Pekanbaru…apa yang saya kenang

Posted: April 16, 2019 in Photo Essay

57210662_10219484949859250_873601300103692288_o

Pekanbaru…apa yang saya kenang tentang Pekanbaru ?.
Dulu zaman sekolah, betapa hebatnya kawan yang liburan dikota ini. Ketika ia pulang liburan dgn sepatu Spotex & ikat pinggang Dunhill yang dibawa dari kota ini, rasanya ia langsung naik kelas sosial, krn selain terkesan tajir, ia seperti baru kembali dari episentrum sebuah kota Metropolis, pusat modernitas. Pokoknya hebatlah…
Bertahun kemudian, krn pekerjaan, kerapkali saya singgahi kota ini. Saya sambangi berbagai tempat yang menjadi buah cerita kawan sekolah yang pulang liburan dulu. Namun seluruh ekspektasi saya yang berasal dari cerita-cerita kawan sekolah dulu, menjadi biasa. Saya harus menemukan satu cerita lain tentang kota ini, sehingga rasa asing tidak menerkam saya.
Cerita tentang beberapa mantan pacar yang kemudian memilih hidup bersama Cintanya dikota ini, tentu akan menjadi satu alasan yang berbahaya digunakan utk memintas sebagai “Panggaleh Babelok” ke kota ini.
Akhirnya setelah sekian lama, saya kemudian menemukan Icon-Icon kota ini, sebagai pemantik kerinduan. Selain tentang sebuah perkawanan produktif dgn beberapa “Parewa” kota ini, saya kemudian menemukan deretan penjual komoditi Iconic yang sekian lama terabaikan dlm gemuruh industri Migas, Pulp & Oil Palm.
Komoditi itu adl KERUPUK JENGKOL alias JENGKI & KERUPUK “LEWAS” UBI.
Komoditi ini sungguh sejalan dengan ide Green Economic yang sedang digadang-gadang oleh banyak kalangan kali ini. Akibatnya, saya mengimajinasikan, bagaimana kalau kita “Jengkol”-kan sebuah Kabupaten yang mendeklarasikan diri sebagai daerah lestari. Mungkin dengan mengkonversi produk perkebunan yang telah jatuh harganya dipasar internasional, dgn pokok-pokok Jengkol yang menghampar permai, dan valuasi ekonominya mungkin akan dapat menggerakkan ekonomi sektor rill didaerah itu (ah…ketinggian ngomongnya).
Tapi intinya begini, tidak lengkap rasanya kalau anda ke Pekanbaru, jika tidak membeli dua jenis kerupuk, mutiara peradaban ini. Kapan perlu, anda bayar satu site di pesawat utk meletakkannya agar tidak remuk dibagasi, namun jika anda cukup nekat, maka baik kalau anda meminta tolong Pramugari untuk memangkunya, karena mereka begitu telaten mengamankan kerupuk yang baru anda beli disatu ruas jalan menuju Pasar Bawah ini. — di Pantai Nongsa Beach.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s