Archive for the ‘Perenungan Sastrawi’ Category


Ibu Yang Lara : Makna Lagu Saluang Sungai Pagu

Sungai Pagu dulunya adalah sebuah Kerajaan, dimana dalam jajaran wilayah Kerajaan Pagaruyung, Sungai Pagu ini disebut dengan “Ikua Darek” atau terjemahan bebasnya adalah Ekor Daratan dari Kerajaan Pagaruyung.  Saat ini, wilayah Kerajaan Sungai Pagu ini, telah menjelma menjadi Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Minangkabau_huis_met_rijstschuren_in_Moearalaboeh_TMnr_60027687

Foto :  COLLECTIE TROPENMUSEUM Minangkabau huis met rijstschuren in Moearalaboeh

Alam Sungai Pagu sangatlah indah, jalan yang akan anda lalui dari Kota Padang, Ibu Kota Propinsi Sumatera Barat, sepanjang 133.1 km dan rata-rata akan ditempuh selama 2 jam, mata akan dimanjakan dengan gugusan perbukitan dengan lembah-lembah yang curam, lengkap dengan pemandangan Danau Diatas, ketika anda memasuki daerah Alahan Panjang, daerah dingin yang sudah demikian terkenal sejak zaman colonial, pintu yang akan mengantarkan anda ke Ranah Sungai Pagu.

KITLV-Balai, raadszaal, te Alahanpandjang

Foto :KITLV-Balai, raadszaal, te Alahanpandjang

Selepas dari Danau Diatas ini, anda akan meniti jalan sempit berliku, dipinggang-pinggang bukit, dimana disalah satu sisinya hamparan lembah permai akan mengantarkan pandangan anda pada gugusan perbukitan setelahnya.

Danau Diatas

Foto : Danau Diatas

Daerah ini demikian bersejarahnya, diantaranya, pada jalan sesudahnya, Jendral Dading Kalbuadi dan Jendral LB Moerdani, dua tantara legendaris, pernah di-Bazoka oleh tantara Pemerintahan Revolusioner Repuiblik Indonesia (PRRI), ketika Sumatera bergolak dan dimana situasi politik nasional melahirkan perlawanan bersenjata dari daerah. Sungai Pagu adalah wilayah pertahanan bagi setengah tantara perlawanan, dibawah pimpinan Kolonel Ahmad Husein. Peristiwa tragis, namun heroic.

Jalan berliku yang sangat indah ini, sekaligus menyimpan banyak kisah. Kisah suka dan duka anak nagari pergi merantau, meninggalkan kampung untuk mengejar cita-cita, atau dalam Bahasa adat Minangkabau disebut dengan “Mambangkik Batang Tarandam-Membangkit Batang Terendam”. Setiap anak Minangkabau, termasuk anak-anak Sungai Pagu, menerima dengan takzim perintah kultural untuk merantau itu dan meninggalkan Orang Tuanya.

Kerinduan teramat dalam dari orang tua, kepada si Buyuang atau si Upiak yang pergi merantau jauh, itulah yang menjadi substansi dari lirik lagu Saluang Sungai Pagu ini. Mari kita lihat, terjemahan bebasnya :

Bahasa Minangkabau
Bahasa Indonesia
Sungai Pagu Ayialah batumbuak

Basimpang jalan rang ka abai

Aiii basimpang jalan rang ka abai

Yo lai…angan lalu pahamlah tatumbuak

Disinan badan mako sanansai…yolai disinan badan mako sansai

Sungai Pagu Ayia (lah) Batumbuak

Bersimpang jalan orang ke Abai

Aiiii bersimpang jalan orang ke Abai

Yo laiiii…..Angan lewat, Paham (lah) tertumbuk (Mentok)

Disitu badan akan menderita…yolai…

Badan akan menderita

Tinggaluang… lah babuni malam

Ungko babuni lah tenggi ari

Aiiii ungko lah babuni tenggi hari

Ooo leiiiiiiii

Bagaluang lalok ooo dinan kalan

Nan pai indak ndak juo kumbali

Alalalai nan pai ndak juo kumbali

Tinggalung…lah berbunyi malam

Ungko berbunyi tinggi hari

Ai Ungko berbunyi tinggi hari

Ooo leiiiii

Bergelung tidur oooo di yang kelam

Yang pergi tidak jua kembali

Alalaliiii, yang pergi tidak jua kembali

Yoeiiiii luruihlah jalan ka Singkarak

O babelok jalan lah Ka Sumani..

Alal…ai babelok jalan ka Sumani

Iyoleiii o kuriahlah badan dek taragak nak kanduang ei

Samboklah mato dek manangih

Anak kanduang….samboklah mato dek manangih

Yoooeiiiiii luruslajh jalan ke Singkarak

O berbelok jalan (lah) ke Sumani

Alalala…ai, berbelok jalan ke Sumani

Iyoleiii o kuruslah badan karena kangen

Nak kandung eiii

Sembablah mata karena menangis

Anak kandung…sembablah mata karena menangis

Satu daerah lain yang disebut dalam lirik salung ini adalah Ayia Batumbuak. Aie Batumbuak adalah sebuah nagari di Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatra Barat. Nagari ini terletak di pinggang Gunung Talang, berada pada ketinggian ± 1500 meter dari permukaan laut dengan topografi daerah berbukit-bukit. Karena dinginnya cuaca di Nagari Ayia Batumbuak ini, maka sejak zaman colonial telah ada hamparan kebun-kebun teh di Nagari ini, dimana the tersebut, mungkin menjadi material utama kebiasaan minum the sore rakyat Inggris, dimana dari kebiasaan rutin itulah kemudian lahirlah kebudayaan English Tea. Nagari Ayia Batumbuak ini harus dilewati terlebih dahulu sebelum sampai ke daerah Sungai Pagu.

Sementara itu, daerah lain yang disebut dalam lirik Saluang Sungai Pagu ini adalah daerah Abai. Nagari Aba1 saat ini menjadi bagian dari Kecamatan Sangir Batang Hari, dimana posisinya berada jauh kedalam Ranah Sungai Pagu ini. Dinagari Abai, terdapat satu kesenian tua bernama Batombe.

Menurut catatan Wikipedia, Batombe diawali dengan pembacaan pantun pembukaan oleh seorang datuk.[5] Para pemain lalu memasuki arena dan membuat lingkaran.[5] Pemain terdiri dari 10 orang laki-laki dan 3 orang perempuan.[5] 12 di antaranya bergerak menari membentuk garis lingkaran.[5] Sementara 1 lainnya menari di dalam lingkaran.[5] Kesenian Batombe diiringi dengan irama musik yang ceria.[5] Alat musik yang digunakan biasanya terdiri dari gendang dan talempong.[5] Keduanya dimainkan dengan cepat mengikuti irama tarian dan nyanyian yang dibawakan para pemain batombe.[5] Keceriaan tarian semakin mengajak dan semangat sehingga pada bagian akhir, yang menyaksikan biasanya bergabung dan ikut menari bersama-sama.[5].

Konon kabarnya, Batombe ini lahir pada masa Nagari Abai baru dibuka, dimana masyarakat membangun rumah-rumah adat yang Panjang, sampai mencapai 21 ruang, agar dapat berkumpul dan membangun pertahanan dari berbagai gangguan, termasuk gangguan binatang buas. Batombe ini lahir sebagai satu media untuk memicu semangat anak kemenakan untuk membangun Nagari tersebut.

Jalan raya dari Padang ke Sungai Pagu adalah jalan tua, dimana sampai awal-awal kemerdekaan, banyak pelintas melewatinya, karena menjadi jalan yang menghubungkan dengan Kerinci di Jambi dan jalan ke Kota Jambi sendiri, jika anda berangkat dari Minangkabau. Bus-Bus Mercy dengan moncong memanjang seperti Buaya, dengan starter engkol didepan, akan mengantar anda mengikuti liku jalan, yang kerapkali menyebabkan anda harus bermalam disebuah tempat perhentian.

Jika saya ke Sungai Pagu, selain keindahan kabut yang membungkus perbukitan, mulai dari Pasar Surian, nagari awal yang indah, dimulut Sungai Pagu, saya selalu terkenang dengan Rendang Paku dan Belut Sawah Goreng. Kalaulah anda makan itu disaat puncak rasa lapar menyerang, dimana kedua masakan itu baru saja diangkat dari perapian, berikut dengan wangi beras Solok yang telah ditanak menjadi nasi, maka istilahnya, Mertua Lewat sekalipun, tidak akan anda sapa, saat suap demi suap seperti berlari mendaki mulut anda.

Pada bagian akhir, pengarang lagu Saluang Sungai Pagu ini, menyebut dua tempat yang menjadi saksi peradaban Minangkabau. Ia menyebut pada dua tempat di sampiran bait itu yaitu Singkarak dan Sumani. Singkarak. Saat ini, Singkarak adalah nagari di kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Indonesia. Sementara itu, Nagari Sumani juga terdapat dikecamatan yang sama.

Sampiran bait terakhir dari lagu saluang Sungai Pagu ini mengatakan “luruslah jalan ke Singkarak, berbelok jalan ke Sumani”. Berdasarkan sampiran ini, kemungkinan sipenulis lagi menceritakan bahwa ia berjalan dari arah Ombilin dimana sungai Ombilan berhulu di Danau Singkarak dan berjalan, menyisiri tepian danau itu, menuju Kabupaten Solok. Setelah sekian lama berkendaraan, makai akan sampai di Nagari Singkarak dan diujung nigari itu aka nada belokan ke kiri ke Nagari Sumani.

KITLV A1330 - Minangkabau huizen (roemah gadang) te Singkarak op Sumatra's Westkust

Foto : KITLV A1330 – Minangkabau huizen (roemah gadang) te

Berdasarkan catatan Wikipedia, Danau Singkarak memiliki luas 107,8 km² dan merupakan danau terluas kedua di pulau Sumatra setelah danau toba di Sumatra Utara, yang membentang di dua Kabupaten yaitu Tanah Datar dan Solok. Danau ini merupakan hulu dari sungai atau Batang Ombilin. Danau Singkarak merupakan salah satu hasil dari proses tektonik yang dipengaruhi oleh Sesar Sumatra. Danau ini adalah bagian dari Cekungan Singkarak-Solok yang termasuk di antara segmen dari Sesar Sumatra. Cekungan dari danau ini terbentuk dari sebuah amblesan yang disebabkan oleh aktivitas pergerakan Sesar Sumatra. Cekungan besar ini terbendung oleh material vulkanik dari letusan gunung api sekitarnya. Akibat pembendungan material vulkanik ini terbentuklah Danau singkarak di satu bagian Cekungan Singkarak-Solok. Berbeda dengan Danau Maninjau yang terbentuk akibat letusan gunung api, Danau Singkarak terbentuk utamanya karena proses tektonik.

Daerah ini merupakan daerah yang sangat tua dalam peradaban Minangkabau. Kisah-kisah pelintasan para pengelana dan pedagang, banyak terkubur di danau ini. Salah satu pesohor yang paling terkenal yang pernah memintasi danau ini adalah Sir Thomas Stanford Raffles, pendiri Singapura.

Pada tahun 1818, Rafle berangkat dari kedudukannya di Bengkulu, atau lebih tepatnya Benteng Marlborough, dipinggir pantai Panjang Bengcoolen, menuju Padang dan kemudian memintasi Bukit Barisan yang memagar lembah kota itu, untuk menurun ke Nagari Gantung Ciri dan berhenti di Nagari Saniang Baka, tepian danau Singkarak pada bagian Kabupaten Solok, untuk kemudian naik perahu menuju Ombilin yang menjadi pintu Nagari Simawang. Baru setelahnya ia kemudian memintasi beberapa Nagari lagi untuk menyambangi Tuan Gadih, raja perempuan terakhir Minangkabau di Pagaruyung.

Simawang kemudian terpilih menjadi tempat dimana Inggris pertama kali mengibarkan Union Jack, bendera kebanggan Britania Raya dan kemudian membangun banteng dengan menempatkan beberapa serdadu Bengali, untuk menjaga jalur perdagangan itu. Tak lama sesudahnya, terjadi Tractak London yang meletakkan garis imaginer Kolonialisme yang membelah kekerabatan politik antara Minangkabau, Siak, Riau-Lingga, Johor dan Pahang, tepat di Selat Philip dan Selat Singapura, sepelemparan buah dari Pulau Penawar Rindu dan Sambu dihadapan Pulau Batam, Kepulauan Riau saat ini.

Traktat London menyebabkan Inggris harus menyerahkan Bengcoolen, Padang berikut banteng di Simawang kepada Belanda, dimana kemudian Raffles kemudian harus angkat koper ke sepotong tanah yang terapung diantara Johor dan Bintan, yang dulunya bernama Tumasik, dan kemudian berubah menjadi Singapura. Raffles menelan kenyataan pahit politik kolonialisme internasional antara Inggris dan Belanda saat ini, dimana pertama kali ia terusir dari Jawa yang aristocrat dan tua, ke Bengcoolen dan akhirnya harus berlabuh di Singapura.

Tidak lama setelah Belanda menyalin wilayah-wilayah bekas-bekas Inggris, termasuk banteng Simawang, huru hara di Minangkabau semakin memuncak. Gerakan pemurnian kehidupan social dengan penegakan hokum agama memakai kekerasan, yang diusung oleh Kelompok Paderi, meminta harga, Cost Sosial yang tidak sedikit.

Setelah tragedy pembunuhan yang simbolik di Koto Tangah pada tahun 1809, beberapa tahun sebelum Raffles berkunjung untuk menyaksikan puing-puing sebuah kerajaan yang seabad lalu, masih memiliki kekuasaan yang gemilang, yang membentang dari ujung tanah Sumatra, hingga ke Malaya, dimana putra-putra terbaiknya dikirim ke semenanjung untuk memerintah atau menyebar agama, Belanda harus masuk jauh terlibat dalam konflik internal itu.

10 Februari 1821, beberapa Nagari diserahkan kepada Belanda yang kemudian oleh Belanda dimaknai sebagai penyerahan seluruh wilayah-wilayah bekas Kerajaan Pagaurung yang telah runtuh kepadanya. Potongan perjanjian yang ditanda tangani oleh beberapa pemuka adat saat itu, memuat beberapa hal yaitu :

Pasal 1

Kepala-kepala yang disebutkan di atas secara resmi dan tidak terbatas dalam formalitas-formalitas ini menyerahkan nagari Pagarroejoeng, Soengei Tarab dan Soeroasso, serta nigari-nagari lain dari Distrik Menangkabau, kepada Pemerintah Belanda di Hindia Timur.

Pasal 3
Dari sisi Pemerintah, janji (kepada) penduduk untuk mengirim satu detasemen militer, 100 orang kuat, dilakukan oleh pejabat Eropa ke nagari yang disetujui untuk mengambil kepemilikan dan mengambil pos di Semawang untuk perlindungan dari penduduk nigari-nagari tersebut dari yang disebut Padri, ini, mengusir dan memulihkan kedamaian di pedalaman.

Hier volgden de handteekeningen van (Berikut adalah tanda tangan dari) :

1. Daulat Jang di pertoewan Soetan Alam Bagagar van Pagarroejoeng.
2. Jang dipertoewan Badja Tangsier Alam van Soeroasso.
3. Jang dipertoewan Soetan Krajahan Alam van Soeroasso.
4. Datoe Basoeko en Datoe Moedo, voor zich en de overige 12 panghoeloes van Batipoe.
5. Datoe Satoe en Datoe Palindie, voor zich en de overige 6 panghoeloes van Singkaraq.
6. Datoe Badja Nanda en Datoe Badja Bagagar,
7. voor ziehen de overige 8 panghoeloes van Saningbakar. . Datoe Badja Nansattie,
8. voor zich en de overige 5 panghoeloes van Boenga Tandjong, Datoe Gradang Maharadja Lella,
9. voor zich en de overige 5 panghoeloes van Pitalah. Datoe Satie,
10. Toor zich en de overige 6 panghoeloes v«n Tandjong Beroelaq. Datoe Badja Boehet,
11. voor zich en de overige 4 panghoeloes van Goenoeng Badja. Datoe Panghoeloe Besar,
12. voor zich en de overige 4 panghoeloes van Batoe Sangkar. Datoe Maharadja Lella,
13. voor zich en de overige 6 panghoeloes van Soempoer. Datoe Sarree Padda,
14. voor zich en de overige 6 panghoeloes van Melala. Datoe Nakodah Intan en Datoe Padoeka,
15. voor zich en de overige 40 panghoeloes van Sembilan Kota. Datoe Mangoen jang Toewah en Datoe Bandara Moeda,
16. voor zich en de overige 6 panghoeloes van Semawang.

Maka sejak itu, berkecamuklah perang yang mempertemukan Paderi di satu sisi dan Kaum Adat dengan Belanda disisi lain, sedangkan nagari Simawang adalah satu episentrum saksi sejarah dari konflik itu.

Seiring waktu, ketika huru hara di ranah Minangkabau berakhir, Belanda kemudian menemukan kandungan Batubara di perbukitan Sawah Lunto. Untuk kepentingan eksploitasi kekayaan alam itu, dibangunlah ruas-ruan jalan rel kereta api yang menghubungkan pelabuhan Emma Haven di Bungus Padang-pantai barat Sumatera dengan pedalaman Minangkabau, atau apa yang pernah disebut dengan Padangsche Bovenlanden.

Overstroming in de Batang Soemani bij een spoordam van de Staatsspoorwegen ter Sumatra's Westkust bij Solok

Foto :Overstroming in de Batang Soemani bij een spoordam van de Staatsspoorwegen ter Sumatra’s Westkust bij Solok, KITLV

Pada tanggal 1 Juli 1892, jalan Kereta Api segmen Padangpanjang–Solok yang menuruni Nagari Bungo Tanjuang, nagari legend lain di pinggiran danau Singkarak, dalam bagian Kabupaten Tanah Datar, diresmikan. Tidak lama kemudian, 1 Oktober 1892, Segmen jalan kereta antara Solok–Muaro Kalaban, sebuah daerah kecil di intas Sumatera saat ini, persimpangan menuju Sawah Lunto, dimana tambang itu dioperasikan oleh para narapidana yang dibuang untuk kerjapaksa dengan dirantai, dimana kemudian mereka popular disebut sebagai orang rantai.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Spoorbrug_over_de_Ombilin_rivier_Padangsche_Bovenlanden_TMnr_60038744

Foto : Jembatan Kereta Api Ombilin, KITLV

Salah satu orang rantai yang terkenal yaitu Samin Soerosoentiko, penganjur ajaran keyakinan Samin di Jawa Tengah yang melawan Belanda dengan menolak membayar pajak kepemerintah, yang tragisnya, meninggal dan berkubur di kota tambang tua itu. Kota ini pula yang kemudian diserang oleh pemberontakan pertama setelah Paderi kalah, yaitu pemberontakan Komunis dari Silungkang, nagari yang tidak beberapa jauh dari kota itu, pada tahun 1926.

Steenkolenmijn Ombilin bij Sawahloento

Sejak membentangnya jalan Kereta Api yang diikuti dengan pengerasaan pelataran yang kemudian menjadi jalan tersendiri di pinggir Danau Singkarak yang membentang dari Solok menuju Padang Panjang di Tanah Datar, yang melintasi Nagari Singkarak dan Sumani yang disebut dalam sampiran bait ketiga Saluang Sungai Pagu tersebut, orang-orang telah melupakan danau Singkarak sebagai penghubung antara Solok dengan Tanah Datar dengan memakai kendaraan perahu.

Kano op het Meer van Singkarak op Sumatra's Westkust

Foto : Kano op het Meer van Singkarak op Sumatra’s Westkust, KITLV

Jalan ini pula yang kemudian ditempuh oleh pasukan Banteng Reider yang menjadi bagian dari pasukan inti untuk memadamkan pergolakan daerah, PRRI sepanjang tahun 1958 sampai dengan 1962, dari Padang, setelah pendaratan pertama kali di pantai Ulak Karang, kemudian melambung menembus pertahanan PRRI di Ladang Padi, perbukitan diatas Indarung Kota Padang, untuk terus menusuk kejantung pertahanan, dari Solok ke Batusangkar, dalam tatapan muram Gunung Bungsu, dihadapan Istana lama keluarga Raja Pagaruyung.

Operasi militer dengan tajuk 17 Agustus itu, kemudian menyisakan kisah-kisah heroic sekaligus lara yang melibatkan orang-orang yang kemudian menempati posisi tersendiri di panggung sejarah bangsa. Diantara mereka itu terdapat Kolonel Ahmad Yani dan Letkol Untung Samsoeri, dua actor yang dalam peristiwa bangsa lain saling berhadapan dan diantara mereka juga, terselip Tri Soetrisno, perwira remaja yang sempat menyinggahi Nagari Singkarak dan Sumani dalam operasi militer itu, yang kemudian menjadi Jendral dan Orang Kedua di Republik ini.

Dalam catatan salah satu anggota Banteng Reiders yang memintasi Solok ke Ombilin untuk kemudian menuju ke Batusangkar itu, disana mereka berhadapan dengan para tantara Pelajar yang dilatih sekedarnya, ketika ultimatum daerah it uke pemerintah pusat, dijawab mendadak dengan Operasi Militer dibawah komando Jendral A. H. Nasution dengan pusat Komando di Tanjung Pinang, Pulau Bintan, sebuah kota tua, kerajaan Melayu lama di Selat Malaka.

Kembali ke pesan dalam baik Saluang Sungai Pagu, mari kita lihat bait-baitnya.

Sungai Pagu Ayialah batumbuak

Basimpang jalan rang ka abai

Aiii basimpang jalan rang ka abai

Yo lai…angan lalu pahamlah tatumbuak

Disinan badan mako sanansai…yolai disinan badan mako sansei

 

Sungai Pagu Ayia (lah) Batumbuak

Bersimpang jalan orang ke Abai

Aiiii bersimpang jalan orang ke Abai

Yo laiiii…..Angan lewat, Paham (lah) tertumbuk (Mentok)

Disitu badan akan menderita…yolai…

Badan akan menderita

Bait pertama dari lagu saluang ini, merupakan keluhan seorang Ibu yang menyatakan bahwa dirinya sedang memiliki keinginan (angan), namun keyakinannya sedang terbentur. Menurut filosofi Minangkabau, keinginan, atau angan, mestilah diikuti dengan keyakinan, sehingga apa yang dituju bias tercapai. Namun demikian si ibu dalam lagu ini ada dalam situasi yang dalam perumpamaan orang Minangkabau, adalah situasi yang buruk, keinginan yang dekat dengan kegagalan, karena keyakian akan pencapaiannya, terbentur.

 

Tinggaluang… lah babuni malam

Ungko babuni lah tenggi ari

Aiiii ungko lah babuni tenggi hari

Ooo leiiiiiiii

Bagaluang lalok ooo dinan kalan

Nan pai indak ndak juo kumbali

Alalalai nan pai ndak juo kumbali

  

Tinggalung…lah berbunyi malam

Ungko berbunyi tinggi hari

Ai Ungko berbunyi tinggi hari

Ooo leiiiii

Bergelung tidur oooo di yang kelam

Yang pergi tidak jua kembali

Alalaliiii, yang pergi tidak jua kembali

Bait kedua dari saluang Sungai Pagu ini bercerita bahwa karena keinginannya yang sangat mustahil itu (pada bait pertama), ia menceritakan kalua ia sedang tidur meringkuk atau bergelung diruangan yang gelap. Mungkin disudut biliknya yang sunyi. Sementara itu ia mengeluh, meskipun keadaannya sudah demikian, anaknya yang pergi tidak juga kembali. Kemungkinan anaknya telah lama merantau, dan tidak pernah ada kabar. Mungkin saja ketika lagu Saluang Sungai Pagu ini tercipta, komunikasi antar daerah masih sangat susah, mungkin surat-surat ke Tanah Jawa mesti dikapalkan dulu dari pelabuhan Emma Haven, ditepian teluk Bungus Padang yang ramai saat itu.

 

Yoeiiiii luruihlah jalan ka Singkarak

O babelok jalan lah Ka Sumani..

Alal…ai babelok jalan ka Sumani

Iyoleiii o kuriahlah badan dek taragak nak kanduang ei

Samboklah mato dek manangih

Anak kanduang….samboklah mato dek manangih

 

Yoooeiiiiii luruslajh jalan ke Singkarak

O berbelok jalan (lah) ke Sumani

Alalala…ai, berbelok jalan ke Sumani

Iyoleiii o kuruslah badan karena kangen

Nak kandung eiii

Sembablah mata karena menangis

Anak kandung…sembablah mata karena menangis

Bait ketiga merupakan puncak dari keluhan ibu yang sangat merindukan anaknya itu. Karena itu ia ingin menyampaikan kondisinya, yakni telah kurus badannya karena kangen dan matanya telah sembab karena menangis. Sementara anaknya tentah kapan akan kembali.

Saya membayangkan si-ibu tua ini sedang duduk didekat jendela rumah gadangnya, dimana ia selalu menatap jalan raya yang terbentang didepan rumahnya. Setiap bus-bus Mercy tua mendengus dan berhenti menurunkan penumpang, maka anaknyalah yang turun. Namun telah berbilang tahun dan telah bosan sopir Bus ini menerima pertanyaan si Ibu, yang anaknya tidak juga kembali. Ia khawatir, sampai kemudian kematian menjemputnya, ia tidak akan pernah lagi bertemu dengan anaknya.

Andiko Sutan Mancayo

Batam, 17 Juli 2019

——-

Berdasarkan data terakhir, maka Sungai Pagu telah terbagi atas beberapa Kecamatan dan Nagari sebagai berikut :

 

Kecamatan Nagari
Sangir 1        Lubuk Gadang Selatan

1.      Lubuk Gadang

2.      Lubuk Gadang Timur

3.      Lubuk Gadang Utara

Sangir Jujuan 4.      Lubuk Malako

2        Bidar Alam

5.      Padang Air Dingin

6.       Padang Limau Sundai

7.       Padang Gantiang

Sangir Balai Janggo 8.      Sungai Kunyit

9.      Talunan Maju

10.  Talao

11.  Sungai Kunyit Barat

 

Sangir Batang Hari 12.  Abai

13.  Ranah Pantai Cermin

14.  Dusun Tangah

15.  Sitapuih

16.  Lubuak Ulang Aling

17.  Lubuk Ulang Aling Selatan

18.   Lubuk Ulang Aling Tengah

Sungai Pagu 19.  Koto Baru

20.  Pasar Muara Labuh

21.  Pulakek Koto Baru

22.  Sako Pasia Talang

23.  Sako Selatan Pasia Talang

24.  Sako Utara Pasia Talang

25.  Pasia Talang

26.  Bomas

27.  Pasia Talang Barat

28.  Pasia Talang Timur

29.  Pasia Talang selatan

Pauh Duo 30.  Alam Pauh Duo

31.  Kapau Alam Pauh Duo

32.  Luwak Kapau

33.  Pauh Duo Nan Batigo

Koto Parik Gadang Diateh 34.  Pakan Rabaa

35.  Pakan Rabaa Timur

36.  Pakan Rabaa Utara

37.  4 Pakan Rabaa Tengah

 

 

Advertisements

Bukit Pagie

Posted: February 9, 2019 in Perenungan Sastrawi

35522458_10217046725185157_2004983165763977216_n

Anak Talu ka Batang Biyu,

Mati ditinggam biso Pari.

Nak tahu jo padiahnyo “Sambilu”,

pandanglah Bukik Pagi di sanjo hari

 

— di Padangganting, Sumatera Barat, Indonesia.

Mustika Rimba

Posted: February 9, 2019 in Perenungan Sastrawi

44504884_10218068590891161_4600894191541682176_n

Pagi ini saya mulai dgn English Breakfast, tampa Bacon tentunya.

Senyum gadis Denmark menyambut dipintu restauran, seiring dgn bunyi lonceng penanda waktu dari gedung kota tua disamping hotel, yang menelisik melewati para-para, membuat senyumnya begitu dramatis di dinginnya pagi.

Hari ini saya akan menerabas lebih ke utara, ke sebuah desa nelayan kecil dgn perahu-perahu Skandinavia, sandar. Barangkali saya akan menjumpai peradaban viking yang gigantik, sehingga mengantarkan saya pada berabad lampau.

Saya berimajinasi menjadi seorang Moor, jauh dari Minangkabau sana, mempersembahkan mustika rimba raya Sumatera kepada raja lokal sebagai tanda hubungan dagang, mustika itu tak lain dan tak bukan adalah Petai dan Jengkol

— di First Hotel Twentyseven.


44597590_10218085573515716_7558710620653092864_n

Dulu saya bermimpi ke Jakarta, lalu naiklah bus NPM ekonomi, dengan susunan bangku 2-3, dan saya dapat seat di bangku tengah dideretan bangku 3 itu.

Bisakah anda bayangkan, segala macam bau minyak klonyor yg kawin terpaksa dengan bau ketiak yg memintas Lintas Tengah Sumatera, berhari-hari tampa mandi ?.

Bau semerbak itu kadang ditingkahi oleh wangi gadis pelibur dengan bedak viva berbungkus plastik dengan lambang bunga Mawar merah menyala. Bau ini kerap pula bercampur dgn bau minyak angin Tjap Kapak yang Allahurabbi menteror kenyamanan.

Campuran segala bau ini cukuplah utk membongkar isi perut, namun keinginan utk melihat ibu kota, mengalahkan segalanya.

Bertahun kemudian, ketika nasip menculik dan menempatkan di sebuah maskapai terbaik Middle East, kenangan itu muncul seperti tinju yg ditumbukkan kepada jantung kesadaran, bahwa hidup itu adalah pelintasan. Itu sudah….

#MemintasDoha

Syarat Ganteng

Posted: February 9, 2019 in Perenungan Sastrawi

46514278_10218316618051685_416630266006601728_n

Dulu..salah satu “syarat” kegantengan dan maskulinitas, adalah barang ini.

Kalau kita ke warung gerobak dipersimpangan kota, pedagang akan tanya, yang anda mau yang Dalam atau yang Luar ?.

Pilihannya pasti yang Luar karena dua alasan, pertama ; lebih murah pastinya, karena barang seludupan dan kedua ; sensasi “Wah” ketika bungkusnya sedikit nongol di saku belakang celana Levis belel.

Perasaan rasanya sdh seganteng Clint Eastwood menunggangi kuda diperbukitan Texas rasanya.

Saya tahu kalau banyak Cewek-Cewek sebenarnya tidak suka, tapi barang ini tetap jadi simbol kejantanan yang diharapkan membawa efek “Pelet” ketika ia dihembuskan.

Cara menampilkan barang ini juga khas, agar terlihat, pokoknya kalau saya pikir sekarang, hampir se-Norak para Tha Sapeur, para Congo Dandies dlm menunjukkan pakaian branded, meskipun hidup dlm kancah kemiskinan parah.

Intinya, “Mahajankan Tuah” istilah Padangnya, atau “Buang Master” bahasa jalanannya. Geli-geli miris kalau ingat masa-masa itu….

#MangkutakRaunSabalik #MalaccaSyndicate — di Aston Balikpapan Hotel And Residence.

Haruan Bakar

Posted: February 9, 2019 in Perenungan Sastrawi

47576784_10218429092503476_290284856577884160_n

Menurut sahibul hikayat, konon kabarnya Soekarno memutuskan Palangkaraya sebagai calon ibu kota RI setelah lidahnya tak henti ber-Lenso ria, ketika mengecap suguhan dewata, Ikan Haruan Bakar, lengkap dgn pengiringnya.

Karena itulah setimpal kiranya ketika saya memutuskan menyisiri turbulensi langit Pantai Timur Sumatera dari Batam ke Jakarta, dan kemudian memintas Laut Jawa dgn gugusan awan-awan menjelang senja untuk mendarat dan segera berlari menemui kedai ini

#MangkutakRaunSabalik #IkanBakarAlMu’minun — di Komplek Pasar Besar Palangkaraya.

Ironi

Posted: February 9, 2019 in Perenungan Sastrawi

49608135_10218719570525245_5354929597899079680_n

Ironi itu adalah, saya tahu kalau Duku ini tumbuh di tepian Sungai Kumpeh yang sunyi di sudut Jambi, tapi dilapak, ia bernama Duku Palembang,

Selanjutnya adalah, betapa kelelahannya ia mengejar price secangkir Americano ditempat ini, meskipun saya membelinya, hanya beberapa langkah saja dari pintu tiga, tempat ini.

Itu juga hidup, seperti gelombang yg kadang begitu menghempas, namun seketika ia kemudian melambungkan pula ke awan. Kalaulah tidak tahu diri, mungkin akan kehilangan kesadaran akan diri.

#SauakAyiaMandianDiri, #MangkutakRaunSabalik — di Hotel Borobudur Jakarta.


50775311_10218849745899548_2832137748930887680_n

Ada sebuah rahasia hendak saya ceritakan.

Rendang itu lahir sejatinya bukan atas perkalian teknis berbagai bumbu, sehingga ia bisa distandarisasi selayaknya barang hasil industri, yang hidup pada dahaga pasar yg hampir tidak pernah terpuaskan.

Ketinggian cita rasa Rendang, dibangun oleh pertalian perasaan para Bundo Kanduang, Ibu sakti yang menjadi penjaga ke-Minangkabauan, yang menarikan panas api yang yang terbentuk dari kepingan kayu Casiavera yang tumbuh pada gugusan perbukitan dan lembah sunyi, dalam rawatan Tuhan.

Palunan berbagai rempah, ditimbang dengan Rasa dan Periksa, yang memeluk setiap bongkah daging sapi terbaik, yang disembelih dgn kasih sayang.

Pada setiap pergerakan jarum jam sepannjang proses itu, segala filosofi mamangan adat dirawikan kepada gadis-gadis aristokrat, yang sedang bersiap memangku jabatan Bundo itu.

Karena itu kitap resep masakan, bagaimana menghadirkan seni kuliner Padang di meja makan, nyaris tidak berguna. Karena tidak ada kata yang bisa mewakili, sebuah kias yang mewakili keparipurnaan penciptaan rasa nan agung.

Karena itu saya selalu rindu almarhum Nenekku.

Pulang 1

Posted: February 9, 2019 in Perenungan Sastrawi

50470031_10218803926434090_8832059512136400896_n

Mamak alias Paman bagi kami orang Minangkabau, adalah “Ayah Adat”.

Lelaki yg duduk ditengah ini, adalah adik lelaki ibu saya, artinya ia adalah Mamak saya. Ketika Ayah saya meninggal waktu saya masih kecil, ia segera mengambil posisi, menghadirkan sosok lelaki dewasa yg mestinya mendampingi saya melewati hari.

Saya selalu ingat ketika ia membawa saya dan adik ke Kebun Binatang Bukittinggi, sehingga meskipun saya tidak punya Ayah, saya tidak terlalu merasa hidup saya pincang. Ia juga yang di hampir setiap Selasa malam, akan mengajak saya makan di warung Gulai Kambing di pasar Nagari saya, seperti anak-anak lain yang memiliki Ayah.

Meskipun ia tidak bersekolah tinggi, tetapi perannya sebagai Mamak, pembela Ibu saya, kakak perempuannya, sekaligus Ayah Adat, bagi saya, levelnya melebihi Doktor Ilmu Hukum Adat lulusan Leiden sekalipun. Ia jalani takdir adatnya dengan takzim, tampa mengeluh, mendampingi kami tumbuh.

Pagi ini beliau berpulang, purnalah segala tugas Adatnya. Semoga Allah menyediakan tempat yang layak untuk dirinya.

Pulang…2

Posted: February 9, 2019 in Perenungan Sastrawi

51628707_10218962520318838_7361462224654696448_n

Pagi ini, satu lagi Mamak / Paman saya berpulang. Lelaki berkemeja biru ini, adl kakak tertua Ibu saya, yg menjalankan perannya sebagai “Ayah Adat” bagi saya, ketika “Ayah Biologis” saya meninggal saat saya baru menapak angka 2,5 tahun di muka bumi.

Suatu hari, ketika saya akan menjalani “Kutukan Kultural” lelaki Minangkabau, yakni Merantau, ia memanggil saya dgn adik saya keberanda rumah. Suasana demikian mencekam senja itu, dimana remang cahaya membulat di beberapa biji Kemiri yg terhampar ditengah.

Lalu ia berkata “Saya sejak muda, telah mendaki bukit & merancah rimba, mulai dari kota, sampai kedusun ditepi samudra, saya datangi. Hanya karena kalian Kemenakan Saya, maka buah pencarian itu, ingin saya turunkan. Mungkin ini, suatu waktu akan berguna sebagai kawan, ketika nasip mengharuskan kalian tegak di gelanggang.

Kemudian ia meraih tangan kami, sembari mulutnya komat-kamit merapal mantera. Seketika ketika proses itu selesai, ia kemudian meraih beberapa biji Kemiri yg kulitnya, nyaris sekeras batu yg selamat dari gesekan air bah di sungai, disamping kampung kami.

Trak….Tras…!,

seketika telapak tangannya melayang, menghantam kemiri itu, dan benda itu hancur seperti dihantam martil pemecah dinding.

Keterkejutan kami terputus karena ia kemudian menyuruh kami melakukan hal yg sama, bulu roma saya segera menari, bagaimanalah mungkin saya bisa meremukkan Kemiri yg keras Allahu Rabby, hanya dgn sekali tamparan.

Hasilnya tentu dapat diduga, karena Tegak Berdiri Alif saya goyang, sehingga tdk bertemu tangga menuju Ma’rifat, Kemiri itu dgn pongah mengejek tangan saya yang ngilu memerah karena menamparnya, disaat adik saya telah berhasil meremukkan teman-temannya, lima biji.

Akhirnya, saya sampaikan ;

” Sudahlah, karena ini tidak “mangkus” bagi saya, maka biar saya meniti jalan Silat saya sendiri, yakni “Silat Lidah”, dgn itu saya akan hadang, “Rantau Sakti-Laut Bertuah”, Silat Lahir mencari kawan, Silat Batin, mencari Tuhan….”

Hari ini, purnalah tugas beliau sebagai “Ayah Adat” saya, dgn genrenya. Semoga Allah menerima Amal Ibadahnya….Innalillahi Wainnailahi Roji’un….