Archive for the ‘Perenungan Sastrawi’ Category


Haedar Laujeng, Filsuf Bertopi

haedar-laujeng

Beberapa hari lagi seseorang telah pergi menunggangi waktu tepat di angka ke seratus hari. Tanah basah di kelengangan perbukitan Limboro, jauh di pesisir jantung Sulawesi sana, akan mengering, kemudian akan tertiup angin pantai dan menebarnya pada kedalaman hati dimana kenangan bertahta dan terkunci.

Tidak banyak yang kuketahui tentangnya, selain cerita-cerita mistis perihal seorang lelaki terakhir yang tersisa di hiruk-pikuk zaman, yang merambah desa demi desa, hingga berjatuhan, seperti cemara-cemara hutan yang berguguran ketika angin beku musim gugur menelisik dalam dari kutup utara di sebuah desa kecil bernama Falkland, di pinggir laut utara Scotlandia, di situ aku mematung di antara kastil-kastil tua.

Seperti cemara, lelaki itu bertahan di puncak keyakinan akan desa dan orang-orang mereka yang bersahaja menjaga peradaban dan alam serta mengantarkannya ke generasi masa datang. Karena itulah ia kemudian memilih karir monumental awal sebagai Kepala Desa, seorang lawyer muda yang kembali ke pangkuan budaya dari darah Kaili yang membakar setiap pembuluh arteri dan nafasnya yang berhenti seratus hari lalu.

Seratus hari lalu, seperti bayangan seorang “British Knight” dengan kuda hitam kukuh bergerak perlahan menuruni perbukitan Cotswold. Ladam kudanya berdebam perlahan pada hentakan lemah di antara pokok-pokok pinus. Angin mendesau, menghipnotisku, hingga mematung dipintu pada panggung kecil di pintu belakang “ranch” tua di sisi punggung bukit sebelahnya.

Meskipun terlihat kukuh, huyungan tubuhnya mengabarkan sebuah lelah peradaban yang tak tertanggungkan, perjalanan jauh dari pertempuran besar di “Holly Land”, yang seperti tungku di pemanggangan. Kesatria itu mengantar sebuah berita, seseorang telah pergi. Ya seseorang telah pergi! Seketika lelaki kusut masai dengan kacamata minus itu hadir lengkap dengan helaan kretek evolusion merah yang melentik melawan masa.

Saya kira, hanya diamlah yang akan dapat memaknai sebuah hubungan panjang namun terasa sangat cepat dimana waktu yang terentang seperti dipenggal paksa, sebab kata telah menumpang pergi bersamanya. Pada setiap kelokan jalan berliku yang menyisiri tahun demi tahun, di situ tercecer setiap jejak dan tapaknya, dimana keringat telah menggarami, hingga lidahnya menjadi asin, hanya untuk rakyat yang ia cinta dan aku penyaksi itu.

Sungguh aku tak pernah tahu, kekuatan mistik apa yang memanggilnya ke dataran tinggi Lindu. Hingga pekatnya malam tak berbintang ia perkuda menembus rimba mengantar sepercik api yang akan menerangi jalan setapak orang-orang Lindu. Sejatinya sebilah sangkur, pembangunan adalah titik berangkat pada apa yang didefinisikan sesuatu yang lebih baik dari sebuah situasi yang lebih buruk, tetapi ia membawa kutukan yang akan menikam balik dan melukai ketika pemaknaan baik atau buruk itu dimonopoli dan menghantu orang-orang di desa. Dan itupun berhenti.

Sama tidak tahunya aku, suanggi apa yang membawa lelaki itu menyambangi orang-orang yang terlupakan hanya untuk merawikan bahwa hukum telah tersesat dan ia membawa harapan akan keadilan yang akan tumbuh dan menggurita dari pelosok-pelosok tanah-tanah yang dinyatakan tak bertuan dimana kadangkala segala rasa, karsa dan budaya kerapkali digilas untuk sebuah tujuan yang mengendarai mekanikal dingin positifisme hukum sebagai tools of social enginering yang memporak-porandakan segala sendi kehidupan.

Suatu kali lelaki itu teramat galau dan seperti orator ia berpidato tentang makna ke Indonesiaan. Seperti palu, setiap kata yang terlompat memukul kesadaran akan kebersamaan ketika bangsa ini mencoba merekonstruksi persamaan dan melupakan perbedaan untuk sebuah martabat dan berdiri gagah berwibawa di panggung dunia.

Bahwa betul pada masanya ada banyak kelompok, golongan dan lapisan rakyat yang tertindas, tetapi segala perjuangan itu tidak diabdikan untuk merangkak naik ke panggung kuasa untuk kemudian berprilaku sama dengan penindas itu. Karena itulah di hari-hari terakhirnya, lelaki itu tidur berbantalkan konstitusi.

Andiko Sutan Mancayo, Direktur HuMa Jakarta

________________________

Andiko Sutan Mancayo —– Original Message —–
From: Dwi Rahmad Muhtaman
To: rimbawan-interaktif@yahoogroups.com
Cc: fkkm@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, October 16, 2012 12:04 AM
Subject: [fkkm] Re: [rimbawan-interaktif] Di Seratus Hari Keberangkatan : Catatan Pertama Untuk Hedar Laujeng

Kawan-kawan,

Rasanya bukan sekali ini saya membaca esai puitik Andiko. Saya sepenuhnya setuju dengan penggambaran yang hidup, indah dan penuh semangat dari Andiko untuk “..seorang lelaki yang tidur berbantalkan konstitusi” ini. Saya tidak hendak memberi tambahan apapun untuk “..seorang lawyer muda yang kembali kepangkuan budaya dari darah Kaili yang membakar setiap pembuluh arteri…” Tulisan Andiko yg padat puitik telah cukup merangkum kehidupan panjangnya.

Dalam tubuh Andiko, saya percaya, telah mengalir darah Buya Hamka, atau Taufiq Ismail atau Gunawan Mohamad, atau Hamid Jabbar, atau barangkali juga Chairil Anwar… tetapi dengan ketajaman humanis intelektual seorang Sudjatmoko. Membaca tulisan Andiko terasa kita dibawa pada imajinasi yg hidup dan mampu merasakan apa yg dituangkan dalam metafora-metafora dan rima tulisannya.

Membaca kalimat ini saja terasa merinding: “Seperti cemara, lelaki itu bertahan dipuncak keyakinan akan desa dan orang-orang mereka yang bersahaja menjaga peradaban dan alam serta mengantarkannya kegenerasi masa datang.” Metafora yg luar biasa. Cemara adalah pohon yg tahan segala cuaca. Iya selalu tegak diterba badai, angin dingin atau kemarau. Mgkn ia akan terbakar, pada kemarau yg panjang. Tetapi akan hidup kembali kala musim semi tiba.

Tulisan bernas yg digoreskan Andiko nampaknya merupakan hasil dari renungan yg mendalam. Pilihan kata dan metaforanya dipikirkan betul. Membaca tulisan pendek gaya Andiko ini memberi kenikmatan tersendiri. Tidak hanya menyentuh pikiran tetapi juga perasaan.

Terima Kasih kawan Andiko. Ditunggu tulisan berikutnya.

Salam,

Dwi Rahmad Muhtaman

Devi Anggraini
Devi Anggraini aku suka tulisan nya Bang Andiko, thanks ya sudah disertakan. Aku menikmati banget

Andiko Sutan Mancayo
Andiko Sutan Mancayo Thank mba devi, nanti saya bikinkan satu
Sandra Moniaga
Sandra Moniaga indah, ko… semoga hedar sudah mendapatkan kedamaian abadi ya…
Jepu Nes
Jepu Nes bang hedar makin sumringah dalam keabadiaanya baca tulisan ini… 😉
Advertisements

Surat Pucuk Jati Wa Ode Nuka Kepada Paman Yones Koanfora Pellokila; Catatan Kedua Perjalanan Ke Kontu

Paman, hari ini temanmu sipejalan itu singgah lagi. Kukira ada dua mata seperti sihir meluruhkan hati, hingga pada perjalanan panjangnya, ia tersandung disini. Matahari telah meredup sore ini dan dada-dada penuh kerinduan membekabnya dalam. Lambaian dan peluit kapal yang merapat di pelabuhan menggamit kesadaran. Apakah kegelisahan yang datang, ataukah perantau yang sepi membawa cerita indah surau-surau persinggahannya. Pada punggungnya bergantungan beberapa buku, komik dan baju-baju untuk ibu. Sepanjang malam kuurai ketakjupan pada lembar demi lembar, lembaran donal bebek, miki dan banyak lagi. Sejenak rasa hangat mendekat dan aku lupa lengkingan lonceng perang, penjaga tanah kontu. Tapi semuanya tentulah tak merubahku, tetap saja, aku Wa Ode, Nuka sigadis kecil dari Kontu.

Paman, sepanjang malam banyak hal yang kami bahas. Sementara lampu petromax, satu-satunya di kawasan ini mulai meredup kehabisan minyak. Mata kami tajam membaca koran pagi yang memberitakan permintaan pengusiran dari kehutanan terhadap kami, karena hakim telah memutuskan tanah ini tanah negara katanya. Karena itu, polisi harus menggusur kami. Aku tak mengerti.

Paman, ketika tanah ini menjadi tanah negara, apakah kami serta merta kehilangan hak hidup ?. Kalau begitu, hiduplah negara ini tanpa kami !. Karena sesungguhnya kami diantara ada dan tiada.

Sebagai orang-orang tak bernama di negeri ini, kami semakin paham bahwa hukum tidak bekerja diruang hampa. Sebagai sebuah produk politik, hukum telah bekerja untuk mengusir kami, karena kami bukanlah pemegang kekuasaan politik. Sebagai ruang sosial, jati ini hanyalah sebagai penanda pertarungan hukum kami dan hukum negara dan pada titik itulah ia menjadi raksasa yang menelan hukum kami, hingga kami telanjang tak berbenteng.

Apakah kepastian hukum itu ?. Apakah kepastian hukum itu adalah pemenjaraan sebagai akibat mencangkuli tanah hutan. Karena seperti itulah yang tergores dalam naskah Undang-Undang Kehutanan. Apakah kepastian itu telah berubah menjadi hantu-hantu yang menjaga kawasan tak berkayu. Apakah kepastian itu boleh juga berasal dari kami sebagai pewaris syah tanah rebutan ini. Sebagai alat rekayasa sosial, hukummu akan menjadikan kami komunitas yang terusir.

Malam telah meninggi paman. Tetapi adreanalinku untuk mendebatkan hukum kalian, membendung kantukku. Desau angin dingin yang menggaruk dinding bambu rumahku seperti mengantarkan DR. Sulistyo Irianto ada disini. Aku saksikan senyum tipisnya bergumam pada piring-piring bekas ikan bakar, ikan asin dan sayur kelor, Nuka…, mitos-mitos State Law telah terhampar di halaman. State Law sebagai hukum yang terintegrasi dan sistematis, dengan Law inforcementnya berlangsung baik, berlaku adil (tidak memihak), Up to date, dapat menyelesaikan berbagai permasalahan hukum masyarakat dan dapat mengakomodasi the other laws ternyata hanya dongeng semata dan dongeng itu paman, lebih menakutkan dari dongeng tentang penyerangan para lanun lautan ke negeri kami yang setiap malam di ceritakan oleh ibuku.

Paman, La Kundofani si Kino Watoputhi, si penolong itu telah kehilangan silatnya. Pertarungan telah berakhir pada pemaknaan keadilan dan makna itu menjadi mekanis dan milik para pemenang. Pisau kecil penuh bisa, tak lagi mempan membunuh musuh. Sebagai monster yang lahir dari rahim positifisme, secara nalar deduktif silogisme atau deduktif mekanik, hidup kami diukur sepanjang Undang-Undang.

Seperti kata paman Rikardo, Hukum adalah ius yang dituliskan, dipositifkan, diconstitutumkan. Hanya ius yang dipostifkan dianggap sebagai hukum karena bisa ditangkap dengan panca indera dan karena ia dituliskan. Ius yang tidak dituliskan (lege), bukanlah hukum melainkan norma positif atau bukan hukum (unlaw) . Karenanya hukum kami, hukum adat kami telah menjelma menjadi semak dipinggir jalan. Tentu harus dirambah agar jalan mainstreem itu terang benderang dan menyilaukan kami.

Paman, sebagai penjajah, Belanda ternyata lebih baik. Sebagai perampok kedaulatan, ia cukup baik mengakui hukum kami. Meskipun itu hanyalah penyembunyian dari ketidakmampuan administratif meraka. Tahukah paman, terdapat banyak catatan di negeri ini, ketika penjajah meminjam tanah secara santun pada kami, barulah setelah itu mereka mendapat perlindungan hukum negeri kolonial untuk melindungi mereka berkebun atau menambang.

Tahukah paman seorang JA Papers harus membayar sewa tanah pada Datuk Basa Mangun untuk NV Boekit Gompong dan setiap bulannya dengan menunggang kuda putih, sang datuk dengan gagahnya sebagai penguasa ulayat meminta sewa tanah. Tahukah paman pada surat peminjaman tanah itu, JA Paper tidaklah bertanda tangan, karena ia dianggab tidak setara dengan penguasa tanah. Tetapi kenapa kemudian tanah erfpach itu di konfersi menjadi tanah negara.

Paman, kemerdekaan telah berniat menjadi mesin yang menjuice kami menjadi masyarakat Indonesia seutuhnya. Mungkin seperti juice diwarungmu yang mencampur adukakan mangga dengan manggis ditambah jerus dan entah essen apa lagi. Demikian juga hukum kami telah di juice, disentralisasikan menjadi satu ditangan negara, menjadi hukum negara yang superior yang harus berlaku, mengalahkan hukum-hukum yang telah kami warisi.

Sebagai bentuk baru dari ke Indonesiaan kami, maka salah satunya hukum pertanahan dinyatakan berakar dari hukum adat dan kami diakui sepanjang kami masih ada. Karena nasionalisme tak menghendaki lagi aura kolonialisme dan hukum kami secara merata telah mendapat cap feodal sehingga dualisme itu mesti diakhiri.

Tetapi ketika ulang tahun negeri ini telah sampai pada deret angka enam puluh, pluralitas itu tak hangus menjadi abu. Meskipun banyak undang-undang telah lahir demi mereproduksi kami menjadi masyarakat Indonesia dalam satu bentuk yang diinginkan kekuasaan, kami tetap ada. Dan hari ini ketika kearoganan kekuasaan runtuh, pluralitas itu muncul satu persatu mengoyak bungkus, seperti tulang konro dibungkus daun talas.

Apakah negeri ini telah gagal membentuk ke Indonesiaan paman?. Barangkali tidak, kami tetap mencintai negeri yang di bangun dengan darah dan air mata ini. Tetapi satu yang harus dicatat, negeri ini nyaris gagal mengelola pluralitas secara elegan sehingga semua orang bisa hidup berdampingan dengan damai dan yang terpenting perspektif keadilan yang dipaksakan, menorehkan luka yang semakin dalam pada hati kami.

Paman, sebagai komunitas independen, kami telah kehilangan identitas dan ketahanan. Seperti yang Uda Yando katakan, kami telah ”Abih Tandeh”. Mungkin aku hanya bisa menumpang sumpahan pada UU No. 5 Tahun 1974 tentang pemerintahan desa. Tapi taklah berguna marah pada setumpuk kertas, karena aku akan menuntut para pembuatnya dan para pembuat undang-undang lain. Sebagai ahli hukum atau merasa seolah-olah ahli hukum sebgaian dari mereka telah demikian setia melayani kekuasaan sampai hari ini.

Pada pandangan sederhanaku, sebagai ahli hukum tentulah ahli membedakan mana yang baik dan buruk. Tetapi bisa membedakan saja tidaklah cukup, karena tentulah ia harus bersikap apabila menurutnya jika ia membuat itu, akan terjadi sesuatu yang buruk. Tetapi ternyata tidak demikian paman, demikian lama sebagian para intelektual itu menjadi penyokong kekuasaan, dan sebagian lain yang bertahan terseok-seok terpinggirkan. Tapi jaman keras itu ternyata lebih baik paman, dimana orang hanya tergolong pada pendukung dan tidak mendukung. Namun hari ini, sangat sulit dibedakan mana yang mendukung dan mana yang tidak, karena wajahnya berubah-ubah. Mungkinkah karena banjirnya sinetron paman ?.

Malam semakin larut juga paman. Ini kokok ketiga ayam di kandang. Perempuan cantik itu telah kelelahan, lihatlah segala rahasia berlari pada dengkurnya. Baiklah, kita lanjutkan paman. Dalam situasi interaksi state law dan other law itu paman, kami telah menjadi bulan-bulanan pada situasi weak legal pluralism. Pada posisi ini, seperti kata Griffiths sebagai bentuk lain dari sentralisme hukum karena meskipun mengakui adanya pluralisme hukum, tetapi hukum negara tetap dipandang sebagai superior, sementara hukum-hukum yang lain disatukan dalam hierarki di bawah hukum negara, kami telah sampai dideretan angka enampuluh dikalahkan paman.

Paman, sudahlah mungkin saja kau bosan berteori. Kalau begitu jika kau tanyakan padaku, hai…Nuka…bagaimanakah tanah sengketa ini bisa diselesaikan ?. Maka aku akan jawab begini. Jikalah hukum memang masih mungkin berjalan sebagaimana cita-citanya, maka tanah kontu harus ada pada kami. Sebab, selain kamilah pewaris syah dari La Kondofani Si Kino Watu Putih, pada kami juga para berada orang-orang tak bertanah. Karena itulah negara selain mengakui hak adat kami, tetapi juga sekaligus membagi-bagikan tanah ini pada tetangga-tetangga kami yang tak bertanah.

Apabila kami diakui sebagai masyarakat adat pemegang otoritas atas tanah ini, apakah itu melalui perda, maka kami akan membagikan tanah ini kepada saudara-saudara kami. Apabila bentangan tanah ini betul ditunjuk sebagai kawasan lindung, tolong evaluasi penunjukan itu, sebab tak ada stupun pohon ada disana dan tidak layak ada hutan lindung pada perkampungan kami yang hanya lima menit saja dari pusat kota, dari rumah bupati kami. Setelah di evaluasi, turunkan status kawasan ini menjadi Hutan Produksi Konfersi (HPK) dan biarkan kami berumah dan berkebun disini. Tetapi jika seperti yang diberitakan koran bahwa tanah ini adalah tanah negara, maka biarlah kami berurusan dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN). Agar kami bisa meminta hak atas tanah melalui program land reform (land distribution). Tetapi itu semua baru akan terjadi paman, setelah kami merebut sendiri hak kami. Karena sepertinya tidak akan ada hak tanpa berjuang, karena ternyata konstitusi baru bekerja, setelah melihat darah kami tumpah.

Paman, aku ingin tidur. Kegelisahanku pada hukum berhenti sementara pada titik di akhir suratku. Mungkin demikian juga kau. Esok pagi ketika matahari yang sama datang ketempatku dan tempatmu, kita akan berhamburan menyongsong hidup. Aku akan kesekolah lagi dengan tas baru hijau yang baru saja kau kirimkan. Kaupun akan berkutat dengan ceker, mengolahnya dan menjualnya. Meskipun pada kedatangan kali ini kau tetap saja tidak ada, tapi sesungguhnya kau ada di hati kami. Yakinlah, karang itu tetap berdiri kokoh di teluk Raha, tak rubuh dihempas ombak, menanti keadilan dan rasa aman.

Jakarta 8 September 2006

Tulisan ini diabdikan bagi anak-anak korban konflik tenurial kawasan hutan & konflik agraria lain yang terpaksa menyimpan kenangan penggusuran, pembakaran & kekerasan yang menimpa keluarganya. Ada 40-60 Juta orang hari ini hidup dalam kawan hutan yang tenurialnya tidak jelas. Mereka hanya berarti sampai angka statistik saja.


Dapur….Kepada Erwin Basrin.


Kincia

Dapur

Kepada Erwin Basrin

Dapur…..wahai saudaraku Erwin Basrin,

barangkali

pada hamparan tikar rotan nenekku,

sebentuk kebajikan terserak,

dalam diam di liukan Telong,

pelita kecil minyak tanah,

pikiranku bermain.

Bayangan meliuk seiring dengan irama tarian apinya,

yang tertiup hembusan angin tipis dari sela papan lantai,

tak jauh diatas kolong rumah.

Nenekku sedang sibuk mengatur perapian yang menghangatkan sebelanga gulai Jangek,

atau kulit sapi yang telah berhari-hari diolah dalam cinta akan takdirnya,

hingga nanti akan menjadi suguhan yang sulit dilupakan siapapun.

Beberapa butir keringat,

jatuh meniti putih berkilau rambutnya yang telah jauh memintas waktu.

Kami memiliki kenangan yang sama tentang seorang lelaki,

yang berstatus ayahku dan berstatus anaknya.

Kenangan itu bermain pada petromax tua,

yang tak kami hidupkan,

karena ia akan terang benderang dan ada banyak cerita pada kepergiannya….

dia itu tiang dari keluarga besar matrilinial ini.

Nenekku….

perempuan tua dari masanya…

dengan bahasa yang kadang sulit aku mengerti…..

namun kalimat itu tak penting…..

diamnya adalah alkitab tentang hidup

dan tatapannya telah menyihir kesadaran pada kenangan kami yang sama,

tapi tersesat pada sudut yang berbeda.

Detak-detik jam tangan Mido pamanku,

tak kami hiraukan,

sebab asap perapian teramat hangat,

ketika pikiran kecilku,

mencoba memahami kesetiaannya,

sebagai penjual gulai Jangek.

Barangkali terlalu banyak masa hilang,

diantara perkawinan cabe dan lengkuas,

serta tumpukan bawang merah,

yang terlalu mengurai air mata….

namun ia setia…

Jakarta 30 Januari 2015

Cinta

Posted: December 24, 2013 in Perenungan Sastrawi

Cinta
_______________________
Oleh : Andiko Sutan Mancayo
 
Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu
menitikan air mata dan masih peduli terhadapnya,
adalah ketika dia tidak memperdulikanmu dan
kamu masih menunggunya dengan setia. (Cinta dari khalil Gibran)
Lelaki itu bernama Y dan ia seorang pecinta yang bisu. Begitulah siang itu lewat di sebuah rumah makan kecil disudut kota LS, ibukota kabupaten kaya Sawit, bertahun-tahun lalu. Diantara kami, terpisahkan oleh sebuah meja dengan menu makan siang yang menggugah selera, lapar dan dahaga sehabis bertarung di hadapan persidangan, yang semestinya terlampiaskan, telah dirusak oleh lelaki itu. Ya..lelaki pecinta yang menyimpan rapat semua kata-kata di dadanya.
Lelaki itu tidak pernah membayangkan akan jungkir balik dalam pusaran peristiwa yang bermula dari pertarungan tanah ulayat dengan pengusaha yang kemudian mengirimkannya ke penjara di kota itu. Ketika jengkal-demi jengkal tanah seharga emas, dimana palma-palma raksasa itu mulai menggusur peladangan dan baginya, itu berarti penggusuran terhadap kehidupan dan ia melawan, ringkasnya begitu.
Dan aku……, sungguh tak kutahu apa yang membawa langkah ke kerumunan rakyat yang ketakutan, marah dan sekaligus menyimpan harapan akan masa depan yang bermula dari hamparan tanah itu. Hari-hari selepas kuliah habis dari kampung ke kampung, kemudian berpredikat sebagai pengacara yang menyandangkan urusan yang kadang terlalu cepat di kebeliaan waktu itu. Dan…siang itu ketika terik memanggang, berusaha menghanguskan, aku dan dia, duduk pada sisi meja yang berbeda, dilamun rasa yang sungguh ku tak tahu kemana ujungnya. Aku terlalu muda untuk paham semua.
Diseberang meja itu, barangkali sebuah melodrama kolosal tentang cinta sedang dipertontonkan. Tetapi ini tidak tentang birahi yang meletup dari sepasang remaja yang kerapkali menghampiri bahaya ala Romeo dan Juliet, tetapi tentang kekudusan sebuah ikatan sacral antara suami dan istri, dimana ditengahnya telah lahir seorang anak yang akan menyambung sejarah mereka dan simpulnya di tanah rebutan itu.
Y menangis…..
Barangkali airmata adalah satu jenis bahasa yang dianugrahkan tuhan ketika makna yang berkecamuk di dada tak terwakili lagi oleh kata-kata. Kata sebagai sebuah symbol tentang rasa dan keinginan, terlalu kering untuk mewakili gemuruh yang membuncah di dadanya hingga hendak rengkah dan aku disihir, untuk tetap diam mematung, sembari memalun erat pula rasaku, agar airmata juga tak jatuh. Dan segala macam hidangan di meja telah menghambar.
Ketika Y harus dipenjara untuk kasus tanah itu dan menghadapi persidangan criminal yang terlalu dipaksakan, sehingga menjadi panggung keadilan yang norak dimana semua actor berusaha serius untuk mencoba meyakinkan bahwa sidang ini beneran, anaknya kritis karena kecelakaan dan harus dirawat di ibukota propinsi. Dan hari itu, untuk kali kedua si pengacara belia itu mendapat tugas yang tak mudah yakni memintakan penangguhan penahanan agar Yulisman bisa menjenguk anaknya.
Penangguhan penahanan sejatinya adalah sebuah fasilitas yang secara normative ketika prasyarat terpenuhi, akan mudah didapatkan si terdakwa dan sebagai pokrol yang saban hari berbantalkan Kuhap, tentu terlalu ajeg untuk sekedar memindahkan klausul Pasal 31 ayat (1) yang berbunyi atas permintaan tersangka atau terdakwa, penyidik atau penuntut umum atau hakim, sesuai dengan kewenangan masing-masing, dapat mengadakan penangguhan penahanan dengan atau tanpa jaminan uang atau jaminan orang, berdasarkan syarat yang ditentukan.
Akan tetapi, peraturan memberikan otoritas paripurna kepada Majelis Hakim untuk memutuskan persetujuan penangguhan penahanan itu berikut dengan fasilitas subjektif yang berangkat dari ke adi luhungan pertimbangan si wakil tuhan dimuka bumi. Disitulah pertarungan kolosal dan tak pernah selesai antara kepastian dan keadilan berkecamuk sehingga sejatinya pertempuran itu akan berujung pada kemanfaatan, tapi kerapkali tersesat dan jatuh kepada kefakiran kemanusiaan.
Itu yang terjadi pada Y….dengan alasan normative yang di gagah-gagahkan, permohonan penangguhan penahanan atas alasan menjenguk anak yang kritis karena kecelakaan untuk pertama kali harus ditunda yang itu berarti memaksanya masuk pada perjudian nasip, apakah akan melihat anaknya untuk terakhir kali atau tidak. Ia akan melewati malam-malam panjang kesidang berikutnya dimana permohonan yang sama akan diajukan sekali lagi, timana tembok-tembok dingin penjara itu tak akan sanggup memenjara anggannya terbang memintasi jarak ke pembaringan anaknya.
Siang itu, opera kecil yang melodramatic tentang bagaimana bahasa cinta telah mengkristal dan bertiwikrama kebuliran air mata yang jatuh dipipi Y berawal dari diterimanya penangguhan penahanannya untuk menjenguk sibuah hati yang kritis di rumah sakit propinsi. Sulit aku bahasakan apa arti sorotan matanya yang basah menatap dalam ke relung mata istrinya yang sederhana disisinya. Kedua bibir suami istri itu terkatup rapat, tampa kata dengan jemari saling bertautan. Barangkali tsunami maha dahsyat telah memisahkan mereka, seolah beratus tahun saling mencari dan barangkali seperti inilah potongan kecil roman ketika adam dan hawa dipertemukan lagi di Bukit Kasih Sayang, di timur Padang Arafah. Jujur, aku lenyap dan menjadi debu dihadapan mereka. Hingga semua kata hilang, berganti buliran Kristal air mata.
Pada titik itu aku telah terhipnotis demikian paripurna. Sepertinya mantra-mantra para resi dan mahaguru yang disepuh kekuatan kata para pujangga telah menghunjamkan sebentuk cinta dalam bentuk lain, cinta berbeda yang membawa kekuatan perlawanan dan persaudaraan, sehingga dalam diam, dengan berani si pengacara belia itu membaptis dirinya sendiri, bahwa aku adalah bagian dari kalian, bagian dari orang-orang yang tanahnya terampas, dimana untuk itu banyak orang harus melewati masa dibalik dinginnya dinding-dinding penjara. Sungguh aku tak mengerti bagaimana sebuah keadilan, namun dengan telanjang aku menyaksikan pentas ketidak adilan itu.
Dan siang itu….si pengacara belia, telah jatuh cinta.

Jati Padang, 24 Desember 2013

Mak…Lidahku Kelu

Posted: December 23, 2013 in Perenungan Sastrawi

Mak…Lidahku Kelu

Kepada : Ibuku

Oleh : Andiko Sutan Mancayo

Mak

Semakin tinggi lelaki itu mendaki puncak
Semakin menukak rindunya pada nasi kerak
Saban senja menjelang mengaji
Disudut dapur menunggu air taji
Ketika umur menjelang baya hilang rasa, hilang makna
Selain tentangmu yg menunggang lelah,
menanggung segala liku

Mak
Tunjukkan jalan ke tangga arras
Dimana katanya tuhan punya tahta
Inginku banding segala waktu
Hingga ia tak akan ada yang menjemputmu

Mak
Lidahku kelu, di hari puja-puji pada ibu

22 Desember 2013

Di Pantai Panjang

Posted: October 27, 2013 in Perenungan Sastrawi

Di Pantai Panjang

Andiko Sutan Mancayo

dan di pantai Panjang
senja jatuh
desau angin
bersiul di antara
pokok-pokok cemara
rindu luruh menebar
menghampar lembut
putih pasir,
disitu ombak mengantar buih,
menjilatinya

cerita
lelaki kalah itu
telah mengartefak
di Fort Marlborough
diantara tangsi-tangsi serdadu kosong
dan meriam melompong
yang menyonsong para pelintas,
ia menatap lara.

Oh ya, ketika ku sambangi kau
di St Mary Churchyard Hendon Greater London
kita bincangkan luka yang menunggang waktu
meskipun telah bertukar Bengcoolen dengan Singapura
tetapi sedu sedan tak pernah lewat.

Nah, kali ini
kukirimkan harum semerbak
kopi Muara Aman
diantara tenda-tenda
pantai itu
dan anak negeri
melepas hari.

Bengkulu 28 Oktober 2013


Pada Sebuah Ziarah : Catatan Perjalanan Pertama Ke Limboro.


Ada yang meruntuhkan sekat dan menyatu.

Renungan untuk Stenly Wauran

Satu lagi mati muda dan runtuhlah sekat itu. Namanya Stenly Wauran dan ia bukan siapa-siapa. Sehingga tak akan ada malam seribu lilin di Bundaran Hotel Indonesia untuk mengenang kematiannya atau sekumpulan aktivis berdemonstrasi untuk menggugat, karena ia mati secara biasa, sakit, tak sanggup bertahan dan selesai sudah.

Biasa, ya biasa, ia meninggal karena kangker dibatang hidung. Secara klinis seluruh organ yang menopang hidupnya telah berhenti bekerja, karena gagal menggorganisir fungsi biologis, itu saja. Organ manusia bekerja ibarat setumpuk blok-blok mesin, dengan ribuan sekrup, kabel serta rangka dan dibalut daging untuk kemudian dilekati oleh kata manusia. Pada logika itulah bangunan teknikal medis dilogikakan, dibangun dan melayani manusia, sangat mekanikal, terhitung dan terukur.

Umumnya, kematian teramat akrab dengan rasa takut. Ketakutan yang melahirkan banyak mahakarya tentang rasa sakit dan penolakan. Ketakutan yang telah ditanamkan sejak manusia tumbuh akan adanya tuhan yang maha penghukum, telah menyiapkan seperangkat azab dengan sederet malaikat yang bengis, bermata merah menyala, berkunjung dari waktu kewaktu, bertanya dan memukul, pada mereka yang tidak bisa memberikan jawaban berarti sampai kemudian dibangkitkan dan beriringan keneraka.

Segala kemalanganlah yang akan mengikuti karena sejak pertama telah turun alkitab dan seperangkat ajaran yang diikuti dengan sederet para nabi yang akan menunjukkan jalan keselamatan, diabaikan. Konon, ada sebuah masa dimana jalan keselamatan yang ditawarkan oleh agama-agama telah meletakkan manusia pada fitrahnya sebagai kafilah dimuka bumi, membawa cinta bagi sesama dan para nabi dengan kefasihan kearifannya berhasil mengkontekstualkan doktrin pada situasi social zamannya.

Ketika zaman berganti, segala doktrin yang disampaikan dengan keluasan kata-kata Tuhan kaya dengan simbol-simbol yang tak tertandingi memberikan ruang politik bagi para alim untuk menerangkan pada khalayak awam tentang apa sejatinya yang difirmankan tuhan. Tetapi keinginan untuk berbuat sebagaimana persis apa yang diotentikkan oleh alkitab dan apa yang dicontohkan oleh para nabi telah membuka ruang pergulatan idiologis dan praktis pada manusia berdarah-darah. Waktu menjebakkan pada posisi siapa yang paling sahih menjalankan alkitab dan sunah.

Pembicaraan tentang konteks apa yang akan diatur oleh bahasa Tuhan dalam dalil dan doktrin agama-agama besar telah tercecer pada pergulatan untuk mencapai apa yang disebut dengan yang paling sahih itu. Setiap diskursus dan rekonstruksi social untuk menjamin pesan cinta dan kedamain yang dibawa doktrin sampai itu telah berakhir pada penjara ritual yang kemudian mematerikan keagungan nilai-nilai itu. Pada akhirnya kita sampai pada ritual siapa yang paling sahih.

Peluang klaim kesahihan telah menjadikan kelompok-kelompok orang yang paling paham memiliki peluang paling besar untuk bersekutu dengan kekuasaan duniawi. Karena kekuasaan duniawi tidak cukup dilegitimasi dengan proses politik kebudayaan, sehingga perlu mengundang seperangkat kesahihan religious untuk menjamin kekuasaan ini tersambung dengan apa yang selalu diharapkan rakyat awam untuk memberikan pertolongan, tak ada kekuatan lain untuk itu, yaitu kekuatan Tuhan.

Sebaliknya jika sebelumnya kepatuhan terhadap fatwa para alim mendapat fondasi kokoh dari prilaku religious dan social yang dapat ditangkap oleh keawaman rakyat jelata, kali ini mendapat legitimasi lebih keras dari organisasi kekuasaan politik. Untuk itulah pada banyak kasus, raja adalah sekaligus tokoh agama atau setidak-tidaknya raja harus dilekati gelar keagamaan. Ketika itu juga para orang alim memasuki gelangga politik, untuk memastikan bahwa segala doktrin ritual tunggal yang dipahaminya berjalan secara mekanik, tak terbantah. Pada saat yang sama, segala fatwa seketika berangkat dari kubangan politis, membubung tinggi jauh dari jangkauan awam dan kehilangan akar sosialnya.

Seketika posisi para alim adalah posisi prestisius karena secara tidak langsung mereka memiliki legitimasi kesahihan, karena itulah posisi ini dapat menjerumuskan pada gelimang keriaan dan keinginan akan kemegahan. Derajat kesalehan para alim menjalankan segala ritual adalah sebuah tangga yang tidak mungkin dicapai oleh para sudra agama-agama dan para sudra itu banyak sekali. Ketika mereka tidak akan sesempurna kesalehan para alim maka serta-merta tentulah segala doa yang mereka panjatkan tidak akan semudah doa para alim diterima tuhan, karena itulah para alim sekaligus menjadi para elit para sudra, sehingga pada banyak agama-agama, mereka adalah kaum elit sebagaimana para brahmana. Para brahmana selalu berada disamping para raja dalam sejarah-sejarah kekuasaan.

Pada posisi itu kita, khalayak awam terbelah pada posisi mengikuti cara siapa dan doktrin orang alaim mana yang paling harus diikuti, untuk memaknai dan merasakan kehadiran tuhan. Kekuasaan pemegang kesahihan doktrin telah menjadi ketakutan baru di dunia, ketakutan yang diwakili oleh kata “kafir internal” ataupun “Kafir eksternal”. Pantaslah ketika seorang Jenar menolak panggilan raja meskipun berpagarkan para wali, meskipun pada akhirnya ia datangi sendiri kematian itu, karena ia ingin membuka gerbang untuk menyatu dengan keagungan yang ia cinta. Karena itulah ia dan sedikit orang menjemput maut dengan seulas senyum dibibir.

Seorang Stenly, meskipun ia bukanlah siapa-siapa selain seorang pengacara tunanetra dari Manado yang meninggal karena kalah berhadapan dengan penyakitnya menurut pemahaman mekanik kita, sepanjang hidupnya ia mengemban tugas untuk memperlihatkan tanda kehadiran ayat-ayat tuhan didunia. Meskipun dia tidak pernah berbicara tentang potongan pesan ketuhanan yang tertulis di kitab agama-agama, ia telah berada pada gerbong orang-orang yang menyampaikan bagaimana seharusnya kasih sayang tuhan bekerja dalam konteks sosial kekinian. Meskipun secara fisik ia menjadi buta karena kemiskinan, tidak menyebabkan ia menghamba pada peluang kemudahan, telah dia nikmati berbagai penolakan sebagai bagian dari perjuangan para sudra yang ia bela dan yang pasti tak sekalipun dia menyadari bahwa dia adalah bagian dari orang-orang yang dijadikan tuhan sebagai tanda-tanda bagi kita yang melihat dan membaca.

Kematian bagi Stenly barangkali adalah juga pintu untuk bertemu pada keagungan yang telah menugaskannya untuk membukakan mata buta orang-orang yang secara fisik tidak buta, tetapi kenapa begitu mudah bertindak buta pada para sudra dunia. Segala kesukaran ketika ia meniti jalan untuk menunjukkan tanda segala bahasa cinta Tuhan dalam diam dan kebutaannya, meskipun tampa kata-kata adalah palu yang meruntuhkan sekat penyatuan itu. Sekali lagi, meskipun apa yang dia lakukan bukanlah cara dan syariat yang lazim dilakukan orang-orang yang merasa paling berhak menjaga eksistensi Tuhan di dunia. Pada titik itu, kematian sebagai sebuah pembebasan menjadi pintu kemerdekaan sebagai mahluk karena sejatinya oleh banyak orang, neraka itu sesungguhnya sudah dimulai dari dunia fana ini.


Diantara Lubuak Landua dan Tanah Britania : Catatan Perjalananku Dengan Marcus Colcester

Siang yang basah itu lewat menyapu langit Inggris ketika kami menuju sebuah rumah di sebuah pedesaan yang sangat indah, di Oxford-United Kingdom. Aku sampai di pintu rumah itu ketika hujan seperti ditumpahkan dari langit, yang menyebabkanku berlari disela-sela taman “real British” yang menyambung  dengan tanah luas sampai ke sebuah jembatan kereta api tua, jauh dari periode lampau. Pada siang yang basah itu, aku duduk dan tenggelam pada sebuah ritual budaya yang terkenal dengan “English Tea” di sebuah beranda rumah keluarga Inggris yang hangat dan dipenuhi pigura-pigura yang membingkai sebuah kenangan akan sebuah masa yang telah berlalu.

Seperangkat ritual minum teh sore dari porselen telah berbaris dimeja, seorang ibu mengundang kami mencoba kehangatan sebuah rumah tempat pulang dari seduhan teh sore itu. Jauh sejak Catherine Portugis Braganza, permaisuri dari Charles II di tahun 1660-an memperkenalkan teh sebagai sebuah minuman aristokrat, teh kemudian menyebar di Britania Raya yang kemudian membentuk sebuah budaya baru di tanah Inggris dan aku menjadi bagian dari budaya itu, sore ini.

Perempuan tua anggun itu banyak bercerita tentang perjalanan hidup yang bagiku seperti membuka lembar demi lembar sejarah. Ibarat berenang pada sebuah pusaran air, aku seperti tersedot duduk takzim dihadapan sejarah itu sendiri. Kegilaanku pada cerita-cerita masalalu seperti menemukan oasenya, cerita tentang “Bettle of British” sampai ke pertempuran Arheim untuk membebaskan Belanda dari Jerman di era perang dunia II.

Alqur’an mengajarkan bahwa rizki, jodoh, pertemuan dan kematian adalah rahasia sang Khaliq dan aku ada dalam hukum itu sehingga rizki mengantarkanku pada berbagai pertemuan yang menakjubkan, dan seperti seorang Moor dalam Lor of The Rings, akupun telah ada didesa ini. Seorang lelaki putra dari ibu itu, telah bersamaku ada dalam beragam peristiwa untuk menopang sebuah peradaban lain yang nyaris kalah jauh di pedesaan di timur sana, membawaku sampai sejauh ini. Dialah Marcus Colcester seorang antropolog yang kemudian aku ketahui memegang satu gelar akademik lain yang prestisius, tetapi nyaris biasa baginya.

Perjumpaan pertama kali dengan Marcus, ketika kami melakukan sebuah perlawatan penelitian di empat propinsi di Indonesia ketika “Badai Sawit” mulai melanda dan menyapu hamparan tanah-tanah rakyat yang kerapkali berstatus tanah adat-ulayat. Pada perjalanan panjang itu, kami menyaksikan bagaimana tanah-tanah itu “dirampas” untuk perkebunan kelapa sawit yang meninggalkan banyak cerita, tapi bagiku yang berlatar belakang Hukum ini, peristiwa ini adalah sebuah pergumulan hukum yang berkepanjangan pada situasi pluralisme hukum yang lemah dimana satu sistem hukum begitu powerful nya, dan melindas sistem hukum lain yang juga bekerja dilapangan hukum yang sama yaitu tanah adat-ulayat bagi Masyarakat Adat dan tanah negara bebas, dalam kacamata hukum negara. Namun sentralisasi hukum yang dilakukan dan mengikuti dibangunnya State Nation di negara yang majemuk seperti Indonesia, meninggalkan cerita-cerita duka orang-orang yang kehilangan haknya. Dan lahirlah buku itu, “Promis Land”, sebagai sebuah tonggak yang membawa kacamata lain dalam melihat dampak dari ekspansi perkebunan sawit di dunia ketiga yang dalam pendekatan teori Dependent Theory, ditempatkan sebagai pemasok bahan baku bagi perputaran peradaban dunia, terutama negara dunia pertama.

Putaran kedua yang melibatkanku dengan Marcus adalah ketika membangun dialog panjang multistakeholder mengenai penerapan prinsip Free Prior Informed Consent (FPIC) yang dimulai dari Sumatera dan berakhir di Papua. Sebagai sebuah alat dan media, idealnya FPIC diterapkan ketika awal sebuah proses-proses pembangunan dan investasi dilakukan disebuah wilayah Masyarakat Adat, namun demikian, situasi yang terjadi hampir diseluruh Indonesia menyebabkan FPIC juga melakukan reinkarnasi menjadi alat yang membuka negosiasi baru untuk memperbaiki keadaan yang sudah terlanjur buruk. Rezim yang otoriter dan penuh pengingkaran terhadap hak rakyat yang baru berlalu, menyisakan begitu banyak bengkalai masalah yang menjadi pekerjaan berat generasi saat ini, apalagi pergantian rezim tidak diikuti dengan pergantian prilaku aktor-aktornya. Akibatnya, ibarat pepatah Minangkabau yang menyebutkan “Bertukar Beruk dengan Monyet, Menambah Satu Ekor Kera”, meskipun masa berganti dan rezim bertukar, tetapi situasi sama saja, bahkan lebih parah, rakyat harus membayar lebih untuk situasi yang berubah yang tak juga menguntungkan mereka itu.

Tapi ketika seorang Marcus mengajakku untuk mendorong penerapan FPIC untuk membackup rakyat yang terus kehilangan hak-haknya, ternyata kami datang disituasi yang tak seindah cerita roman Balai Pustaka tentang Masyarakat Adat. Berbagai peristiwa politik dan hukum silih berganti dan menggerus sendi-sendi hukum, kelembagaan dan budaya mereka. Kami datang ketika semilir angin keterbukaan datang membawa harapan akan ruang rekonstruksi ulang tentang sebuah komunitas ideal itu, namun di beberapa kasus, angin perubahan itu kadang berubah menjadi topan dimana banyak “free reader” menumpang yang pada akhirnya menjerumuskan pada kemalangan yang lebih dalam. Dimana isu adat juga menjadi senjata bagi kelompok-kelompok yang ingin menarik keuntungan bagi dirinya sendiri. Disitulah kami berada. Tetapi Marcus tetap ada sebagai oase ditengah gurun yang membingungkan, sebagai partner diskusi yang tidak mendikte, tetapi justru menunjukkan beratus-ratus pintu lain yang harus dibuka untuk menemukan jawaban. Disitulah kami mencoba menjembatani mekaniknya positifisme hukum dengan terus bergeraknya masyarakat dalam kacamatanya yang antropologik. Disitu pula batas generasi mencair pada keanggunan keinginan untuk berbagi antara utara dan selatan, antara generasi tua dan generasi muda, dan disitulah kerapkali Marcus berubah menjadi Guru yang siap menunggu tanya dari kedahagaan para murid masa kini yang selalu ingin tahu lebih cepat secara meloncat, dan disitu, ia sebagai seorang Guru, tak pernah ketinggalan diantara loncatan itu.

Mungkin teramat sulit mengurai sebuah hubungan yang tak membeku pada lingkup kerja, dalam kalimat-kalimat yang dibangun sedikit sekali pilihan kata di kamus. Rasa cendrung terdistorsi oleh logika, padahal logika tak akan sanggup menjangkau rasa. Dalam situasi itulah aku menuliskan kesan tentang seorang Marcus Colcester, sulit…aku akui sulit. Sebab hubungan elegan itu telah terentang mulai dari Lubuak Landua, sebuah lubuk ikan larangan sakti jauh di pedalaman Pasaman, Minangkabau sana, sampai ke utara jauh di pedalaman desa kecil tanah Inggris yang menenggelamkanku pada kehangatan sebuah beranda pada minum teh di sore yang dingin itu. Diantaranya tercecer berbegai karya untuk rakyat yang tersebar di dusun-dusun tanah Sumatera, pada kampokng-kampokng tanah Borneo, memintasi Sulawesi dan sampai berujung di cerita-cerita “Seruling Emas” tanah Papua.

Batam, 26 Januari 2013