MENIKAM JEJAK DI JANTUNG SUMATERA

Posted: December 12, 2018 in Cerpenku

MENIKAM JEJAK DI JANTUNG SUMATERA

Oleh : Andiko Sutan Mancayo

Dua lelaki tua itu saling bertatapan. Terpaan angin dingin Bukitinggi kala senja jatuh mengantarkan sendu menelisik, merambati bunga anyelir yang memucat di samping pintu. Sepuluh menit lalu ada desisan tertahan, ketika sebuah ketukan di pintu mengiring “Assalamualaikum….!!”. Bergegas si tuan rumah beranjak dan memutar gerendel pintu. Di hadapannya kini, berdiri seorang lelaki dari jauh, sama tuanya, dimatanya bergayut kerinduan.

Seketika, seperti di Eri sebuah bioskop tua di pasar Bawah Bukittinggi, kenangan terhampar pada jarak satu setengah meter yang membentang diantara keduanya. Bunyi tembakan mitraliur dan ledakan mortar yang memekakkan telinga, seolah berlari disela-sela mereka. Kedua lelaki itu menarik nafas tuanya. Demikian lama waktu melemparkan pada sisi-sisi dunia dengan peradaban berbeda. Lelaki yang mengetuk pintu itu, demikian rapih menyimpan perjalanan pada keremangan malam di perpustakaan tua universitas di Illinois Amerika, sementara itu yang berdiri dengan dada serasa pecah, di pintu itu, berpuluh tahun menyaksikan zaman telah mencoba mengubur cerita mereka.

Pada helaan nafas kesekian ketika kerinduan tak jua mencair diantara mereka, tiba-tiba sebuah tempat bernama Gang Kenanga hadir. Gang Kenanga, ya Gang Kenanga !. Ditengah rerimbunan rimba tropis Sumatera, pada sepotong tanah di perbukitan, diantara tebingnya yang curam, mengalir batang Kumpulan yang tenang. Seperti nama sungai kecil itu, tempat ini berada dalam kekuasaan Sibunian  Kumpulan, sebuah daerah penuh durian hutan yang berjarak beberapa puluh kilometer dari Bukitinggi, menyusuri jalan sempit berliku menyisiri pinggang perbukitan dan diujungnya terhampar Kota Kecil bernama Lubuk Sikaping, pintu masuk ke Tapanuli Selatan.

Yah, disanalah lelaki sederhana tetapi sekokoh karang, saleh dan pemimpin partai Masyumi penentang Sukarno mendirikan pondok, mengungsi !. Yah ketika jantung Sumatera bergolak.

“Saat itu situasi politik penuh dengan teror,” Natsir mulai bercerita.”Kami orang-orang yang anti komunis diteror. Rumah saya didatangi puluhan orang-orang Pemuda Rakyat yang diangkut dengan truk. Usaha kami melaporkan diri kepada yang berwajib sia-sia saja. Akhirnya kami merasa Jakarta bukan lagi tempat yang tepat bagi kami. Kami ke Sumatera. Di sana muncul ide-ide perlawanan. PRRI itu gerakan perlawanan terhadap Soekarno yang sudah sangat dipengaruhi PKI. Melihatnya tentu harus dari perspektif masa itu. Ini masalah zaman saya, Saidi. Biarkanlah itu berlalu menjadi sejarah bahwa kami tidak pernah mendiamkan sebuah kezaliman.” (M. Natsir dalam Perspektif Kini — Oleh: Ridwan Saidi).

Pada memori tua kedua laki-laki disenja itu masih terpahat sebaris kenangan, seperti kemarin baru terjadi. Ya kemarin, waktu terlalu cepat berlari. Lelaki tua yang tegak di pintu itu, kembali menatap nanap. Seperti operator pemutar film hitam putih di bioskop tua, kenangan kembali melintas ketika ia menjadi kurir Sang Pemimpin yang akrab disapa dengan Pak Imam, ketika perang saudara itu berkecamuk. Seorang kawan yang kini dihadapannya setengah abad silam hidup terpisah-pisah hanya suara merdu indah seorang penyiar radio yang dia dengarkan dari kedalaman rimba Sumatra. Kini hadir di hadapan mata. Selintas mata tua itu berkabut.

Melintas dibenaknya ketika memintasi Aia Kijang dan merenangi Batang Masang, sungai purba yang menandai peralihan zaman di daerah itu, jauh sebelum Imam Bonjol mengangkat pedang melawan Belanda. Ketika langkah-langkah muda mengejar Tenggara, memintas dan menembus rimba. Ditengah belantara Sumatera yang penuh dengan bunyian remang binatang rimba dan semua penghuninya yang kasat maupun maya, terbentanglah dihadapan sebuah dataran tebing yang ditumbuhi pepohonan perdu berbunga wangi sewangi Kenanga. Maka terbesutlah kata sandi untuk persembunyian itu sebagai Gang Kenanga. Tempat berdiam DR Mohammad Natsir dengan rombongan kecil keluarga dan para shahabat setia. Ya… Gang Kenanga…!!.

Lelaki sederhana dan teguh itulah yang memerintahkannya menjadi kurir.

Bukittinggi semakin lengang, tapi lengang seperti terusik karena seulas senyum yang tak pernah berubah karena masa, lelaki yang datang dari jauh itu tersenyum kecil seperti senyum nabi. Maka runtuhlah sekat kenangan itu. Lelaki tua di pintu itu terguncang…!. Meskipun waktu telah memakan jasad, melamurkan mata. Tetapi lelaki di tangga, dihadapannya adalah tetap sahabat kecilnya dari palunan rimba raya Sumatera. Mereka berangkulan. Ada sesak yang menggayut di tenggorokan memerihkan mata membersitkan airmata haru kerinduan yang tak terkatakan. Lebur sudah…

Malam semakin mendaki lereng Ngarai. Pada jalan berliku di sisinya, keremangan terjebak di mulut lobang Jepang. Bunyi uwir-uwir, jangkrik membangun orkestra dengan partitur melagukan shimponi kenangan. Telah berpuluh tahun tembakan berhenti menggema mengganggu senja yang sakral. Malam telah berganti siang, siang telah berganti masa, kota ini sarat sejarah. Kedua lelaki itu saling tatap dan kedua pasang mata itu berhenti pada kepulan uap kopi Bukit Apit di atas meja.

Cerita-cerita begitu sesak berhamburan ingin keluar dari mulut tua mereka. Seperti tidak sabar ingin memperadukan batu kisah denting alur perjalanan sejak dari jantung Sumatra yang rengkah karena perang hingga terpisah jarak jutaan kilometer separuh putaran bumi karena nasib menggariskan demikian akibat perang saudara itu. Raut wajah saling bertukar cepat antara sedih ketika kawan seperjalanan dahulu telah lama berpulang. Mata berair karena kelucuan yang terjadi diantara pekikan monyet rimba yang mengetawai perjalanan di rimba dahulu. Kekesalan yang jelas meronai oleh kenyataan kawan seiiring menggunting dalam lipatan. Tentunya raut pasrah dan sabar akan garisan yang Maha Kuasa atas nikmat kehidupan yang dihembuskan dikehidupan romantika mereka berdua.

Lilitan syal tebal semakin dieratkan di leher mereka seiring belaian udara dingin menusuk khas Bukittinggi. Kehangatan kopi sedikit membantu meneruskan kisah demi kisah perjalanan masing-masing yang saling terlempar jauh oleh jarak dan waktu. Dengung merdu irama Si Tukang Saluang sesayup-sayup sampai seolah-olah menemani mereka seperti sebuah orchestra live sang maestro. Lirih membelai udara dingin dari pelataran Jam Gadang yang tetap gagah menatap Merapi dan Singgalang. Monumen sejarah yang telah sarat menyaksikan pembantaian demi pembantaian memupuk tanah sekitarnya dengan genangan demi genangan darah para pejuang, kawan sesama bermain mereka dahulu.

Pertemuan singkat yang terasa semakin singkat karena rindu yang belum pecah semua. Kisah-kisah masih bergumpalan di dada lupa dan terlupakan ingin didendangkan bersama harus terhenti oleh sang waktu dan dingin yang memaksa mereka mengurai pertemuan itu sampai disana. Berjalan beriringan dan kemudian menyimpang jalan. Hingga larut ditelan kelam malam, pertemuan bersejarah itupun usai. Rembulanpun malu mengintip membuntuti langkah-langkah tua yang menyisakan semangat muda di masa tua berjalan lamat-lamat kembali ke zaman nyata.

(Cerita imajiner pertemuan 2 tokoh PRRI, Mak Ngah Sjamsir Sjarif dengan Papa Rina H. Djasri. S)

Jakarta, 10 Januari 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s