Archive for March, 2009


Kemegahan Teknologi dan Pemerkosaan Pasar

Sebagian dari naluri paling mendasar yang difitrahkan kepada manusia sehingga manusia menghasilkan karya-karya, adalah rasa lapar, rasa takut dan rasa cinta. Rasa itu kemudian menghantarkan keinginan untuk makan, memproteksi diri dan bercinta. Karena itulah ras manusia bertahan sebagaimana para binatang bertahan ditengah alam. Sehingga jika diskusi berhenti pada posisi ini, maka manusia tak lebih dari binatang atau setidak-tidaknya bernaluri sama dengan binatang dan tentunya inilah yang kemudian melahirkan kata “sifat kebinatangan” sebagai sebuah ungkapan untuk menggambarkan alasan-alasan ketika manusia melakukan tindakan yang tidak jauh berbeda dengan binatang.

Segala kebinatangan manusia memberikan legitimasi absolud bagi keberadaan bangsa malaikat yang secara langsung menjadi kutub lain dari apa yang disebut dengan setan, sumber dari segala sumber kejahatan dan kedurhakaan. Diantara dua kutub malaikat dan setan itulah manusia difitrahkan.

Kata iblis menjadi kata favorit untuk menyumpahi segala prilaku yang kualitasnya melebihi kebinatangan. Sehingga dalam etika menyumpah, menyumpahlah dulu dengan kata sialan dengan sedikit senyuman, setelah itu baru meningkat menjadi binatang, dengan muka merah dan mata melotot. Pada titik didih tertinggi, segala perasaan dan kemarahan mesti terwakili dengan kata iblis yang diucapkan dengan mendesis, tetapi dengan muka dingin. Karena pada titik itu segala rasa sakit yang pernah dikenal oleh manusia telah terlewati dan prilaku yang menjadi penyebab meluncurnya desisan iblis itu menjadi sebab dari akibat aplikatif dari dendam yang akan terbalaskan, cepat atau lambat.

Kembali ke naluri. Setingkat diatas naluri-naluri dasar di atas, berkembang naluri-naluri baru sebagai akibat dari telah terpenuhinya kebutuhan dasar yang ber-ibu pada naluri paling primitive itu. Naluri rasa lapar, rasa takut dan rasa cinta perlahan berangkat pada naluri yang lebih abstrak berupa naluri kuasa, hormat dan bangga. Jika naluri dasar merupakan prasyarat untuk bertahan dan memfisik, kelompok naluri pertama berangkat dari godaan kekuasaan atas jumlah lebih dan kemegahan.

Perdagangan paling primitive dimulai dari pertukaran benda untuk memenuhi dan mempermudah pemenuhan keinginan naluri dasar. Pada posisi ini ayam kemudian bernilai seonggok tembakau. Tetapi perjalanan dalam rangka bertahan akan tuntutan alam ini mengantarkan manusia pada pengalaman, bahwa penguasaan lebih selalu diikuti dengan kekuasaan dan kelangkaan akan diikuti peningkatan harga dan selanjutnya menjadi fondasi tata kuasa. Pada binatang juga ditarik pelajaran tentang wilayah dan kuasa atas kontrolnya. Maka lahirlah apa yang kemudian disebut dengan akumulasi.

Perdagangan paling awal dilakukan untuk mendistribusikan pemenuhan naluri dasar dan berkutat diantara itu. Perdagangan semakin kompetitif seiring dengan berkurangnya barang-barang pemenuh naluri dasar itu. Sebaliknya, bangsa pedagang, pelaku pasar yang liat memiliki rangkaian strategi menarik pembeli pada kondisi melimpahnya barang pemenuh itu. Strategi iklan tradisional berkutat pada memoles dan memoles bentuk barang-barang kebutuhan dasar sehingga rasa lapar, takut dan rasa cinta tereksploitasi sedemikian rupa dan melumasi arus barang dan jasa.

Pada tingkat selanjutnya, perkembangan manusia membawa mereka pada satu kata kemegahan, keinginan atas kemegahan. Kemegahan mengantar mereka pada gaya hidup yang tidak lagi berbasiskan pada kebutuhan dasar. Ketika nafsu yang menjadi bagian integral dari manusia sebagai mahluk antara malaikat dan setan semakin bermain, kehidupan mereka berkutat antara akumulasi dan akumulasi. Berkembanglah hubungan patron klien, hubungan antara yang dieksploitasi dan tereksploitasi. Maka lahirlah perdebatan panjang peradaban yang bernama kapitalisme.

Pasar yang elastic dengan idiologi akumulasi capital dan ekspansif, melahirkan megatrend yang telah meninggalkan kebutuhan dasar sebagai moral dan ukuran utama. Megatrends itu bernama Gaya Hidup. Jika akumulasi ingin menggunung dan ekspansi selaju petir, maka ubahlah gaya hidup sebuah bangsa dan eksploitasi sedemikian rupa kemegahan menjadi kebutuhan dasar dan jungkir balikkan tata nilainya.

Industrialis dan Trader telah berhasil memupuri kebutuhan akan komunikasi dan informasi regular sebagai sebuah kebutuhan layaknya makan. Pada keadaan itulah industry Handpone mendapat tempat dan konsumen bertumbuhan seperti jamur dimusim hujan. Tetapi pasar tak ingin stagnant, kemudian berhenti dan mati pada posisi itu. Karena itulah, ego kemegahan manusia harus di-bensini kemudian dipantik, sehingga menimbulkan ledakan. Ego untuk lebih megah dari orang lain harus menjadi bagian strategis yang harus diekploitasi agar pasar tetap pada hukumnya, eksploitasi dan ekspansi, jika tidak, maka ia mati.

Handpone adalah monument nyaris sempurna dari evolusi teknologi informasi. Ialah anak kandung dari tata nilai pasar yang lahir pada situasi kabur antara “KEBUTUHAN” dan “KEINGINAN”. Jarak antara bangunan “kebutuhan” yang berfondasikan pada naluri dasar dengan “keinginan” yang bersendikan kemegahan, mengabur kemudian melamur dilamun derasnya iklan. Sebagai bagian dari ritual pasar, maka dilangsungkanlah kawin paksa antara anak emas Kapitalisme dengan anak revolusi Sosialisme. Perkawinan produk handpone sebagai alat dasar akumulasi capital dengan komunitas pemakainya dengan kebanggaan kamilah komuniti pemakai handpone ini, yang bergengsi, sebagai entitas social yang tertelentang, terkangkang, siap diperkosa pasar.

Pada titik itu, pasar telah bekerja dengan strategi paling sempurna yakni sentuhlah naluri kemegahan mereka, kemudian penetrasilah tata nilai kebutuhan dasar, biakkan ego, maka akumulasi capital akan tumbuh dengan sendirinya, tidak menunggu, tetapi produk andalah yang akan ditunggu.

Saat itu anda telah menyentuh kenop detonator kemegahan mereka dan bersiaplah akan permintaan benda-benda gaya yang sulit dihentikan. Ini akan semakin meyakinkan anda pada mantra “pasar tak beridiologi” dan jadilah nabinya. Karena sesungguhnya anda bekerja pada kata ruang ketamakan manusia, sebagai mahluk yang harus memilih kutub, karena ia lahir, tumbuh, besar dan mati diantara malaikat dan setan.

Sudut Atas Rumahku.

1 Maret 2009

Advertisements