Pada Sebuah Ziarah : Catatan Perjalanan Pertama Ke Limboro

Posted: April 27, 2013 in Uncategorized

Pada Sebuah Ziarah : Catatan Perjalanan Pertama Ke Limboro

Dalam belaian angin gersang
di atas bukit nan sepi
engkau terbaring
dalam tidurmu yang lelap

dalam temaram senja kelabu
di sisi lorong yang sepi
engkau tertidur
di kesunyian abadi

(Pusara Tak Bernama dari Black Sweet Papua)

Sore ini berlari mengejar senja, bukit dan gunung-gunung curam mulai tersapu kelam ketika segenap kenangan berlari menyusuri jalanan di bibir pantai Teluk Palu. Hujan tumpah dari sepotong langit Sulawesi Tengah seperti menanyanyikan sebuah lagu jauh dari masa lalu dari tanah Papua. Kali ini aku larut pada sebuah ziarah, ketika riak bertepuk dengan air yang mengucur dan lidahnya menjilati tepian karang, dimana segala hal telah dipahatkan.

Aku berlari dalam kenangan bait-bait lagu pusara tak bernama itu, ketika jasad yang terbaring telah menghadapi kefanaan kodrat Manusia, tetapi segala apa yang dipikir dan dijejakkan, untuk rakyat, sepanjang masanya ada, tetap menyala di dada-dada mereka yang tersentuh kehadirannya. Lelaki itu duduk bersandar di bawah pohon rindang yang meneduhi pusaranya, dipangkuan terbentang segala cerita tentang negeri.

Bagaimana kabarmu bang….? dan aku mulai ziarah dengan cerita kampung-kampung berguguran tersapu angin perubahan, berhembus kencang dari barat ke timur dan gelombangnya semakin mendekat ke pangkuannya.

“Ekspansi pertambangan di Kabupaten Morowali dalam waktu 5 tahun terus meningkat secara signifikan. Tercatat jumlah IUP mencapai 189 yang diterbitkan Bupati Morowali, dan itu merupakan akumulasi dari perusahaan pertambangan yang ada di sana, tetapi hanya 77 IUP yang masuk kategori clean and clear,” jelas Koordinator JATAM Nasional, Andri Wijaya dalam siaran pers yang diterima Sindonews, Rabu (12/12/2012),

begitu aku kabarkan padanya..

Sejenak lelaki setengah baya itu melayangkan pandang pada teluk yang lama tenang yang perlahan mulai bergolak. Ah…pembangunan dan pembangunanisme…sejenak lelaki itu bergumam dan seketika detak jantungku melambat diantara dua kata itu.

Tahukah kau ujarnya, sebuah kata apalagi kata pembangunan tidak akan berhenti pada makna kebendaan yang ditanggungnya sebagai sebuah kata benda yang berisikan proses dan usaha untuk meningkatkan kehidupan ekonomi, politik, budaya, dan kemaslahatan serta kesejahteraan manusia. Akan tetapi pada perkawinannya yang memparipurna dengan “isme” dimana segala piranti kekuasaan kemudian menyokongnya, ia kemudian mengidiologi dan disitulah kita mulai cerita pada kedatanganmu kali ini, ujar lelaki itu ketika angin senja mendesau disela kusut masai rambutnya.

Pembangunan sebagai sebuah “isme” yang kemudian men “taqlid” menjadi sebuah kepercayaan dan disitu keyakinan berdiri tegak, tentu akan menebarkan berbagai kisah romantic, heroic sekaligus melodramatik dimana manusia meniti jembatan perubahan menuju jalan yang terang, namun kerapkali tersesat pada demikian banyak jebakan fatamorgana, dan ketika kata pembangunan itu tak berjiwa selain penghambaan pada pertumbuhan, maka disitu ia tidak akan pernah mengabdi pada jalan dan fitrah kemanusiaan.

Pembangunan-isme meletakkan dasar kemodern-an pada tata nilai dan ruang mimpi yang jauh berjarak dari pada mimpi-mimpimu, sebagai sebuah negeri yang telah melewati mimpi buruk kolonialisme, maka kemerdekaanmu akan mimpi tentang kesejahteraan, adalah mimpi dan deret itung para tuan, sehingga tak relefan memang berbicara tentang kearifan, karena disitu tata pasar akan berhenti bekerja.

Tahukah kau, tukasnya…..sebuah isme beribukan wacana yang menghegemonik dengan reproduksi pengetahuan yang massif dan kerapkali berkait kelindan dengan kekuasaan. Karena itulah, seperti yang Mansoer Fakih tuliskan, dominasi sebuah wacana bukanlah bentuk sederhana dari pertarungan abadi tentang sesuatu yang benar atau salah, tetapi tentang sebuah ketelanjangan power dan kekuasaan yang dimiliki oleh sipemilik wacana itu sehingga pembangunan sebagai sebuah jalan selamat yang dijanjikan, menjadi sebuah isme, mengidiologi yang bermandikan fanatisme, totalitas dan kerapkali brutal untuk sebuah perubahan social yang tata nilainya telah lebih dulu ditakar dari jantung wacana itu.

Sedikitnya 32 tahun barang kali kita begitu taqlid kepada kata pembangunan ini dan ia mantera yang menyapu kesadaran, sebagaimana makna yang dikandung oleh taqlid itu sendiri, tangan-tangan kuasa pemaknaan telah mengalungkan kalimat itu sedemikian rupa, mencuci akal sehat dan bahkan kerapkali membutakan nurani. Ternyata hari ini, hiruk pikuk itu tak berhenti, tetapi justru semakin menjadi-jadi, sergahnya dan aku terpaku di nisan itu.

Lelaki itu kembali memantik evolusion merah keduanya….”aku merindu” katanya. Sejenak ia sandarkan segala kenangan pada pokok pohon yang menaungi pusara di perbukitan Limboro itu, dan jalanan menjelang magrib, terlihat lengang.

“Aku rindu pada gelegar gema preambule konstitusi yang dikumandangkan tunas-tunas bangsa dengan fasih saban kali upacara bendera…….”, kemudian lelaki itu mendesiskannya, sendu, layaknya pemuda belia ditinggal kekasih

“Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.”

“Tahukah kau wahai anak Jakarta (begitu sebutan terakhirnya kepada kami), bagaimana kita maknai merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur ketika ibu pertiwi tak henti dijarah. Bagaimana kita wariskan negeri yang akan segera kering kerontang ketika kita memperlakukan tanah dan air, seperti kuda tua yang tersasar di kerumunan para srigala !” dan mereka seperti zombie melafalkan kata pembangunan seperti layaknya mantera.

Sungguh aku mencoba memahami apa yang dipikirkan Soepomo ketika ikut mendirikan negeri ini, ujarnya sembari membolak-balik risalah sidang BPUPKI, ketika malam hampir saja menyentuh ketinggian itu.

Baiklah, aku bacakan, katanya…

“ Negara ialah suatu susunan masyarakat yang integral, segala golongan, segala bagian, segala anggotanya berhubungan erat satu sama lain dan merupakan persatuan masyarakat yang organis. Yang terpenting dalam Negara yang berdasar aliran pikiran integral ialah penghidupan bangsa seluruhnya. Negara tidak memihak kepada sesuatu golongan yang paling kuat, atau yang paling besar, tidak menganggab kepentingan seseorang sebagai pusat, akan tetapi Negara menjamin keselamatan hidup bangsa seluruhnya sebagai persatuan yang tak dapat dipisahkan. (Yamin I, 1959;111). Menurut pengertian Negara yang integralistik, sebagai bangsa yang teratur, sebagai persatuan rakyat yang tersusun, maka pada dasarnya tidak ada dualism “Staat dan individu”, tidak akan ada pertentangan antara staat dan susunan hokum individu, tidak aka nada dualism, “staat und staatfreier Gesellschaft” (Negara dan masyarakat bebas dari campur tangan Negara). (Yamin, I, 1959 :114)”, (dlm Adnan Buyung Nasution, 2001)

Barangkali apa yang dia katakan adalah bangunan ideal dan keniscayaan akan sebuah entitas politik bernama Negara dipenghujung kolonialisme yang segera tersapu oleh badai nasionalisme yang membawa Negara bangsa jauh dari seberang lautan, sebuah masyarakat baru yang segera berdiri tegak, kokoh dan berwibawa pada panggung tata dunia baru.

Namun demikian kemerdekaan barangkali memang memenggal secara politik dan deyure sebuah masa yang secara heroic telah dibenamkan pada lembar gelap sejarah, namun sekaligus menjadi jembatan bagi mental anomali yang bertiwikrama dan melanjutkan epic colonial itu. Faktor itulah yang tak dihitung, dimana bangunan Negara itu rentan diperkuda untuk kepentingan yang jauh dari cita-cita bersama, dimana diatas itu, negeri ini berdiri. Kemudian lelaki itu tafakur, menghela nafas untuk kembali pada keheningan perjalanannya dan aku tahu itulah masa dimana aku harus pergi.

“dalam temaram senja kelabu, di sisi lorong yang sepi, engkau tertidur, di kesunyian abadi”

Palu, 8 April 2013

Advertisements
Comments
  1. vince says:

    terharu… sy bknlah seorang aktifis seperti “dia”, hanya masyarakat biasa yg pernah merasakan arti kehadirannya, luar biasa caranya berbicara dan memperlakukan siapapun… bapakku hanya seorang petani pelosok tp bapakkkupun mengenalnya.. bung Hedar Laudjeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s