Potongan cerita novel “Melati Dalam Prahara Perang Saudara”, karya : Andiko Sutan Mancayo.

Posted: March 11, 2019 in Bukuku, Cerpenku, Uncategorized

……….Nah, Agam adalah sebuah daerah yang demikian indah. Terbentuk oleh susunan perbukitan yang menopang dua gunung tinggi, seperti paku bumi Minangkabau pada belahan ditengah Sumatera. Nagari-nagari tumbuh pada lembah-lembah datar dimana pesawahan kerapkali penuh padi kuning menghampar, dan sepotong Ngarai yang terbentuk karena patahan kulit bumi, dimana ditengahnya mengalir sebuah sungai dengan air jernih. Negeri sejuk diketinggian ini, dipenuhi oleh bunga-bunga yang selalu mekar di sepanjang hari. Kalaulah tidak bunga ros, tentulah bunga dahlia, dimana disela rumpunnya, tumbuh pula Melati yang semerbak, mewangi.

Orang-orang Agam adalah orang-orang intelek, karena sejak lama Pendidikan agama dan Pendidikan rakyat, ataupun Pendidikan ala barat yang dibangun pemerintah Kolonial telah ada didaerah itu. Bahkan banyak pemuda-pemuda Minangkabau, yang kemudian yterlibat dalam memerdekakan negeri, mendapat Pendidikan di Bukittinggi. Salah satu sekolah yang paling terkenal di Sumatera Tengah saat itu, bernama sekolah Radja. Mulai dari Hatta, sampai ke Tan Malaka, memulai sekolah disana.

Tidak hanya para lelaki, perempuan-perempuan Agam telah sejak lama mendapat Pendidikan Tinggi, baik Pendidikan keterampilan kewanitaan, Pendidikan keagamaan, begitu pula Pendidikan ala barat. Kekalahan Paderi dan masuknya pemerintahan administrative Kolonial Belanda ke dataran tinggi Minangkabau, Padangsche Bovenlanden, yang salah satunya disebut dengan Agam Plateuw, membuka pintu bagi Pendidikan ala barat, atau setidaknya Pendidikan bagi orang-orang yang akan menempati posisi-posisi structural pemerintahan colonial yang akan berdiri. Maka terkenallah satu Nagari dipinggir Ngarai Sianok, dimana di nagari itu lahir para intelektual dan elit-elit birokrasi pertama Minangkabau. Mulai dari Guru, Jaksa, Pejabat Kolonial, Tokoh Pers, Tokoh Perempuan, sampai ke Konglomerat di Zamannya, lahir dari sana. Nagari itu adalah Koto Gadang, dimana satu pendiri Republik, Haji Agus Salim berasal.

Tanah Agam adalah tanah yang subur. Sejak ribuan tahun, Gunung Marapi, sebuah gunung purba aktif dengan ketinggian 2.891 dari permukaan laut, dengan leluasa menaburi dan melantai lembah-lembah permai itu dengan butiran-butiran kesuburan, dimana segala tumbuhan yang ditancapkan, akan bisa dipastikan berbuah. Bunga-bunga bermekaran dalam palunan sejuk dingin cuaca yang terbentuk dari persekutuan jernih air yang menyembur dari setiap lubuk, merambati urat-urat sungai dilembah, dengan gugusan awan yang berarak anggun, yang mengatapi negeri itu kala panas datang.

Keindahan bunga-bunga mekar dan wangi pepadian dan buah yang begayut pada tiap ranting, pada pohon yang tumbuh ditanah potongan surge itu, membias ke wajah gadis-gadis yang terlahir disana. Kejelitaannya adalah alasan pertama kenapa para pemuda mesti “Menghitung Kasau” di malam-malam buta. Kecantikan itu makin mengaristokrat karena diletakkan pada tingkat Pendidikan yang tidak biasa, dimana kecerdasan itu tumbuh sejak dari buaian, tapian tempat mandi, majelis-majelis adat para Bundo Kanduang, Surau tempat mengaji, hingga sekolah yang hanya bisa dimasuki oleh para bangsawan, orang kaya, anak orang terpandang dan orang pilihan.

Aristokrasi, Kecerdasan dan Kejelitaan yang membungkus gadis-gadis Agam ini, kemudian membuat Lie Tek Swie, seorang sutradara Tiong Hoa, bersama Tan Film, produser film era colonial, merilis sebuah film berjudul “Melati Van Agam” pada tahun 1932. Film ini bercerita tentang Norma, seorang perempuan Intelek, Jelita dari Agam, namun ironisnya, ia malang dalam dunia percintaan. Kasihnya terhadap Idrus, mesti terpenggal, karena Idrus hanyalah Buruh Tambang di Sawahlunto. Tidaklah mungkin berdampingan dengan Si Melati Van Agam yang termashur. Perkawinannya dengan Nazaruddin, lelaki pilihan Orang Tua, pemenang dalam perebutan itu, mesti berakhir dengan perceraian dan kematian. Norma meninggal dan dikuburkan bersisian dengan pusara Idrus yang telah berpulang terlebih dulu, dan tragisnya, Nazaruddin, menyaksikan arwah dua sejoli yang cintanya terpenggal di dunia, bergandengan tangan menuju Surga.

Nah, meskipun Sembilan dari Sepuluh perempuan yang melintas di Pasar Lereng Bukittinggi, setiap hari pekan, nyaris seperti replica Norma, Sang Melati Van Agam, tidak sedikitpun membuat hati Rusli berdesir. Dalam kesibukannya, sepi kerapkali memerangkap, sehingga keindahan alam dihadapan asramanya di tepi ngarai, nyaris seperti terror saban hari. Jauh dilubuk hatinya, satu nama telah berbilik, dialah Rakena….Yah Rakena…Kenapa senyum perempuan itu, seolah selalu menjadi jawaban segala impiannya tentang perempuan masa depan.

Batam & Pontianak, 11 Maret 2019

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s