonomi, dengan susunan bangku 2-3, dan saya dapat seat di bangku tengah dideretan bangku 3 itu.

Bisakah anda bayangkan, segala macam bau minyak klonyor yg kawin terpaksa dengan bau ketiak yg memintas Lintas Tengah Sumatera, berhari-hari tampa mandi ?.

Bau semerbak itu kadang ditingkahi oleh wangi gadis pelibur dengan bedak viva berbungkus plastik dengan lambang bunga Mawar merah menyala. Bau ini kerap pula bercampur dgn bau minyak angin Tjap Kapak yang Allahurabbi menteror kenyamanan.

Campuran segala bau ini cukuplah utk membongkar isi perut, namun keinginan utk melihat ibu kota, mengalahkan segalanya.

Bertahun kemudian, ketika nasip menculik dan menempatkan di sebuah maskapai terbaik Middle East, kenangan itu muncul seperti tinju yg ditumbukkan kepada jantung kesadaran, bahwa hidup itu adalah pelintasan. Itu sudah….

#MemintasDoha

Syarat Ganteng

Posted: February 9, 2019 in Perenungan Sastrawi

46514278_10218316618051685_416630266006601728_n

Dulu..salah satu “syarat” kegantengan dan maskulinitas, adalah barang ini.

Kalau kita ke warung gerobak dipersimpangan kota, pedagang akan tanya, yang anda mau yang Dalam atau yang Luar ?.

Pilihannya pasti yang Luar karena dua alasan, pertama ; lebih murah pastinya, karena barang seludupan dan kedua ; sensasi “Wah” ketika bungkusnya sedikit nongol di saku belakang celana Levis belel.

Perasaan rasanya sdh seganteng Clint Eastwood menunggangi kuda diperbukitan Texas rasanya.

Saya tahu kalau banyak Cewek-Cewek sebenarnya tidak suka, tapi barang ini tetap jadi simbol kejantanan yang diharapkan membawa efek “Pelet” ketika ia dihembuskan.

Cara menampilkan barang ini juga khas, agar terlihat, pokoknya kalau saya pikir sekarang, hampir se-Norak para Tha Sapeur, para Congo Dandies dlm menunjukkan pakaian branded, meskipun hidup dlm kancah kemiskinan parah.

Intinya, “Mahajankan Tuah” istilah Padangnya, atau “Buang Master” bahasa jalanannya. Geli-geli miris kalau ingat masa-masa itu….

#MangkutakRaunSabalik #MalaccaSyndicate — di Aston Balikpapan Hotel And Residence.

Haruan Bakar

Posted: February 9, 2019 in Perenungan Sastrawi

47576784_10218429092503476_290284856577884160_n

Menurut sahibul hikayat, konon kabarnya Soekarno memutuskan Palangkaraya sebagai calon ibu kota RI setelah lidahnya tak henti ber-Lenso ria, ketika mengecap suguhan dewata, Ikan Haruan Bakar, lengkap dgn pengiringnya.

Karena itulah setimpal kiranya ketika saya memutuskan menyisiri turbulensi langit Pantai Timur Sumatera dari Batam ke Jakarta, dan kemudian memintas Laut Jawa dgn gugusan awan-awan menjelang senja untuk mendarat dan segera berlari menemui kedai ini

#MangkutakRaunSabalik #IkanBakarAlMu’minun — di Komplek Pasar Besar Palangkaraya.

Ironi

Posted: February 9, 2019 in Perenungan Sastrawi

49608135_10218719570525245_5354929597899079680_n

Ironi itu adalah, saya tahu kalau Duku ini tumbuh di tepian Sungai Kumpeh yang sunyi di sudut Jambi, tapi dilapak, ia bernama Duku Palembang,

Selanjutnya adalah, betapa kelelahannya ia mengejar price secangkir Americano ditempat ini, meskipun saya membelinya, hanya beberapa langkah saja dari pintu tiga, tempat ini.

Itu juga hidup, seperti gelombang yg kadang begitu menghempas, namun seketika ia kemudian melambungkan pula ke awan. Kalaulah tidak tahu diri, mungkin akan kehilangan kesadaran akan diri.

#SauakAyiaMandianDiri, #MangkutakRaunSabalik — di Hotel Borobudur Jakarta.


50775311_10218849745899548_2832137748930887680_n

Ada sebuah rahasia hendak saya ceritakan.

Rendang itu lahir sejatinya bukan atas perkalian teknis berbagai bumbu, sehingga ia bisa distandarisasi selayaknya barang hasil industri, yang hidup pada dahaga pasar yg hampir tidak pernah terpuaskan.

Ketinggian cita rasa Rendang, dibangun oleh pertalian perasaan para Bundo Kanduang, Ibu sakti yang menjadi penjaga ke-Minangkabauan, yang menarikan panas api yang yang terbentuk dari kepingan kayu Casiavera yang tumbuh pada gugusan perbukitan dan lembah sunyi, dalam rawatan Tuhan.

Palunan berbagai rempah, ditimbang dengan Rasa dan Periksa, yang memeluk setiap bongkah daging sapi terbaik, yang disembelih dgn kasih sayang.

Pada setiap pergerakan jarum jam sepannjang proses itu, segala filosofi mamangan adat dirawikan kepada gadis-gadis aristokrat, yang sedang bersiap memangku jabatan Bundo itu.

Karena itu kitap resep masakan, bagaimana menghadirkan seni kuliner Padang di meja makan, nyaris tidak berguna. Karena tidak ada kata yang bisa mewakili, sebuah kias yang mewakili keparipurnaan penciptaan rasa nan agung.

Karena itu saya selalu rindu almarhum Nenekku.

Pulang 1

Posted: February 9, 2019 in Perenungan Sastrawi

50470031_10218803926434090_8832059512136400896_n

Mamak alias Paman bagi kami orang Minangkabau, adalah “Ayah Adat”.

Lelaki yg duduk ditengah ini, adalah adik lelaki ibu saya, artinya ia adalah Mamak saya. Ketika Ayah saya meninggal waktu saya masih kecil, ia segera mengambil posisi, menghadirkan sosok lelaki dewasa yg mestinya mendampingi saya melewati hari.

Saya selalu ingat ketika ia membawa saya dan adik ke Kebun Binatang Bukittinggi, sehingga meskipun saya tidak punya Ayah, saya tidak terlalu merasa hidup saya pincang. Ia juga yang di hampir setiap Selasa malam, akan mengajak saya makan di warung Gulai Kambing di pasar Nagari saya, seperti anak-anak lain yang memiliki Ayah.

Meskipun ia tidak bersekolah tinggi, tetapi perannya sebagai Mamak, pembela Ibu saya, kakak perempuannya, sekaligus Ayah Adat, bagi saya, levelnya melebihi Doktor Ilmu Hukum Adat lulusan Leiden sekalipun. Ia jalani takdir adatnya dengan takzim, tampa mengeluh, mendampingi kami tumbuh.

Pagi ini beliau berpulang, purnalah segala tugas Adatnya. Semoga Allah menyediakan tempat yang layak untuk dirinya.

Pulang…2

Posted: February 9, 2019 in Perenungan Sastrawi

51628707_10218962520318838_7361462224654696448_n

Pagi ini, satu lagi Mamak / Paman saya berpulang. Lelaki berkemeja biru ini, adl kakak tertua Ibu saya, yg menjalankan perannya sebagai “Ayah Adat” bagi saya, ketika “Ayah Biologis” saya meninggal saat saya baru menapak angka 2,5 tahun di muka bumi.

Suatu hari, ketika saya akan menjalani “Kutukan Kultural” lelaki Minangkabau, yakni Merantau, ia memanggil saya dgn adik saya keberanda rumah. Suasana demikian mencekam senja itu, dimana remang cahaya membulat di beberapa biji Kemiri yg terhampar ditengah.

Lalu ia berkata “Saya sejak muda, telah mendaki bukit & merancah rimba, mulai dari kota, sampai kedusun ditepi samudra, saya datangi. Hanya karena kalian Kemenakan Saya, maka buah pencarian itu, ingin saya turunkan. Mungkin ini, suatu waktu akan berguna sebagai kawan, ketika nasip mengharuskan kalian tegak di gelanggang.

Kemudian ia meraih tangan kami, sembari mulutnya komat-kamit merapal mantera. Seketika ketika proses itu selesai, ia kemudian meraih beberapa biji Kemiri yg kulitnya, nyaris sekeras batu yg selamat dari gesekan air bah di sungai, disamping kampung kami.

Trak….Tras…!,

seketika telapak tangannya melayang, menghantam kemiri itu, dan benda itu hancur seperti dihantam martil pemecah dinding.

Keterkejutan kami terputus karena ia kemudian menyuruh kami melakukan hal yg sama, bulu roma saya segera menari, bagaimanalah mungkin saya bisa meremukkan Kemiri yg keras Allahu Rabby, hanya dgn sekali tamparan.

Hasilnya tentu dapat diduga, karena Tegak Berdiri Alif saya goyang, sehingga tdk bertemu tangga menuju Ma’rifat, Kemiri itu dgn pongah mengejek tangan saya yang ngilu memerah karena menamparnya, disaat adik saya telah berhasil meremukkan teman-temannya, lima biji.

Akhirnya, saya sampaikan ;

” Sudahlah, karena ini tidak “mangkus” bagi saya, maka biar saya meniti jalan Silat saya sendiri, yakni “Silat Lidah”, dgn itu saya akan hadang, “Rantau Sakti-Laut Bertuah”, Silat Lahir mencari kawan, Silat Batin, mencari Tuhan….”

Hari ini, purnalah tugas beliau sebagai “Ayah Adat” saya, dgn genrenya. Semoga Allah menerima Amal Ibadahnya….Innalillahi Wainnailahi Roji’un….


IBU, PEREMPUAN TEMPAT BERNAZAR ; SEBUAH PENGANTAR NOVEL “BINGKAI BATAS’
Karya : Erwin Basrin

Ibu….ketika saya diminta untuk memberikan kata pengantar Novel ini, hal pertama yang saya lakukan adalah “merendam”novel ini digenangan data di laptop. Ada sebentuk ketidakyakinan melintas, meskipun ada rasa takjup, iri-iri senang ketika sobat saya yang menulis novel ini meminta untuk dibuatkan kata pengantar.

Saya mulai dengan kata takjup. Saya selalu takjup dengan seorang penulis, ibarat petani, ia berladang dikata-kata dan kerapkali sebait kalimat yang ia tanam dilembaran kertas, memantik imaginasi akan sebuah tempat jauh yang manakjubkan, se takjup saya menemukan kawan penulis ini dalam pelintasan hidup saya.

Sampai pada akhirnya saya menyadari ada beberapa kata yang kemudian ibarat jembatan bambu jauh dari kenangan masa kecil saya, menjembatani kami. Kata yang paling fenomenal diantaranya adalah kata IBU dan jujur, setelah saya membaca Novel ini, terhamparlah segala macam kenangan akan pengembaraan real dan imaginer yang pernah kami lalui, bertitik simpul pada kata Ibu dan novel ini mendedikasikan setiap kata untuk memberikan makna tentang apa itu IBU. Ibarat kata orang Minangkabau, Ibu adalah “Pusat Jala-Pumpunan Ikan” dalam meniti hidup.

Bagi kami, Ibu adalah sebuah “Sandi”dan sekaligus “Telaga”. Sandi adalah sebongkah batu dimana tiang-tiang Rumah Gadang Tegak berdiri. Padanyalah segala keindahan dan kekokohan konstruksi arsitektur bertumpu. Diantara tiang dan Sandi, sesungguhnya terbangun dalam material yang berbeda, dimana, kami adalah tiang Panjang dari sebatang pohon dari rimba raya Ulayat Kaum, sedangkan sandi adalah sebongkah batu dari sungai-sungai yang membelah rimba sati itu. Namun sejatinya, Batu Sandi telah mengihlaskan dirinya menjadi asal muasal dari kekokohan tiang-tiang menjulang tinggi itu dan gaya fisika yang terbentuk pada titik tumpu diantara tiang dan batu sandi itu, sanggup meredam gempa disepanjang kehidupan kami.

Ibu pula yang menjadi telaga ketika pelintas dipanggang kehidupan dan tersandar lelah pada tikungan tiap likunya. Sebagai Telaga, ibu menyimpan kesegaran dalam kedalaman lubuknya, hingga Bapak yang memintas masa, tidur disampingnya, tidak pernah tahu sampai dimana dasar lubuk itu. Betapa saktinya, hingga Ibu menjadi buah dari Niat dan Nazar, sebagai kunci mengetuk pintu Arasy, dimana disitu Tuhan bertahta.

Novel ini menyampaikan satu hal yang teramat penting dari semua alasan puja memuja tentang ibu, yaitu, Ibu adalah sekolah pertama dan ialah Alqitab yang hidup itu. Pengalaman sobat saya dengan Ibunya, adalah sebangun dengan apa yang ditorehkan oleh “Perempuan Seliat Ilalang”, ibu saya dan Ibu-Ibu lain yang bertarung untuk anaknya. Mereka ada di lapak-lapak pasar yang becek dan berbau, ia ada di kubangan lumpur yang akan menumbuhi padi, ia ada di ayakan-ayakan pendulangan penuh mercuri, ia pula yang mengasong pada kapal penumpang yang bolak-balik dari Banda Aceh-Medan ke Batam.

Setelah ibu tiada, tiada guna segala kaya, pangkat dan kemegahan dunia untuk menimbang jasanya. Tinggallah setumpuk kenangan yang akan meracun, merengkah dada. Karena itulah mulai dari para Pujangga, sampai ke para Parewa, mulai dari para Pejalan, sampai ke Para Seniman, mereka berusaha membangun sebuah istana di dadanya, untuk Ibu.

Oleh karena itu, paragraph demi paragraph tutur sobat saya pada novel ini, membenamkan saya akan perjalanan panjang mengarungi kota demi kota dengan Ibu saya. Novel ini mengantarkan saya pada, ada banyak yang telah ibu lakukan, namun kerapkali kurang mendapat penghargaan. Novel ini adalah satu cara seorang jenius, mengabadikan rasa terima kasihnya, kepada perempuan Sakti yang bernama Ibu itu. Perempuan Seliat Ilalang, perempuan tempat Bernazar di kehidupan yang kerapkali Sukar.

Pada Sebuah Pelintasan, 18 Maret 2018

Andiko Sutan Mancayo